Dari Laboratorium ke Enumeration Area: Ketika Farmakogenetika Membuka Jalan Baru Pengobatan Hipertensi

What’s rewarded in science is dissemination of ideas“. Begitulah Paul Romer, ekonom Amerika peraih Nobel 2018, menggambarkan hakikat ilmu pengetahuan. Sebuah penelitian tidak berhenti ketika hasilnya dipublikasikan dalam jurnal ilmiah. Nilai sesungguhnya justru lahir ketika pengetahuan itu keluar dari ruang laboratorium, dipahami masyarakat, dan mengubah cara hidup manusia menjadi lebih baik.

Semangat itu terasa begitu nyata di Aula Kelurahan Kepanjen, Kabupaten Malang, Rabu (22/7). Ruangan yang biasanya digunakan untuk pertemuan warga hari itu menjadi tempat bertemunya para peneliti, tenaga kesehatan, perangkat desa, dan kader kesehatan dari SMARThealth enumeration area (Sidorahayu, Karangduren, Kepanjen, Gondanglegi).

Sambutan dari Tim Peneliti ISPF

Mereka berkumpul bukan untuk membahas teori yang rumit, melainkan untuk mengenalkan sebuah pendekatan baru dalam pengobatan hipertensi: farmakogenetika, ilmu yang memungkinkan obat disesuaikan dengan karakter genetik setiap orang.

Selama dua tahun terakhir, Tim Peneliti Farmasi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FKUB) bersama Manchester University mengembangkan penelitian bertajuk Development of Precision Medicine-Based Anti Hypertensive Therapy for Controlling Cardio Disease Risks in Rural Populations in Indonesia.

Penelitian yang didukung International Science Partnerships Fund (ISPF) British Council ini mulai mengumpulkan data sejak Agustus 2024 dengan tujuan menghadirkan terapi antihipertensi yang lebih presisi bagi masyarakat pedesaan di Indonesia.

Mengapa penelitian ini penting? Karena hipertensi hingga kini masih menjadi salah satu persoalan kesehatan terbesar di Indonesia. Penyakit yang dijuluki silent killer ini sering berkembang tanpa gejala, tetapi diam-diam meningkatkan risiko stroke, serangan jantung, hingga gagal ginjal. Ironisnya, meski telah mendapatkan obat, tidak semua pasien menunjukkan hasil yang sama. Ada yang tekanan darahnya cepat terkendali, ada pula yang tetap tinggi meski rutin berobat.

Foto bersama peneliti dan peserta Diseminasi Faramkogenetika dalam Personalisasi Terapi Antihipertensi

Di sinilah farmakogenetika menawarkan perspektif baru. Setiap manusia memiliki susunan gen yang berbeda. Perbedaan tersebut dapat memengaruhi cara tubuh menyerap, memetabolisme, hingga merespons obat. Artinya, satu jenis obat yang efektif bagi seseorang belum tentu memberikan hasil serupa pada orang lain.

Pemahaman inilah yang kini mulai diperkenalkan kepada masyarakat melalui kegiatan diseminasi hasil penelitian. Diseminasi bukan sekadar menyampaikan laporan penelitian, melainkan proses menerjemahkan ilmu pengetahuan menjadi informasi yang mudah dipahami dan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.

Peserta yang hadir mencerminkan pendekatan tersebut. Selain peneliti, kegiatan ini diikuti staf Dinas Kesehatan Kabupaten Malang, perangkat desa, perawat dan bidan desa, enumerator ISPF, serta kader SMARThealth dari wilayah Sidorahayu, Karangduren, Kepanjen, dan Gondanglegi. Mereka adalah orang-orang yang setiap hari berhadapan langsung dengan masyarakat sehingga berperan penting dalam menjembatani inovasi kesehatan dengan kehidupan sehari-hari.

Dalam sambutannya, perwakilan peneliti Farmasi FKUB, dr. Bayu Lestari, M.Biomed., Ph.D., menjelaskan bahwa pengobatan yang dipersonalisasi merupakan salah satu arah kebijakan strategis Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Menurutnya, penelitian ini menjadi langkah awal untuk membawa konsep precision medicine lebih dekat dengan komunitas, sehingga manfaatnya tidak hanya dirasakan di rumah sakit besar, tetapi juga oleh masyarakat desa.

Pemaparan materi Farmakogenomik pada Pasien Hipertensi

Apresiasi turut disampaikan Pemerintah Kelurahan Kepanjen melalui staf kelurahan yang mewakili, Tri Wahyudi, S.M. Ia menilai penelitian ini merupakan bentuk kepedulian dunia akademik terhadap persoalan kesehatan masyarakat. Di saat yang sama, ia memberikan penghargaan kepada kader kesehatan yang selama ini menjadi garda terdepan dalam mendampingi warga menjalani pengobatan dan menjaga pola hidup sehat.

Persoalan kepatuhan pasien juga menjadi perhatian Dinas Kesehatan Kabupaten Malang. Ketua Tim Kerja Penyakit Tidak Menular dan Kesehatan Jiwa, Restu Meida, S.Kep.Ners., mengungkapkan bahwa hampir setiap pelaksanaan Cek Kesehatan Gratis (CKG) selalu ditemukan warga dengan faktor risiko hipertensi tinggi.

Namun tantangannya tidak berhenti pada penemuan kasus. Menurutnya, karakter masyarakat sangat beragam. Ada yang disiplin menjalani pengobatan, tetapi tidak sedikit pula yang berhenti minum obat ketika merasa sehat. Karena itu, edukasi yang berkelanjutan menjadi bagian penting dalam upaya mengendalikan hipertensi.

Pengalaman serupa juga ditemukan dalam program SMARThealth Extend yang sebelumnya dikembangkan FKUB bersama mitra internasional The George Institute for Global Health.  Prof. Delvac Ocenady, Ph.D., dari Manchester University menjelaskan bahwa hipertensi merupakan penyakit yang paling sering dijumpai selama pelaksanaan program tersebut. Setelah persoalan kepatuhan mulai dipetakan, kini perhatian diarahkan pada kesesuaian obat dengan kondisi genetik pasien.

Pemaparan materi Edukasi Hasil Tes Farmakogenetika

“Setiap orang bisa memiliki respons yang berbeda terhadap obat yang sama. Melalui farmakogenetika, kita ingin memahami perbedaan itu sehingga terapi menjadi lebih tepat sasaran,” jelasnya.

Optimisme terhadap penguatan kapasitas masyarakat juga disampaikan Research Manager NIHR Universitas Brawijaya, Prof. Dr. Sujarwoto, S.IP., M.Si., MPA. Sosok yang dikenal sebagai pionir dan penggerak pengembangan SMARThealth tersebut menilai kader kesehatan merupakan modal sosial yang sangat berharga. Karena itu, setiap pelatihan menjadi investasi jangka panjang untuk memperkuat pelayanan kesehatan berbasis masyarakat.

Materi ilmiah kemudian disampaikan secara bertahap. Pada sesi pertama, Dr. Bayu mengulas farmakogenomik pada pasien hipertensi. Ia mengingatkan bahwa Jawa Timur masih berada di jajaran provinsi dengan jumlah kasus hipertensi yang tinggi. Karena penyakit ini sering tidak menimbulkan keluhan, masyarakat perlu menjaga gaya hidup sehat, rutin memeriksakan tekanan darah, serta tidak menghentikan pengobatan tanpa anjuran tenaga kesehatan.

Pesan yang paling mudah diingat justru sangat sederhana. Hipertensi dapat dikendalikan melalui pola hidup sehat, kepatuhan minum obat, dan kontrol rutin. Namun, setiap orang memiliki kondisi biologis yang berbeda. Gen memengaruhi respons tubuh terhadap obat sehingga terapi yang sama belum tentu memberikan hasil yang sama pada setiap pasien.

Quiz interaktif dari Research Manager NIHR UB

Sesi berikutnya dipandu Dr. apt. Valentina Yurina, S.Si., M.Si., yang mengajarkan cara membaca hasil pemeriksaan farmakogenetika. Pelatihan ini menjadi langkah penting karena kader nantinya tidak hanya mendampingi masyarakat melakukan skrining kesehatan, tetapi juga membantu menjelaskan hasil pemeriksaan secara sederhana beserta rekomendasi yang menyertainya.

Bagi kader SMARThealth, kemampuan tersebut menjadi capaian baru. Sebelumnya mereka telah dilatih melakukan skrining faktor risiko penyakit tidak menular, pemeriksaan gula darah, kolesterol, dan asam urat, melakukan pendampingan pasien berisiko tinggi, hingga memberikan edukasi kesehatan. Kini mereka memperoleh kompetensi tambahan untuk memahami hasil pemeriksaan genetik sebagai bagian dari pelayanan kesehatan yang lebih personal.

Suasana pelatihan semakin hidup ketika Prof. Sujarwoto menggelar kuis interaktif. Gelak tawa dan tepuk tangan memenuhi ruangan saat lima kader berhasil menjawab pertanyaan dan memperoleh doorprize. Ada lima kader – Alfin Andiwati (kader Karangduren), Wanti (kader Karangduren), Agustin Shintowati (kader Kepanjen), Rizka Febri Saputri (kader Karangduren), dan Ninik Kartini (kader Kepanjen) – yang bisa menjawabnya, masing-masing mendapatkan uang 100 ribu per orangnya. Namun, yang lebih penting dari hadiah tersebut adalah tumbuhnya rasa percaya diri para kader bahwa materi yang semula terdengar rumit ternyata dapat dipahami.

Pelatihan ditutup dengan simulasi pembacaan hasil tes farmakogenetika. Setelah diperagakan oleh para narasumber Dr. Valen dan apt. Rudy Salam, S.Farm., M.Biomed., Ph.D, dua kader – Agustin Shintowati (Kepanjen) dan Alfin Andiwati (Karangduren) tampil mempraktikkan langsung bagaimana menjelaskan hasil pemeriksaan kepada pasien. Adegan sederhana itu seolah menjadi simbol perpindahan ilmu pengetahuan: dari tangan peneliti kepada kader, lalu dari kader kepada masyarakat.

Simulasi pembacaan hasil tes oleh dua kader dari Kepanjen dan Karangduren

Sebelum kegiatan berakhir, para kader masih mendapatkan pembekalan mengenai Screening Questionnaire oleh Rudy Salam, sebuah instrumen yang memuat riwayat kesehatan, gaya hidup, kondisi fisik, hingga kualitas hidup pasien. Instrumen tersebut akan membantu kader memberikan edukasi yang lebih komprehensif saat mendampingi masyarakat.

Pada akhirnya, diseminasi ini bukan hanya tentang menyampaikan hasil penelitian, melainkan tentang membangun ekosistem pelayanan kesehatan yang lebih cerdas, lebih personal, dan lebih dekat dengan masyarakat. Ketika pengetahuan genetik mulai dipahami hingga tingkat desa, pelayanan kesehatan memasuki babak baru, di mana pengobatan tidak lagi sekadar memberikan obat yang sama kepada semua orang, tetapi berusaha menemukan terapi yang paling tepat bagi setiap individu.

Di sinilah makna sesungguhnya dari diseminasi ilmu pengetahuan. Seperti dikatakan Paul Romer, “Yang dihargai dalam sains adalah penyebaran ide.” Dan di Kepanjen, ide itu telah menemukan jalannya – bergerak dari laboratorium menuju desa SMARThealth, dari hasil penelitian menuju harapan baru bagi pengendalian hipertensi di Indonesia. *** [230726]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo     |     Editor: Budiarto Eko Kusumo

Leave a Comment