Sebelum Alat Mengukur Napas, Tim Lebih Dulu Menyatukan Langkah: Cerita koordinasi pemeriksaan spirometri NIHR UB bersama dua rumah sakit mitra di Banyuwangi

Ketika pagi mulai menghangat, mobil Mitsubishi Xpander warna hitam Tim NIHR UB bergerak menyusuri jalanan Banyuwangi. Di dalamnya ada Tim NIHR Universitas Brawijaya (UB), sejumlah enumerator baseline survey, dan satu agenda yang menyatukan perjalanan mereka: memastikan pemeriksaan spirometri yang sempat tertunda dapat kembali berjalan.

Tidak ada yang benar-benar sederhana dalam sebuah pemeriksaan. Di balik pasien yang duduk dan menarik napas di depan alat spirometri, ada enumerator yang memastikan data, tenaga kesehatan yang menjalankan pemeriksaan, aplikasi yang merekam informasi, perangkat yang harus berfungsi dengan baik, hingga dokter spesialis yang membaca hasilnya.

Satu saja bagian tersendat, seluruh rangkaian dapat ikut tertunda. Beberapa waktu sebelumnya, itulah yang terjadi.

Aktivitas lapangan sempat harus dijadwalkan ulang karena muncul persoalan pada aplikasi SMARThealth. Aplikasi yang digunakan enumerator maupun tenaga kesehatan yang menangani pemeriksaan spirometri mengalami kendala. Proses yang seharusnya berjalan di lapangan pun harus memberi ruang bagi penyelesaian persoalan teknis.

Kini, keadaan mulai membaik. Aplikasi kembali berjalan normal. Para enumerator mulai menyusun ulang jadwal pemeriksaan spirometri di desa masing-masing. Tetapi kembali menjalankan kegiatan bukan hanya perkara menentukan tanggal baru. Semua pihak perlu kembali duduk bersama.

Karena itu, Jumat (7/8), Research Fellow NIHR UB Fildzah Cindra Yunita, S.Kep., MPH, bersama Field Facilitator NIHR UB melakukan koordinasi dengan dua rumah sakit yang menjadi mitra pemeriksaan spirometri, yaitu RS Nahdlatul Ulama (RS NU) dan RS Yasmin di Banyuwangi.

Sejumlah enumerator baseline survey turut dalam perjalanan. Mereka bukan sekadar penumpang. Kehadiran mereka juga menjadi jembatan antara cerita yang terjadi di desa dan keputusan yang akan dibuat bersama di rumah sakit.

Kunjungan ke RS NU Banyuwangi

Pagi di RS NU: ketika persoalan kecil menjadi penting

Tujuan pertama adalah RS NU Banyuwangi. Di sebuah ruangan dekat Poli TB Dots, Tim NIHR UB bertemu dengan Perawat Yofi Agung Prastyawan, tenaga kesehatan yang terlibat dalam pemeriksaan spirometri NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC).

Pertemuan berlangsung tanpa banyak formalitas. Beberapa perangkat diperiksa. Percakapan mengalir pada persoalan yang ditemui selama pemeriksaan. Fildzah memeriksa dua tablet NIHR UB yang digunakan oleh tenaga kesehatan. Sementara itu, Field Facilitator mencoba melihat lebih dekat proses pemeriksaan spirometri sebelumnya untuk bahan evaluasi.

Dari ruang diskusi itu, cerita lapangan mulai tersusun. Salah satu persoalan adalah aplikasi SMARThealth yang terkadang berjalan lambat atau mengalami kesulitan ketika melakukan sinkronisasi.

Bagi pengguna aplikasi, mungkin persoalan itu terlihat sederhana. Namun di lapangan, beberapa detik yang berubah menjadi menit dapat berarti lebih banyak waktu yang harus dihabiskan untuk menyelesaikan satu proses. Ketika pemeriksaan melibatkan banyak pasien dan data yang harus dicatat secara berurutan, persoalan teknis kecil dapat menjadi bagian yang cukup mengganggu.

Persoalan lain muncul ketika pasien yang diperiksa sudah berusia lanjut. Instruksi pemeriksaan spirometri harus dipahami dan dilakukan dengan tepat. Pada pasien sepuh, tenaga kesehatan terkadang membutuhkan kesabaran dan pendekatan lebih agar proses pemeriksaan berjalan optimal.

Ada pula persoalan pada data identitas. Ditemukan nomor NIK yang tidak sesuai dengan nomor ID. Ketidaksesuaian semacam ini berpotensi menghambat proses input data ke dalam aplikasi.

Semua temuan itu dicatat oleh Field Facilitator NIHR UB dari informasi Ns. Yofi Agung Prastyawan. Bukan untuk memperpanjang daftar masalah, tetapi justru untuk memperpendek jarak antara persoalan dan solusinya.

Pihak RS NU kemudian menyampaikan satu usulan praktis, yakni pasien sebaiknya dihadirkan secara serempak pada pagi hari.

Dengan begitu, tenaga kesehatan dapat memberikan penjelasan mengenai alur pemeriksaan terlebih dahulu sebelum pemeriksaan dimulai. Semua pasien memiliki pemahaman yang sama, dan proses dapat berjalan lebih cepat dan teratur.

Ada pula kabar baik dari sisi perangkat. MIR Spiro Lab, alat spirometri yang dikirimkan Tim NIHR UB, dinilai mudah dioperasikan oleh tenaga kesehatan RS NU.

Pertanyaan berikutnya beralih pada sesuatu yang datang setelah pemeriksaan selesai, yaitu hasil. Berapa lama dokter spesialis membutuhkan waktu untuk menganalisis hasil spirometri?

Pengalaman pemeriksaan pertama di Desa Sarimulyo memberikan gambaran. Proses analisis dapat diselesaikan dalam waktu sekitar tiga hari. Setelah itu, hasil pembacaan dapat kembali dilihat oleh peneliti NIHR UB.

Tiga hari. Tidak terlalu panjang, tetapi cukup penting dalam sebuah rangkaian penelitian yang membutuhkan ketepatan dan kesinambungan data.

Diskusi dengan tenaga kesehatan RS NU Banyuwangi

Dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain

Menjelang siang, Tim NIHR UB meninggalkan RS NU. Perjalanan berlanjut menuju RS Yasmin di Kota Banyuwangi. Namun pertemuan dengan pihak rumah sakit baru dapat dilakukan pukul 13.00 WIB.

Ada jeda. Rombongan pun singgah di Pinarak Coffee & Dining Banyuwangi sembari menunggu waktu pertemuan. Setelah agenda ibadah Jumat dan waktu yang ditentukan tiba, perjalanan kembali dilanjutkan.

RS Yasmin berada tidak jauh dari Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuwangi. Di lantai dua, sebuah meeting room menjadi tempat pertemuan berikutnya. Dua dokter menyambut Tim NIHR UB: dr. Yasmin Bakarman, Sp.KFR, dan dr. Handri Irawan, MMRS, selaku Medical Manager.

Pertemuan ini memiliki nuansa yang sedikit berbeda. Jika di RS NU banyak persoalan teknis lapangan yang dibicarakan, di RS Yasmin koordinasi lebih banyak diarahkan untuk memastikan kesiapan setelah adanya penjadwalan ulang pemeriksaan spirometri.

Dan kabar yang didapat cukup melegakan. Aplikasi SMARThealth yang digunakan tenaga kesehatan RS Yasmin tidak mengalami kendala berarti. Sinkronisasi berjalan normal.

Alat MIR Spiro Lab pun sudah dapat dioperasikan oleh tenaga kesehatan. Sebelumnya, mereka telah mendapatkan pelatihan secara daring melalui Zoom. Artinya, salah satu bagian penting dalam rantai pemeriksaan sudah berada pada kondisi siap.

Namun, seperti di RS NU, proses tidak berhenti ketika pasien selesai melakukan pemeriksaan. Hasil spirometri masih harus dibaca dan dianalisis oleh dokter spesialis. Waktunya sekitar tiga hari.

Bahkan, pemeriksaan pertama di Gedung Koperasi Merah Putih, Desa Wringirejo, sudah selesai. Hasil pembacaannya telah dilengkapi sejumlah catatan dan komentar dari dokter spesialis. Selanjutnya, hasil tersebut akan dipindai untuk kebutuhan peneliti NIHR UB.

Kunjungan ke RS Yasmin Banyuwangi

Lebih dari sekadar rapat koordinasi

Ketika Tim NIHR UB meninggalkan RS Yasmin, matahari Banyuwangi mulai bergerak menuju sore. Agenda hari itu selesai.

Namun, koordinasi yang dilakukan sejak pagi sebenarnya membawa pulang sesuatu yang lebih besar daripada sekadar catatan hasil pertemuan.

Ada pemahaman yang semakin jelas tentang apa yang terjadi di lapangan. Ada persoalan aplikasi yang perlu diantisipasi. Ada pasien lanjut usia yang membutuhkan pendekatan khusus. Ada data identitas yang harus diperiksa kembali. Ada perangkat yang harus dipastikan siap. Ada alur pemeriksaan yang perlu disepakati.

Dan ada hasil pemeriksaan yang masih harus menunggu pembacaan dokter spesialis. Semua bagian tersebut saling berkaitan. Koordinasi menjadi ruang untuk memastikan tidak ada bagian yang berjalan sendirian.

Dalam konteks kerja tim, Gorman et al. (2014) menjelaskan bahwa koordinasi memungkinkan orang-orang bekerja bersama untuk menghasilkan capaian yang lebih besar dibandingkan ketika mereka bekerja secara terpisah.

Di sinilah ungkapan Aristoteles, “the whole is greater than the sum of its parts,” menemukan relevansinya. Sebab pemeriksaan spirometri bukan hanya tentang sebuah alat yang mengukur kapasitas paru. Ia adalah kerja banyak tangan.

Enumerator membawa data dari desa. Tenaga kesehatan membawa keterampilan pemeriksaan. Dokter spesialis membawa keahlian dalam membaca hasil. Tim peneliti menjaga agar seluruh proses tetap berada dalam koridor penelitian. Sementara teknologi menjadi penghubung yang membuat data dapat bergerak dari satu titik ke titik lainnya.

Ketika semuanya berjalan sendiri-sendiri, sebuah pemeriksaan mungkin hanya menjadi satu aktivitas. Tetapi ketika semuanya terhubung, aktivitas itu berubah menjadi sebuah sistem. Dan sistem membutuhkan koordinasi.

Diskusi dengan jajaran Direktur RS Yasmin di meeting room lantai 2 RS Yasmin Banyuwangi

Menata ulang langkah, bukan sekadar jadwal

Penjadwalan ulang pemeriksaan spirometri pada akhirnya bukan hanya tentang mengganti tanggal di kalender.

Ia menjadi kesempatan untuk melihat kembali seluruh rangkaian proses. Apa yang sudah berjalan? Apa yang masih tersendat? Apa yang perlu diperbaiki? Siapa yang membutuhkan dukungan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut justru muncul karena semua pihak bersedia berhenti sejenak dan berbicara.

Di Banyuwangi, koordinasi itu berlangsung sederhana, yaitu berkunjung, berdiskusi, memeriksa perangkat, mendengarkan pengalaman, lalu menyepakati langkah berikutnya.

Tetapi dari proses sederhana itulah kesiapan dibangun. Sebab pada akhirnya, tujuan dari semua persiapan tersebut sama, yakni memastikan ketika pasien berikutnya datang, pemeriksaan dapat berlangsung lebih lancar.

Dan ketika pasien mulai menarik napas dalam-dalam di depan MIR Spiro Lab, tidak hanya alat yang bekerja. Di belakangnya, ada sebuah tim yang telah lebih dulu menyatukan langkah. *** [080826]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo     |     Editor: Budiarto Eko Kusumo

Leave a Comment