“Be thankful and joyful.
Be content with life.
Make the most of every situation.” — Lailah Gifty Akita
Malam itu, rumah Rio Dita Wibawa di Dusun Plosorejo RT 01 RW 01, Desa Kaliploso, Kecamatan Cluring, Banyuwangi, tidak sekadar menjadi tempat berkumpul. Di rumah tersebut, rasa syukur, harapan, dan pesan tentang amanah bertemu dalam sebuah tasyakuran sederhana.
Rio Dita Wibawa, atau yang akrab disapa Mas Rio, baru saja terpilih sebagai Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Kaliploso periode 2026-2034. Ia mengundang keluarga, tokoh masyarakat, perangkat desa, tokoh agama, sejumlah anggota BPD, warga, serta enumerator baseline survey Rahmanurraudhotul Amin, SKM dan Field Facilitator NIHR Universitas Brawijaya (UB).
Bukan pesta kemenangan. Mas Rio memilih merayakan kepercayaan itu dengan tasyakuran. Acara yang dimulai sekitar pukul 19.48 WIB tersebut menjadi ruang untuk mengucapkan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepadanya. Lebih dari itu, tasyakuran menjadi momentum untuk memohon doa sebelum amanah baru benar-benar dijalankan di tengah masyarakat.

Bukan Sekadar Jabatan, Ada Amanah yang Menunggu
Ketua BPD Kaliploso periode 2018-2026, Samsul Ma’arif, S.Ag., menjadi salah satu yang membuka rangkaian acara. Ia menyampaikan ucapan selamat sekaligus rasa senang atas terpilihnya Mas Rio sebagai ketua baru.
Namun, ucapan selamat itu segera disertai pesan yang lebih penting, yaitu amanah. Menurut Samsul, kepemimpinan di BPD membutuhkan kemampuan untuk bekerja bersama. Bukan hanya dengan sesama anggota BPD, tetapi juga dengan pemerintah desa dan seluruh masyarakat Kaliploso.
Ia mengajak seluruh unsur tersebut membangun komunikasi serta kerja sama yang baik. Sebab, BPD memiliki posisi penting dalam kehidupan pemerintahan desa, terutama dalam menyerap aspirasi masyarakat dan mendorong terciptanya pemerintahan yang transparan serta partisipatif.
Pesan itu seolah menjadi bekal awal bagi Mas Rio. Terpilih sebagai ketua bukan berarti perjalanan selesai. Justru sejak saat itulah tanggung jawab mulai menunggu.

Dari Penelitian, Berujung pada Sebuah Undangan Tasyakuran
Malam tasyakuran itu juga mempertemukan Mas Rio dengan orang-orang yang sebelumnya telah beberapa kali bersinggungan dengannya dalam kegiatan penelitian NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) di Desa Kaliploso.
Field Facilitator NIHR UB, misalnya, sudah lebih dahulu mengenal Mas Rio sebelum dirinya terpilih sebagai Ketua BPD.
Pertemuan awal terjadi ketika Enumerator COM-B, Ervina Putri Rahayu, S.Sos., melakukan wawancara dengan warga di Plosorejo pada Jumat (3/4). Saat itu, Mas Rio turut mendampingi proses pengumpulan data COM-B.
Pertemuan kembali terjadi pada Senin (29/6). Mas Rio hadir dalam pertemuan antara enumerator baseline survey dengan lima kader yang akan membantu proses pengumpulan data baseline. Ia menjadi salah satu kader yang terlibat dalam kegiatan tersebut. Kemudian pada Kamis (06/08), saat Field Facilitator NIHR UB mendampingi maintenance alat sensor kualitas udara di rumahnya.
Dari interaksi di lapangan itu, Mas Rio dikenal sebagai sosok yang aktif dan solutif. Ia mudah diajak berkomunikasi dan memiliki kemauan untuk membantu mencari solusi ketika berhadapan dengan persoalan.
Karena itu, ketika undangan tasyakuran di rumahnya datang, kehadiran Field Facilitator NIHR UB bukan sekadar memenuhi undangan. Ada rasa bahagia melihat seseorang yang selama ini ditemui dalam berbagai kegiatan masyarakat kini mendapatkan kepercayaan baru.

Menjelaskan Penelitian agar Warga Tak Bingung
Di sela-sela tasyakuran, Field Facilitator NIHR UB juga mendapatkan kesempatan untuk menjelaskan penelitian NIHR-GHRC NCDs & EC yang sedang berlangsung di Desa Kaliploso.
Pemaparan dilakukan secara runtut agar masyarakat memperoleh gambaran utuh mengenai kegiatan yang akan berlangsung hingga akhir 2027.
Program tersebut merupakan rangkaian kegiatan yang dilakukan secara bertahap. Dimulai dari formative study, household listing, pemasangan alat sensor kualitas udara, pre-screening, COM-B, hingga baseline survey yang sedang dilaksanakan. Setelah itu, nantinya akan ada endline survey sebagai bagian dari tahapan penelitian.
Penjelasan tersebut menjadi penting karena masyarakat akan berhadapan dengan sejumlah agenda penelitian dalam kurun waktu yang tidak singkat. Dengan memahami alurnya, warga diharapkan tidak merasa bingung ketika kembali ditemui oleh enumerator atau tim pelaksana kegiatan.
Lebih jauh, keterlibatan masyarakat juga diharapkan tidak berhenti sebagai responden. Dalam implementasinya, kegiatan NIHR-GHRC NCDs & EC turut menggandeng kader kesehatan agar pelaksanaan program dapat berjalan lebih dekat dengan masyarakat.

Syukur Sebelum Menjalankan Amanah
Ada satu hal yang menarik dari tasyakuran tersebut, yaitu Mas Rio belum menjalankan tugasnya secara resmi sebagai Ketua BPD.
Meski telah terpilih melalui proses pemilihan internal, ia masih menunggu tahapan resmi berikutnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Karena itu, acara malam tersebut bukanlah pelantikan.
Tasyakuran itu lebih sederhana sekaligus lebih personal, yakni ungkapan syukur atas kepercayaan yang telah diterima.
Dalam tradisi masyarakat, rasa syukur sering kali menjadi cara untuk menandai sebuah fase baru. Begitu pula bagi Mas Rio. Terpilihnya sebagai Ketua BPD bukan hanya tentang hasil pemilihan, melainkan tentang kepercayaan yang harus dijawab dengan kerja.
Pesan Lailah Gifty Akita, seorang penulis kontemporer, peneliti, dan penulis bidang pendidikan asal Ghana, terasa relevan untuk menggambarkan suasana tersebut:
“Bersyukurlah dan bersukacitalah. Terimalah hidup dengan hati yang puas. Manfaatkan sebaik-baiknya setiap situasi.”
Syukur bukan berarti berhenti pada rasa senang. Syukur juga berarti menerima apa yang datang dengan hati terbuka, kemudian berusaha memanfaatkannya sebaik mungkin.
Dalam konteks kepemimpinan desa, amanah itu kelak akan diuji bukan melalui seremoni, melainkan melalui tindakan, yaitu seberapa jauh aspirasi warga didengar, komunikasi dibangun, dan persoalan bersama dicarikan jalan keluarnya.

Harapan Baru untuk BPD Kaliploso
Malam semakin larut ketika rangkaian acara berakhir. Makan malam bersama dan ramah tamah menjadi penutup tasyakuran.
Tidak ada suasana yang terlalu formal. Warga, tokoh masyarakat, perangkat desa, anggota BPD, keluarga, serta para tamu berbincang dalam suasana kekeluargaan.
Namun, dari pertemuan sederhana itu, terselip harapan yang tidak sederhana. Warga berharap terpilihnya Mas Rio dapat membawa energi baru bagi BPD Kaliploso. Bukan hanya dalam menjalankan fungsi kelembagaan, tetapi juga dalam memperkuat keterwakilan masyarakat.
Sebab BPD pada akhirnya bukan sekadar sebuah struktur yang tercantum dalam pemerintahan desa. Di dalamnya ada suara warga yang perlu didengar, aspirasi yang perlu disampaikan, dan kepentingan bersama yang perlu diperjuangkan.
Malam itu, Mas Rio belum mengenakan atribut sebagai seorang ketua. Belum ada pelantikan. Belum ada seremoni resmi. Yang ada hanyalah sebuah rumah, warga yang datang, doa yang dipanjatkan, serta rasa syukur atas sebuah kepercayaan. Dan dari sanalah sebuah perjalanan baru dimulai. *** [090826]
Oleh: Budiarto Eko Kusumo | Editor: Budiarto Eko Kusumo