Menjaga Napas, Menjaga Harapan: Ikhtiar Deteksi Dini Penyakit Paru di Desa Wringinrejo

Lungs are meant to be filled with air, not smoke.” — Anthony T. Hincks

Pagi baru saja merambat di Dusun Tamanrejo RT 02 RW 02, Desa Wringinrejo, Kecamatan Gambiran, Banyuwangi. Di Gedung Koperasi Desa Merah Putih yang berada tepat di sebelah utara Taman Siti Ganjaran, beberapa kursi telah tersusun rapi. Di sudut ruangan, sebuah laptop menyala. Di sampingnya berdiri sebuah alat berukuran kecil berwarna putih. Bentuknya sederhana, tetapi fungsinya sangat penting, yaitu membantu membaca kesehatan paru-paru seseorang hanya melalui hembusan napas.

Satu per satu warga mulai berdatangan. Ada yang diantar keluarga. Ada pula yang tiba setelah dijemput oleh enumerator karena tidak memiliki kendaraan. Mereka datang bukan karena merasa sakit, melainkan karena sebelumnya dinyatakan memiliki faktor risiko Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK).

Hari itu, Senin (27/07), sebanyak 26 warga mengikuti pemeriksaan spirometri sebagai bagian dari baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC). Bagi sebagian besar peserta, istilah spirometri mungkin masih terdengar asing. Namun, justru dari pemeriksaan inilah kondisi paru dapat diketahui lebih dini, bahkan sebelum keluhan berat muncul.

Dua kader kesehatan dan enumerator terlihat sedang melakukan registrasi dalam pemeriksaan spirometri di Gedung Kopdes Merah Putih, Dusun Tamanrejo RT 02 RW 02 Desa Wringinrejo, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi

Perjalanan mereka menuju meja pemeriksaan sebenarnya telah dimulai beberapa waktu sebelumnya. Melalui tahap pre-screening, para enumerator mendatangi rumah-rumah warga berusia 40 tahun ke atas. Dengan bantuan aplikasi SMARThealth, mereka melakukan wawancara mengenai berbagai faktor risiko penyakit tidak menular.

Dari proses tersebut, sejumlah warga teridentifikasi memiliki risiko PPOK. Mereka kemudian dikunjungi kembali untuk menjalani skrining lanjutan sebelum akhirnya dijadwalkan mengikuti pemeriksaan spirometri.

Di Wringinrejo, seluruh rangkaian kegiatan dipersiapkan oleh dua enumerator, Firda Octa Vidyawati, S.M., dan Yunita Pratiwi Suprapto, S.T. Keduanya bekerja bersama dokter dan tenaga kesehatan dari Rumah Sakit Yasmin Banyuwangi, yang terdiri dari dr. Wahyu Dian Puspita, Rizki Indrawangi, S.Kep., Ns., Prisilia Rosa A., S.Kep., Ns., Nurul Maghfira Imhana, S.Kep., Ns., Yusi Ayu Permatasari, S.Kep., dan Ns. Imelda Arofah, S.Kep. Kegiatan tersebut juga dipantau langsung oleh Field Facilitator NIHR Universitas Brawijaya (UB) dan Research Fellow Fildzah Cindra Yunita, S.Kep., MPH.

Setelah registrasi yang dibantu kader kesehatan Nunung Lestiani dan Siti Nurofah, para peserta menunggu giliran dipanggil.

Research fellow NIHR UB membantu seorang dokter dalam problem solving aplikasi

Ketika nama mereka disebut, langkah pertama dimulai dari meja anamnesis. Di sana, tenaga kesehatan menanyakan riwayat kesehatan sekaligus mengukur tekanan darah. Suasananya berlangsung tenang. Sesekali terdengar percakapan ringan yang membuat peserta merasa lebih nyaman sebelum memasuki pemeriksaan utama.

Di meja berikutnya, tenaga kesehatan memperagakan cara menggunakan spirometer. Mereka meminta peserta menutup rapat bibir pada corong alat, tidak bernapas melalui hidung, lalu menarik napas sedalam mungkin.

“Tarik napas… sekarang tiup sekuat-kuatnya… terus… terus… sampai habis.”

Instruksi itu terdengar berulang sepanjang pagi.

Bagi sebagian peserta, meniup sekuat tenaga ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Ada yang berhenti terlalu cepat, ada pula yang belum mengeluarkan seluruh udara dari paru-parunya. Dengan sabar, tenaga kesehatan kembali memberi contoh hingga hasil yang diperoleh benar-benar memenuhi standar pemeriksaan.

Suasana pemeriksaan spirometri di Desa Wringinrejo

Melalui proses sederhana itulah spirometer mengukur dua indikator penting, yaitu Forced Expiratory Volume in One Second (FEV1) dan Forced Vital Capacity (FVC). Angka-angka tersebut membantu dokter mengetahui seberapa baik fungsi paru-paru seseorang, apakah terdapat penyempitan saluran napas, hingga kemungkinan adanya PPOK atau gangguan paru lainnya.

Namun pemeriksaan belum selesai. Setelah spirometri pertama, setiap peserta berpindah menuju meja nebulasi. Di sana, obat cair diubah menjadi kabut halus menggunakan nebulizer agar dapat langsung mencapai saluran napas dan paru-paru. Terapi inhalasi ini bekerja lebih cepat dibandingkan obat yang diminum karena langsung menuju organ sasaran.

Beberapa menit kemudian, peserta kembali menjalani spirometri kedua. Perbandingan hasil sebelum dan sesudah nebulasi memberikan informasi penting bagi dokter untuk menilai respons saluran napas terhadap terapi. Dari sinilah dapat diketahui apakah terdapat perbaikan fungsi paru setelah pemberian obat.

Yang menarik, seluruh proses pemeriksaan dilakukan secara digital menggunakan Spirobank II Smart, spirometer portabel tanpa kertas (paperless). Setiap hembusan napas langsung diterjemahkan menjadi grafik yang muncul secara real time di layar laptop.

Nakes RS Yamin Banyuwangi sedang melakukan anamnesa dengan lantar belakang pasien sedang melakukan nebulasi

Jika hembusan napas kurang kuat atau terlalu singkat, grafik segera memperlihatkannya. Tenaga kesehatan dapat langsung meminta peserta mengulang pemeriksaan hingga memperoleh hasil terbaik. Seluruh data tersimpan otomatis sehingga memudahkan dokter maupun peneliti dalam melakukan analisis.

Teknologi tersebut menjadikan setiap hembusan napas bukan sekadar angka, melainkan data ilmiah yang akan membantu memahami kondisi kesehatan masyarakat.

Dalam penelitian NIHR-GHRC NCDs & EC, spirometri memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sekadar alat diagnosis. Pemeriksaan ini menjadi salah satu instrumen penting untuk melihat bagaimana perubahan lingkungan, kualitas udara, serta paparan polusi memengaruhi kesehatan paru masyarakat. Bahkan, berbagai penelitian menunjukkan bahwa gangguan fungsi paru juga berkaitan dengan meningkatnya risiko penyakit kardiovaskular maupun gangguan metabolik.

Dengan kata lain, napas seseorang dapat menceritakan lebih banyak hal daripada yang tampak di permukaan.

Pemeriksaan spirometri dengan Spirobank II Smart (Portable Spirometer for Tablet & PC)

Menjelang pukul 14.12 WIB, pemeriksaan akhirnya usai. Hingga peserta terakhir selesai, kedua enumerator masih bergantian mengantar dan menjemput warga yang membutuhkan bantuan transportasi. Tidak ada yang dibiarkan kesulitan mengikuti pemeriksaan.

Sebelum pulang, setiap peserta menerima sebuah tas kecil berisi dua bungkus roti dan segelas air mineral. Bingkisan sederhana itu mungkin tidak seberapa nilainya. Namun, perhatian yang menyertainya menjadi penutup yang hangat setelah sesaat menjalani rangkaian pemeriksaan.

Sesungguhnya, yang dibawa pulang para peserta hari itu bukan hanya hasil pemeriksaan paru-paru. Mereka juga membawa kesadaran baru bahwa menjaga kesehatan dimulai dari mengenali risikonya sejak dini.

Bagi tim peneliti, setiap data yang terkumpul akan menjadi bagian dari upaya memahami hubungan antara penyakit tidak menular dan perubahan lingkungan. Bagi warga, setiap hembusan napas yang mereka keluarkan hari itu adalah investasi kesehatan untuk masa depan.

Tas konsumsi untuk pasien dengan motif batik parang

Anthony T. Hincks, seorang penulis buku dan penulis quote asal Inggris, yang juga dikenal dengan nama pena Anthony Hawes, pernah menulis:

“Paru-paru seharusnya diisi dengan udara, bukan asap.”

Kalimat itu menjadi pengingat bahwa paru-paru adalah organ yang bekerja tanpa henti sejak manusia dilahirkan. Menjaganya bukan hanya tanggung jawab individu, tetapi juga ikhtiar bersama melalui deteksi dini, penelitian, dan kepedulian terhadap lingkungan tempat kita bernapas. *** [280726]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo     |     Editor: Budiarto Eko Kusumo

Leave a Comment