Suasana pagi di Dusun Plosorejo, Desa Kaliploso, Kecamatan Cluring, Banyuwangi, tampak lebih ramai dari biasanya, Senin (13/7). Sejak pukul 08.30 WIB, halaman dan teras rumah Kamituwo Plosorejo, Suryo Hadi, di RT 02 RW 02 mulai dipenuhi warga.
Sebagian mengantre untuk menjalani pemeriksaan kesehatan, sebagian lagi berbincang santai sambil menunggu giliran di teras rumah tetangga yang menghadap hamparan kebun pepaya California.

Di rumah berhalaman luas itulah Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP) Lestari 1 kembali menggelar pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Bukan hanya balita dan ibu hamil seperti yang selama ini identik dengan posyandu, tetapi seluruh kelompok usia, mulai dari bayi, anak-anak, remaja, usia produktif, hingga lansia.
Giat tersebut turut dihadiri Field Facilitator NIHR Universitas Brawijaya (UB) bersama enumerator baseline survey Desa Kaliploso, Rahmanurraudhotul Amin, SKM, untuk mengamati langsung pelaksanaan pelayanan kesehatan berbasis masyarakat yang kini menjadi bagian dari transformasi layanan primer Kementerian Kesehatan.
Transformasi inilah yang melahirkan Posyandu ILP. Konsepnya sederhana, tetapi berdampak besar, yaitu menghadirkan layanan kesehatan yang lebih dekat, lebih menyeluruh, dan mengikuti siklus kehidupan masyarakat.

Dengan demikian, posyandu tidak lagi menjadi ruang layanan yang hanya diperuntukkan bagi ibu dan anak, melainkan menjadi titik temu seluruh warga untuk menjaga kesehatan sejak dini.
Pelayanan berlangsung berkat kolaborasi enam kader Posyandu Lestari 1, yakni Diandra, Mila Niftakhis, Siti Mudawimah, Sundari, Susriyati, dan Veronika Rosi Rosalia. Mereka bekerja berdampingan dengan dua bidan desa, Dian Novita Rahayu, A.Md.Keb., dan Dika Mitra Sari, A.Md.Keb., serta didukung Pembantu Pembina Keluarga Berencana Desa (PPKBD), Mega Ayu Widia Retno, S.ST.Keb.
Sejak warga tiba di lokasi, alur pelayanan berlangsung tertib. Mereka terlebih dahulu melakukan pendaftaran dan menerima nomor antrean sesuai kelompok usia. Selanjutnya, kader melakukan pengukuran antropometri, mulai dari berat badan, tinggi badan atau panjang badan, lingkar kepala, hingga lingkar lengan atas bagi balita dan ibu hamil.

Hasil pemeriksaan kemudian dicatat dalam Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) maupun sistem rekam medis elektronik. Pada tahap ini, kader juga melakukan wawancara singkat dan skrining kesehatan dasar sebelum warga memperoleh pemeriksaan lanjutan dari tenaga kesehatan.
Jenis layanan yang diberikan disesuaikan dengan kebutuhan setiap kelompok usia. Pada klaster ibu dan anak dilakukan pemeriksaan kehamilan, imunisasi, serta pemantauan tumbuh kembang anak. Sementara bagi kelompok usia dewasa dan lansia, tersedia pemeriksaan tekanan darah, gula darah, kolesterol, hingga deteksi dini penyakit tidak menular (PTM).
Setelah seluruh pemeriksaan selesai, warga memperoleh penyuluhan kesehatan atau Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) berdasarkan hasil pemeriksaan. Apabila ditemukan faktor risiko tertentu, tenaga kesehatan juga memberikan terapi atau obat sesuai kebutuhan.

Pada pelaksanaan kali ini terdapat layanan tambahan berupa skrining dan imunisasi Tetanus Toksoid (TT) bagi Wanita Usia Subur (WUS), sebagai bagian dari upaya pencegahan penyakit yang terus diperkuat di tingkat desa.
Menurut Bidan Dian Novita Rahayu, wilayah kerja Posyandu ILP Lestari 1 meliputi RW 01, RW 02, dan RW 03 di Dusun Plosorejo. Masing-masing RW terdiri atas tiga RT. Secara keseluruhan, Desa Kaliploso memiliki empat posyandu, yakni tiga posyandu di Dusun Plosorejo dan satu posyandu di Dusun Kalirejo. Setiap posyandu diperkuat oleh enam kader yang menjadi ujung tombak pelayanan kesehatan masyarakat.
Menjelang pukul 11.00 WIB, layanan Posyandu ILP Lestari 1 ditutup. Sebanyak 43 warga berhasil memperoleh pelayanan kesehatan, terdiri atas 23 balita, empat anak prasekolah, satu ibu hamil, tiga ibu menyusui, satu pralansia, dan sebelas lansia.

Di balik angka-angka tersebut tersimpan makna yang lebih besar. Posyandu ILP bukan sekadar agenda pemeriksaan kesehatan rutin, melainkan ruang gotong royong yang mempertemukan kader, tenaga kesehatan, pemerintah desa, dan masyarakat dalam satu tujuan, yakni memastikan setiap warga memperoleh layanan kesehatan yang mudah dijangkau sepanjang perjalanan hidupnya.
Dari teras sebuah rumah kamituwo di Plosorejo, semangat menjaga kesehatan bersama itu terus tumbuh. Sebuah ikhtiar sederhana yang membuktikan bahwa pelayanan kesehatan yang berkualitas tidak selalu harus dimulai dari gedung besar, melainkan dapat berawal dari kedekatan, kepedulian, dan kebersamaan masyarakat desa. *** [130726]
Oleh: Budiarto Eko Kusumo | Editor: Budiarto Eko Kusumo