Pagi itu, sinar matahari awal Agustus menyelinap di sela rimbunnya dedaunan pohon kelengkeng (Dimocarpus longan) yang menaungi halaman rumah Ibu Munik di Dusun Sumberjaya RT 04 RW 02, Desa Wringinagung, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi. Udara terasa sejuk. Di sisi selatan Masjid Al-Hidayah, halaman rumah yang biasanya tenang perlahan berubah menjadi ruang perjumpaan warga.
Beberapa sepeda motor mulai terparkir rapi di bawah teduh pepohonan. Dua batang kelapa genjah entok berdiri menjulang dengan tandan buah yang lebat. Di antara keduanya, belasan batang randu muda menjadi penyangga rambatan cabe Jawa (Piper retrofractum) yang menjulur mengikuti batang pohon. Pemandangan hijau itu menghadirkan suasana yang asri, seolah menjadi pengantar hangat bagi siapa saja yang datang pagi itu.
Namun, bukan hanya kesejukan halaman yang menjadi daya tarik. Sejak pukul 09.00 WIB, rumah tersebut kembali menjadi pusat pelayanan kesehatan masyarakat melalui kegiatan Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP) Sumberjaya 2.
Transformasi pelayanan kesehatan tampak nyata di tempat ini. Jika dahulu posyandu identik dengan ibu hamil dan balita, kini Posyandu ILP membuka ruang pelayanan bagi seluruh kelompok usia. Bayi, anak-anak, remaja, ibu hamil, orang dewasa hingga lanjut usia memperoleh pelayanan dalam satu rangkaian kegiatan.

Inilah bentuk transformasi layanan primer yang dikembangkan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia untuk mendekatkan layanan promotif dan preventif kepada masyarakat.
Posyandu ILP Sumberjaya 2 melayani empat wilayah RT di lingkungan RW 02, yakni RT 01, RT 02, RT 03, dan RT 04. Pelayanan tersebut digerakkan oleh enam kader kesehatan bersama Bidan Eka Febri Rahmaningsih, A.Md.Keb., serta Perawat Mansur, A.Md.Kep. dari Pustu Wringinagung.
Kegiatan pagi itu juga dihadiri oleh Field Facilitator NIHR Universitas Brawijaya (UB) bersama enumerator baseline survey NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC), Muhammad Wisnu Nafiri, S.E. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan berbasis masyarakat juga menjadi perhatian dalam pengembangan riset kesehatan global.
Pelayanan dimulai dari meja registrasi. Satu demi satu warga datang menghampiri kader Susilowati yang telah bersiap dengan buku pencatatan. Ia mendata setiap peserta berdasarkan kategori siklus hidup, mulai dari balita, remaja, ibu hamil, dewasa hingga lansia. Pendataan tersebut bukan sekadar administrasi, melainkan dasar untuk memastikan setiap peserta memperoleh layanan sesuai kebutuhannya.

Dari meja registrasi, warga diarahkan menuju meja pengukuran antropometri. Di sinilah kader Fitri Astutik dan Munik Wahyuni bekerja tanpa henti. Timbangan, alat ukur tinggi badan, pita pengukur lingkar kepala, hingga pengukur lingkar lengan atas (LiLA) bergantian digunakan untuk memantau tumbuh kembang bayi dan balita. Sementara itu, bagi peserta dewasa dan lansia, pengukuran lingkar perut menjadi bagian penting dalam mendeteksi risiko penyakit tidak menular.
Setelah seluruh pengukuran selesai dilakukan, hasilnya dicatat oleh kader Tri Wahyuni ke dalam Buku KIA, Kartu Menuju Sehat (KMS), maupun sistem pencatatan kesehatan yang digunakan. Ketelitian pencatatan menjadi bagian penting dalam menjaga kesinambungan pemantauan kondisi kesehatan warga dari waktu ke waktu.
Tahapan berikutnya adalah skrining kesehatan dasar. Di meja ini, kader Siti Rosida memeriksa tekanan darah sekaligus kadar gula darah peserta dewasa dan lansia. Pemeriksaan sederhana tersebut menjadi langkah awal untuk mengenali berbagai faktor risiko penyakit seperti hipertensi maupun diabetes melitus, dua penyakit tidak menular yang kini semakin banyak ditemukan di masyarakat.
Pelayanan kemudian berlanjut di meja tenaga kesehatan. Bidan Eka Febri Rahmaningsih, A.Md.Keb. memberikan pelayanan kepada ibu hamil dan balita. Selain memantau kesehatan ibu dan tumbuh kembang anak, ia juga membagikan kapsul vitamin A kepada balita. Kapsul berwarna biru diberikan kepada anak usia enam bulan hingga satu tahun, sedangkan kapsul merah diperuntukkan bagi balita usia satu hingga lima tahun sebagai bagian dari upaya meningkatkan daya tahan tubuh dan menjaga kesehatan mata.

Di meja sebelah, Perawat Mansur melayani peserta dewasa hingga lansia. Ketelitian menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pekerjaannya. Saat mendapati hasil pengukuran tekanan darah seorang lansia berbeda dengan hasil sebelumnya, ia memutuskan melakukan pemeriksaan ulang.
Langkah itu dilakukan untuk memastikan hasil yang diperoleh benar-benar akurat sebelum memberikan tindak lanjut pelayanan. Bagi tenaga kesehatan, setiap angka memiliki arti, dan setiap keputusan harus didasarkan pada data yang dapat dipertanggungjawabkan.
Sebelum pulang, seluruh peserta masih singgah di meja terakhir. Kader Desi Wulandari memberikan penyuluhan kesehatan sekaligus melakukan validasi pelayanan. Di meja inilah warga memperoleh kesempatan untuk bertanya mengenai kondisi kesehatannya, memahami hasil pemeriksaan, hingga mendapatkan edukasi mengenai pola hidup sehat yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Seluruh rangkaian pelayanan berlangsung sederhana, tetapi tertata. Setiap kader memahami perannya, sementara tenaga kesehatan melengkapi pelayanan dengan pemeriksaan yang lebih komprehensif. Tidak terlihat sekat antara petugas dan masyarakat. Yang tampak justru suasana akrab, saling menyapa, dan saling membantu.

Menjelang pukul 11.05 WIB, kegiatan Posyandu ILP Sumberjaya 2 selesai dilaksanakan. Dalam waktu sekitar dua jam, sebanyak 19 warga telah memperoleh pelayanan kesehatan yang terdiri atas dua balita, 13 orang dewasa, dua pra-lansia, dan dua lansia.
Boleh jadi jumlah itu tidak tampak besar jika hanya dibaca sebagai deretan angka. Namun, setiap warga yang datang membawa cerita, harapan, dan ikhtiar untuk menjaga kesehatannya. Setiap pengukuran berat badan, setiap pemeriksaan tekanan darah, setiap kapsul vitamin A yang diberikan, hingga setiap percakapan singkat di meja penyuluhan merupakan bagian dari upaya membangun masyarakat yang lebih sehat.
Di halaman rumah yang teduh itu, pelayanan kesehatan tidak hadir dalam bangunan megah ataupun ruang berpendingin udara. Ia tumbuh dari semangat gotong royong para kader, dedikasi tenaga kesehatan, serta kesediaan warga untuk datang memeriksakan diri.
Di bawah rindangnya pohon kelengkeng (Dimocarpus longan), Posyandu ILP Sumberjaya 2 membuktikan bahwa pelayanan kesehatan primer sesungguhnya berawal dari kedekatan – dekat dengan masyarakat, dekat dengan kehidupan sehari-hari, dan dekat dengan harapan akan masa depan yang lebih sehat. *** [010826]
Oleh: Budiarto Eko Kusumo | Editor: Budiarto Eko Kusumo