“Maintenance is terribly important.” — Manolo Blahnik
Pagi baru saja dimulai ketika kendaraan Tim Maintenance National Institute for Health Research (NIHR) Universitas Brawijaya (UB) meninggalkan titik keberangkatan. Di dalamnya, tersimpan satu misi sederhana tetapi sangat menentukan keberhasilan penelitian, yaitu memastikan seluruh sensor kualitas udara yang tersebar di wilayah penelitian tetap bekerja dengan baik.
Barangkali aktivitas ini tidak semenarik proses pengambilan data atau pelaksanaan survei di lapangan. Namun, tanpa perawatan yang rutin, secanggih apa pun teknologi yang digunakan tidak akan mampu menghasilkan data yang akurat. Kalimat Manolo Blahnik, “Perawatan itu sangatlah penting,” terasa begitu relevan menggambarkan pekerjaan yang dilakukan Tim Maintenance NIHR UB pada Kamis (6/8).
Sejak pukul 08.00 WIB, tiga personel dari Departemen Fisika Universitas Brawijaya, yakni Azarine Aisyah W., S.Si., Eko Teguh Purwito, S.Si., M.Si., dan Maria Pramundhitya W.W., S.Si., bersama teknisi Nafas M. Syaiful Umar, memulai perjalanan menuju empat desa yang menjadi enumeration area, yaitu Wringinrejo, Tamanagung, Sarimulyo, dan Kaliploso. Selama kegiatan berlangsung, mereka juga didampingi oleh Field Facilitator NIHR UB.
Perjalanan pertama mengarah ke Balai Desa Wringinrejo. Di tempat ini, setiap perangkat diperiksa satu per satu. Sambungan listrik, kondisi fisik alat, jaringan komunikasi data, hingga performa sensor menjadi bagian dari pemeriksaan menyeluruh. Semua dilakukan agar data yang dikirimkan tetap stabil dan dapat dimanfaatkan sebagai dasar penelitian.

Dari Wringinrejo, perjalanan berlanjut menuju Balai Desa Tamanagung. Langit yang semula cerah perlahan berubah mendung, sebelum akhirnya hujan turun saat proses maintenance berlangsung.
Hujan memang sempat memperlambat pekerjaan, tetapi tidak menghentikan semangat tim. Begitu cuaca memungkinkan, pemeriksaan kembali dilanjutkan hingga seluruh perangkat dipastikan berfungsi normal.
Perhentian berikutnya adalah Desa Sarimulyo. Berbeda dengan lokasi sebelumnya, pekerjaan di desa ini tidak hanya dilakukan di Balai Desa. Tim juga mendatangi dua rumah warga yang menjadi lokasi pemasangan sensor kualitas udara. Kehadiran perangkat di lingkungan permukiman menjadi bagian penting dalam menggambarkan kondisi kualitas udara yang benar-benar dialami masyarakat sehari-hari.
Di balik bentuknya yang ringkas, alat-alat tersebut menyimpan teknologi yang sangat kompleks. Salah satunya adalah Airly PM + Gas (SO₂ + CO) yang mampu mengukur konsentrasi partikulat PM1, PM2,5, dan PM10, sekaligus memantau gas sulfur dioksida (SO₂) dan karbon monoksida (CO). Sensor ini juga merekam suhu, kelembapan udara, serta tekanan atmosfer sebelum mengirimkan seluruh data secara real-time melalui jaringan GSM, Wi-Fi, maupun IoT.

Berdampingan dengan Airly, terpasang pula PurpleAir PA-II Air Quality Sensor. Sensor ini menggunakan teknologi penghitung partikel laser ganda untuk memantau PM1, PM2,5, dan PM10 secara waktu nyata. Selain itu, perangkat juga mencatat suhu lingkungan, kelembapan relatif, dan tekanan atmosfer, kemudian mengirimkan hasil pengukurannya secara langsung ke peta PurpleAir yang dapat diakses publik. Kombinasi kedua perangkat tersebut memungkinkan para peneliti memperoleh gambaran kualitas udara yang lebih komprehensif dan berkelanjutan.
Selepas menyelesaikan pekerjaan di Sarimulyo, tim menyempatkan beristirahat sejenak untuk makan siang di Kuliner nDeso Kampung Bethek Benculuk. Rehat singkat itu menjadi momen mengisi tenaga sebelum kembali melanjutkan perjalanan menuju lokasi terakhir.
Desa Kaliploso menjadi etape penutup sekaligus lokasi dengan jumlah titik maintenance terbanyak. Sebanyak lima titik pemasangan sensor diperiksa secara menyeluruh. Di sela-sela kegiatan, Tim Maintenance dan Field Facilitator NIHR UB juga bertemu dengan Rahmanurraudhotul Amin, SKM, selaku enumerator baseline survey Desa Kaliploso.
Pertemuan tersebut menjadi pengingat bahwa penelitian berskala besar tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada kolaborasi erat antara berbagai pihak yang bekerja di lapangan.

Menjelang pukul 16.11 WIB, seluruh rangkaian maintenance akhirnya selesai. Delapan jam lebih perjalanan telah dilalui, puluhan kilometer ditempuh, dan belasan perangkat kembali dipastikan bekerja sebagaimana mestinya. Tim Maintenance kemudian kembali menuju Hotel New Surya, sementara Field Facilitator NIHR UB terlebih dahulu singgah di basecamp Tamanagung.
Sekilas, pekerjaan maintenance mungkin hanya terlihat sebagai aktivitas memeriksa alat. Namun, sesungguhnya di balik setiap baut yang dikencangkan, sensor yang dibersihkan, dan koneksi data yang diuji kembali, tersimpan upaya besar menjaga mutu penelitian. Sebab, kualitas sebuah riset tidak hanya ditentukan oleh metode dan analisis, tetapi juga oleh konsistensi data yang dikumpulkan setiap hari.
Melalui perawatan berkala inilah NIHR UB memastikan bahwa setiap sensor tetap menjadi “mata” yang setia mengamati kualitas udara, setiap jam, setiap hari. Dari desa-desa tersebut, data terus mengalir tanpa henti, menjadi fondasi penting bagi penelitian kesehatan lingkungan sekaligus bahan pertimbangan dalam merumuskan kebijakan yang berpihak pada kesehatan masyarakat.
Pada akhirnya, maintenance bukan sekadar pekerjaan teknis. Ia merupakan investasi bagi keandalan data, keberlanjutan penelitian, dan masa depan ilmu pengetahuan. Sebab, sebagaimana diungkapkan Manolo Blahnik, “Perawatan itu sangatlah penting.” Bagi Tim NIHR UB, kalimat itu bukan hanya sebuah kutipan, melainkan filosofi yang diwujudkan melalui kerja nyata di lapangan. *** [080826]
Oleh: Budiarto Eko Kusumo | Editor: Budiarto Eko Kusumo