Merajut Data dari Desa: Kisah “Go Local, Go Simple” di Cluring

Air Pollution

Pagi itu, Jumat (03/04), basecamp yang tersembunyi di Dusun Sumberwan RT 01 RW 06 Desa Tamanagung, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi, sudah lebih dulu hidup sebelum matahari benar-benar meninggi. Di balik letaknya yang tak langsung terlihat dari jalan, rumah dengan tiga kamar itu justru menjadi pusat denyut aktivitas Tim Enumerator COM-B di mana tempat sederhana yang menampung kerja-kerja besar.

Di dalamnya, puluhan matras, tiga kipas angin berputar bergantian melawan udara panas pesisir selatan, sementara dapur menjadi jantung kehangatan. Peralatan masak lengkap dan sebuah kulkas berdiri sebagai saksi, bahwa di sini, kerja lapangan tak hanya soal data, tapi juga soal hidup bersama.

Sarapan bersama Tim Enumerator COM-B Cluring di basecamp Tamanagung, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banywangi

Field Facilitator NIHR Universitas Brawijaya (UB) yang juga berperan sebagai Peneliti dalam Pengawasan Data Lapangan memulai harinya dengan cara paling membumi, yakni sarapan bersama tim. Di atas lantai keramik, tersaji balado terong, tumis kangkung, tahu goreng, dadar jagung, dan kerupuk. Menu sederhana, tapi cukup untuk mengikat kebersamaan.

Ada ritme yang sudah terbentuk tanpa perlu banyak kata. Para enumerator perempuan sigap di dapur, sementara yang laki-laki mengambil peran berbelanja dan mencuci piring. Tak ada sekat kaku. Semuanya mengalir seperti kebiasaan lama yang sudah lama terlatih.

Menyaksikan wawancara di Dusun Plosorejo RT 03 RW 01 Desa Kaliploso

Enam enumerator yang menghuni basecamp ini adalah Affan Uwais Al-Qorni, S.Sos.; Amanda Dewanata Puteri, S.AP; Ervina Putri Rahayu, S.Sos.; Reivaldi Adrian, S.SP; Rifqi Arrozi Mahnudi, S.IP; dan Yunifa Fatin Hanan Bilqis, S.AP. Mereka bertugas menjangkau tiga desa di Kecamatan Cluring, yang meliputi Tamanagung, Sarimulyo, dan Kaliploso. Wilayah yang secara geografis dan sosial menuntut pendekatan yang tak bisa sekadar teknis.

Di sela sarapan, percakapan ringan mengalir dengan membahas agenda hari itu, membagi strategi, sekaligus saling menguatkan. Tak lama setelahnya, satu per satu mulai bergerak. Bilqis dan Reivaldi turun lebih dulu. Menyusul kemudian, pukul 10.43 WIB, Mahmud menuju Kaliploso untuk memasang stiker dan menjalin janji temu dengan kader pendamping.

Melihat wawancara di Dusun Plosorejo RT 01 RW 05 Desa Kaliploso

Di sinilah pendekatan “Go Local, Go Simple” menemukan maknanya.

Bagi Tim Enumerator COM-B di Kecamatan Cluring ini, keberadaan kader lokal bukan sekadar pelengkap, melainkan kunci. Mereka adalah jembatan kepercayaan, yang membuka pintu rumah, memperkenalkan wajah baru kepada masyarakat, dan memastikan bahwa setiap wawancara berlangsung tanpa kecurigaan. Kader memahami bahasa, adat, hingga dinamika sosial yang tak selalu terlihat oleh orang luar. Mereka tahu karakteristik responden, bagaimana cara mendekat, dan kapan waktu terbaik untuk datang.

Silaturahmi ke rumah kamituwo Pandansari, Desa Sarimulyo bakda Maghrib

Lebih dari itu, mereka membantu kerja-kerja kecil yang krusial dengan menunjukkan lokasi rumah, mengatur jadwal kunjungan, hingga memastikan tindak lanjut berjalan lancar. Dengan kehadiran mereka, data tak hanya terkumpul tetapi juga menjadi lebih akurat, lebih kontekstual, dan lebih manusiawi.

Selepas salat Jumat, Field Facilitator bersama Field Supervisor Andhika Krisnaloka, S.Sos. turun langsung meninjau lapangan. Di Plosorejo, Desa Kaliploso, mereka menyaksikan Mahmud melakukan wawancara dengan pendampingan kader Posyandu, Sundari. Suasana berlangsung cair. Percakapan mengalir seperti obrolan sehari-hari, bukan interogasi formal.

Menyaksikan wawancara di Dusun Pandansari RT 03 RW 01 Desa Sarimulyo di malam hari

Perjalanan berlanjut ke titik lain. Di Plosorejo RT 01 RW 05, Ervina tengah melakukan wawancara, didampingi staf PMD, Rio Dita Wibawa. Di setiap titik, pola yang sama terlihat. Kedekatan lokal mencairkan jarak, membuat proses pengumpulan data terasa lebih natural.

Menjelang malam, pendekatan itu semakin terasa kuat. Kunjungan ke rumah kamituwo Pandansari, Agus Salim, membuka akses baru di mana seorang kader Posyandu bersedia menjadi pendamping tambahan. Dari satu pintu, terbuka banyak jalan.

Melihat wawancara di Dusun Pandansari RT 04 RW 02 Desa Sarimulyo di malam hari

Malam itu, aktivitas belum usai. Di Dusun Pandansari, Sarimulyo, Affan melanjutkan wawancara dengan pendampingan kader Jariyah. Tak jauh dari situ, Amanda juga bekerja di RT 04 RW 02, ditemani Koimah, istri Ketua RT setempat. Dalam gelap yang perlahan turun, percakapan demi percakapan tetap berlangsung dengan tenang, sabar, dan penuh ketelitian. Hari berakhir ketika Field Facilitator kembali ke basecamp Tamanagung. Rumah itu kembali menjadi tempat pulang, tempat melepas lelah, berbagi cerita, dan menyusun ulang energi untuk esok hari.

Di balik semua itu, satu hal menjadi jelas, yaitu kerja lapangan bukan hanya soal metodologi, tetapi juga tentang memahami manusia. Dan di basecamp Tamanagung, pemahaman itu tumbuh dari hal paling sederhana, mulai dari “hidup bersama”, makan bersama, dan melangkah bersama masyarakat setempat. *** [110426]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo     |     Editor: Budiarto Eko Kusumo

Leave a Comment