“COPD affects much more than just your lungs. It affects your soul. But you can conquer it.” – Unknown
Langkahnya pelan. Usianya hampir menyentuh satu abad. Namun pagi itu, wajahnya memancarkan semangat ketika kader kesehatan bersama tim lapangan NIHR Universitas Brawijaya (UB) datang menjemputnya dari rumah.
“Yang penting ada yang mengantar,” begitu kira-kira keinginannya.
Sabtu (25/7) pagi itu, perjalanan singkat menuju rumah Ketua RT 01 RW 01, Sapari, di Kampung Kidul Kali, Dusun Bandarangin, Desa Sumberejo, Kecamatan Pagak, Kabupaten Malang, bukan sekadar perjalanan menuju lokasi pemeriksaan kesehatan. Bagi lansia tersebut, itu adalah langkah kecil untuk mengetahui bagaimana paru-parunya masih bekerja setelah puluhan tahun menemani hidup.
Di rumah sederhana yang berubah menjadi ruang pelayanan kesehatan sementara itu, puluhan warga telah mulai berdatangan. Sebagian duduk mengantre sambil berbincang ringan, sebagian lagi menunggu giliran dipanggil. Di balik suasana yang hangat khas pedesaan, berlangsung sebuah upaya penting untuk membaca kondisi kesehatan masyarakat melalui pemeriksaan yang mungkin masih asing di telinga banyak orang: spirometri.

Pemeriksaan tersebut merupakan bagian dari baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) yang dilaksanakan Tim NIHR Universitas Brawijaya (UB). Selain melakukan skrining terhadap warga berusia 40 tahun ke atas, survei ini juga mengidentifikasi mereka yang memiliki faktor risiko Penyakit Tidak Menular (PTM), terutama Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), untuk menjalani pemeriksaan fungsi paru secara lebih mendalam.
Sejak pukul 08.30 WIB, delapan tenaga kesehatan dari RS Wava Husada Kepanjen mulai melayani peserta. Mereka didampingi Ketua RT 01 RW 01, tiga enumerator baseline survey Desa Sumberejo (Arief Budi Santoso, SE., Elmi Kamilah, S.Sos., dan Ikma Nur Farida, SKM), dua kader kesehatan (Artika Putri Rahayu dan Siti Aisah), serta Tim NIHR UB yang terdiri atas Meutia Fildzah Sharfina, SKM., MPH., Cornelia Feliciana Tedjomuljono, beserta Field Facilitator NIHR UB.
Namun pekerjaan mereka tidak dimulai ketika peserta pertama datang. Beberapa hari sebelumnya, warga yang memenuhi kriteria telah diundang mengikuti pemeriksaan. Ketika pada hari pelaksanaan masih ada yang belum hadir, enumerator dan kader kesehatan memilih mendatangi rumah mereka satu per satu. Strategi jemput bola dilakukan agar tidak ada warga yang kehilangan kesempatan memperoleh pemeriksaan.

Pendekatan itu menunjukkan bahwa riset kesehatan masyarakat bukan hanya soal mengumpulkan data, melainkan juga membangun kedekatan dan kepercayaan dengan masyarakat.
Setelah hadir di lokasi, setiap peserta menjalani serangkaian tahapan pemeriksaan. Mulai dari registrasi, anamnesis menggunakan aplikasi yang dikembangkan Tim NIHR UB, pengukuran tinggi badan, berat badan, dan lingkar perut, hingga pemeriksaan spirometri pertama.
Pada tahap inilah peserta diminta menarik napas sedalam mungkin, kemudian mengembuskannya sekuat tenaga ke dalam alat spirometer.
Sekilas tampak sederhana. Namun dari satu embusan napas itu, tersimpan begitu banyak informasi mengenai kondisi paru-paru seseorang.
Spirometri mengukur kemampuan paru melalui berbagai parameter, di antaranya Forced Expiratory Volume in One Second (FEV1) dan Forced Vital Capacity (FVC). Nilai-nilai tersebut membantu tenaga kesehatan mengetahui apakah saluran napas masih berfungsi normal atau mulai mengalami gangguan.

Gangguan itu sering kali berkembang perlahan tanpa disadari. Seseorang dapat tetap beraktivitas seperti biasa meskipun fungsi paru-parunya terus menurun akibat paparan polusi udara, asap rokok, asap dapur berbahan bakar padat, maupun perubahan lingkungan yang berlangsung bertahun-tahun.
Karena itulah spirometri kini tidak hanya dipandang sebagai alat diagnosis penyakit paru, tetapi juga sebagai sinyal peringatan dini terhadap berbagai Penyakit Tidak Menular.
Penurunan fungsi paru diketahui berkaitan dengan meningkatnya risiko PPOK, penyakit kardiovaskular, gangguan metabolik, hingga proses penuaan yang tidak sehat. Bahkan berbagai penelitian menunjukkan bahwa kualitas lingkungan dapat tercermin melalui perubahan fungsi paru masyarakat yang terpantau dari waktu ke waktu.
Dengan kata lain, spirometri bukan hanya mengukur seberapa kuat seseorang mengembuskan napas. Pemeriksaan ini juga membantu membaca bagaimana lingkungan tempat seseorang hidup ikut membentuk kesehatannya.

Setelah pemeriksaan pertama selesai, peserta menjalani nebulisasi, yaitu terapi inhalasi yang mengubah obat cair menjadi kabut halus agar langsung mencapai saluran pernapasan. Beberapa menit kemudian, spirometri dilakukan kembali untuk melihat perubahan fungsi paru setelah terapi diberikan.
Rangkaian pemeriksaan berlangsung hingga pukul 12.49 WIB. Dari total 28 peserta yang telah dijadwalkan ditambah satu peserta tambahan, seluruhnya berhasil menyelesaikan pemeriksaan. Dua dokter dari RS Wava Husada juga sempat hadir untuk memantau jalannya kegiatan.
Selanjutnya, seluruh hasil spirometri akan dianalisis oleh dr. Hendri Wiyono, Sp.P(K) Onk., seorang dokter spesialis paru-paur dari RS Wava Husada, sebelum diserahkan kepada Tim NIHR UB. Dari interpretasi awal grafik FEV1 tampak beragam kondisi fungsi paru peserta, mulai dari hasil normal hingga pola restrictive, obstructive, dan combined, yang akan menjadi bahan analisis lebih lanjut.
Usai pelayanan kepada masyarakat selesai, pekerjaan tim belum benar-benar berakhir. Tenaga kesehatan RS Wava Husada bersama Tim NIHR UB menggelar evaluasi singkat mengenai pelaksanaan kegiatan.

Mereka mendiskusikan berbagai hal teknis, mulai dari kebutuhan lokasi yang lebih luas, alur pelayanan yang lebih efisien dengan mengadopsi konsep Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP), hingga penyempurnaan aplikasi skrining yang masih memerlukan beberapa perbaikan.
Evaluasi tersebut menjadi bagian dari komitmen agar pelayanan pada kegiatan berikutnya semakin baik, yaitu efektif dan efisien dalam pemeriksaan kesehatan terhadap pasien.
Menjelang siang, seluruh rangkaian kegiatan ditutup dengan foto bersama di beranda rumah Pak Sapari. Senyum para tenaga kesehatan, kader, enumerator, dan tim peneliti seolah menjadi penanda bahwa kerja kolaboratif antara masyarakat, fasilitas pelayanan kesehatan, dan perguruan tinggi dapat menghadirkan manfaat nyata.
Di Desa Sumberejo, pemeriksaan spirometri hari itu mungkin hanya berlangsung beberapa jam. Namun maknanya jauh melampaui durasi pelaksanaannya. Dari setiap embusan napas yang direkam alat spirometer, tersimpan informasi berharga untuk mendeteksi penyakit lebih awal, memahami dampak perubahan lingkungan terhadap kesehatan, sekaligus merancang langkah pencegahan yang lebih tepat di masa depan.

Sebab pada akhirnya, menjaga paru-paru berarti menjaga kualitas hidup. Seperti ungkapan anonim yang menggambarkan semangat tersebut:
“PPOK memengaruhi lebih dari sekadar paru-paru Anda. Penyakit ini memengaruhi jiwa Anda. Tetapi Anda bisa menaklukkannya.”
Kalimat sederhana itu mengingatkan bahwa pemeriksaan spirometri bukan sekadar prosedur medis, melainkan pintu awal untuk mengenali risiko, mengambil tindakan sejak dini, dan memberi harapan agar setiap tarikan napas tetap menjadi bagian dari hidup yang sehat. *** [2700726]
Oleh: Budiarto Eko Kusumo | Editor: Budiarto Eko Kusumo