Posyandu ILP Bogenvil 1 Desa Tamanagung dan Baseline Survey: Satu Langkah, Dua Misi Kesehatan

Deretan sepeda motor memenuhi halaman rumah Bapak Sunagri di Jalan Tamanagung, Dusun Krajan RT 02 RW 01, Desa Tamanagung, Kecamatan Cluring, Banyuwangi. Dari dalam rumah terdengar riuh percakapan para ibu yang menggendong balita, diselingi tangis bayi dan tawa anak-anak yang sesekali berlarian di halaman.

Pagi itu, di hari Senin (03/08), rumah yang biasanya tenang berubah menjadi ruang pelayanan kesehatan masyarakat. Bukan di balai desa atau gedung pertemuan, melainkan di sebuah rumah warga yang untuk beberapa jam menjadi tempat berkumpulnya harapan akan tumbuh kembang anak, kesehatan ibu hamil, dan kualitas hidup para lanjut usia.

Tepat pukul 08.00 WIB, kegiatan Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP) Bogenvil 1 dimulai. Warga berdatangan satu per satu. Ada yang menggendong bayi, menggandeng balita, datang bersama pasangan, hingga lansia yang berjalan perlahan menuju meja pendaftaran.

Suasana giat Posyandu ILP Bogenvil 1 Desa Tamanagung, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi

Posyandu ILP merupakan wajah baru pelayanan kesehatan masyarakat. Jika dahulu posyandu identik dengan penimbangan balita dan pelayanan ibu hamil, kini layanan tersebut berkembang menjadi pelayanan kesehatan sepanjang siklus kehidupan. Bayi, balita, remaja, dewasa, hingga lansia memperoleh ruang pelayanan yang sama dalam satu kegiatan yang terintegrasi.

Kesibukan segera terlihat di setiap sudut rumah. Enam perempuan berseragam merah muda bergerak lincah menjalankan tugas masing-masing. Lima kader Posyandu Bogenvil 1, yakni Sri Hartini, Sundari, Indah Turita Sari, Tuminem, dan Rupiah, bersama kader ILP Luckyta Anjarsari, bahu-membahu mendampingi Bidan Ika Setiya Dhiyan Puspitha, S.Keb., dari Pustu Tamanagung.

Alur pelayanan berlangsung tertib. Di meja pertama, kader Rupiah menyambut setiap warga yang datang untuk melakukan registrasi. Dari sana peserta diarahkan menuju meja pemeriksaan antropometri.

Deretan motor peserta Posyandu ILP Bogenvil yang diparkir di sebelah rumah dekat dengan meja pendaftaran maupun Tim Enumerator Baseline Survey Desa Tamanagung

Kader Sundari dengan cekatan menimbang berat badan balita, mengukur tinggi badan, lingkar kepala, hingga lingkar lengan ibu hamil. Untuk peserta lanjut usia, pemeriksaan berlanjut dengan pengukuran lingkar perut.

Sedangkan, pengukuran tekanan darah, serta pemeriksaan kadar gula darah dilakukan oleh kader Luckyta Anjarsari. Sementara itu, Indah Turita Sari memastikan seluruh hasil pemeriksaan tercatat dengan rapi sebagai bagian dari rekam kesehatan peserta.

Di ruang tamu yang dihiasi ornamen wayang kulit tokoh Werkudoro, suasana berubah menjadi ruang belajar. Bidan Dhiyan mengajak para orang tua berdiskusi tentang pentingnya pola asuh dan pemantauan tumbuh kembang balita.

Penyuluhan gizi oleh Pj Promkes Puskesmas Benculuk, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi

Tidak jauh dari sana, kader Sri Hartini memberikan penyuluhan kepada ibu hamil, sedangkan Penanggung Jawab Promosi Kesehatan Puskesmas Benculuk, Herlina Susanti, SKM., mengingatkan pentingnya gizi seimbang bagi keluarga.

Penyuluhan itu menjadi pengingat bahwa menjaga kesehatan bukan hanya dilakukan ketika sakit, tetapi dimulai dari pengetahuan, kebiasaan makan, hingga pola pengasuhan di dalam rumah.

Setelah seluruh rangkaian pelayanan selesai, para peserta menerima Pemberian Makanan Tambahan (PMT) berupa bubur kacang hijau yang dibagikan oleh kader Tuminem. Sajian sederhana tersebut menjadi pelengkap layanan sekaligus simbol perhatian terhadap pemenuhan gizi masyarakat.

Pengukuran lengan ibu hamil dalam giat Posyandu ILP Bogenvil 1 Desa Tamanagung

Namun pagi itu, pelayanan kesehatan tidak hanya berlangsung di meja-meja Posyandu. Di sisi lain teras rumah, tepat berdampingan dengan meja registrasi, tampak tiga orang sibuk membawa telepon pintar dan sesekali wawancara dengan warga.

Mereka adalah Tim Enumerator Baseline Survey dari NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) Universitas Brawijaya (UB), yang terdiri dari Dysa Fitri Permatasari, S.Tr.Kes., M.Kes., Fahmi Ahmad Fauzan, S.Sos., dan Nisaul Rofifah, S.Gz.

Momentum Posyandu dimanfaatkan sebagai kesempatan bertemu langsung dengan masyarakat untuk melakukan skrining dan pengumpulan data berbasis aplikasi SMARThealth.

Penyuluhan parenting balita oleh bidan Pustu Tamanagung, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi

Kehadiran Tim Enumerator Baseline Survey berdampingan dengan pelayanan kesehatan menjadi gambaran bahwa upaya meningkatkan kesehatan masyarakat memerlukan dua hal yang saling melengkapi, yaitu pelayanan yang dekat dengan warga dan data yang akurat sebagai dasar penyusunan kebijakan.

Bagi masyarakat, proses tersebut berlangsung tanpa menambah beban. Seusai mengikuti pelayanan Posyandu atau khusus menghadiri undangan dari Tim Enumerator Baseline Survey, mereka dapat langsung mengikuti skrining sehingga kunjungan menjadi lebih efektif dan efisien.

Jarum jam menunjukkan pukul 10.53 WIB ketika pelayanan kesehatan resmi ditutup. Akan tetapi, para kader kesehatan, tenaga kesehatan, Tim Enumerator Baseline Survey, dan Field Facilitator NIHR Universitas Brawijaya (UB) yang juga hadir, belum beranjak meninggalkan lokasi. Mereka berkumpul menikmati hidangan yang telah disiapkan oleh pemilik rumah.

Skrining responden yang diundang oleh Tim Enumerator Baseline Survey Desa Tamanagung

Suasana makan bersama itu menjadi penutup yang hangat setelah hampir tiga jam bekerja melayani masyarakat. Di sela-sela kebersamaan tersebut, Field Facilitator NIHR UB merekap hasil kegiatan hari itu. Sebanyak 32 balita, 4 ibu hamil, dan 9 lansia tercatat memperoleh layanan kesehatan melalui Posyandu ILP Bogenvil 1. Sedangkan, Tim Enumerator Baseline Survey berkesempatan melakukan skrining terhadap 11 orang, dengan rincian 5 orang dilakukan oleh Enumerator Nisa dan 6 orang oleh Enumerator Fauzan.

Angka-angka itu memang penting sebagai ukuran capaian. Namun, ada hal lain yang jauh lebih bermakna.

Di rumah milik seorang warga, pelayanan kesehatan hadir bukan sekadar sebagai agenda bulanan. Ia menjelma menjadi ruang gotong royong yang mempertemukan kader, tenaga kesehatan, peneliti, dan masyarakat dalam satu tujuan yang sama, yakni membangun desa yang lebih sehat, dimulai dari langkah-langkah kecil yang dilakukan bersama.

Di tempat seperti inilah, transformasi layanan kesehatan menemukan makna sesungguhnya. Bukan hanya menghadirkan pemeriksaan, penyuluhan, atau pendataan, melainkan juga menumbuhkan kedekatan, kepercayaan, dan kepedulian. Sebab, kesehatan masyarakat yang kuat selalu berawal dari komunitas yang saling menjaga. *** [030826]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo     |     Editor: Budiarto Eko Kusumo

Leave a Comment