“Risk is always contextual. What’s a big deal for you might be nothing to someone else.
The real danger is assuming that because you haven’t had a problem yet, you won’t have one soon.”
― G. Scott Graham, Early Warning Signals
Sabtu (11/04) pagi, udara di Kelurahan Kepanjen terasa biasa saja. Tak berbau, tak berwarna, dan nyaris tak terasa. Namun justru di situlah letak persoalannya. Udara yang tampak “baik-baik saja” kerap menyimpan ancaman yang tak kasatmata.
Udara adalah unsur paling mendasar bagi kehidupan manusia. Tanpanya, tak ada yang bisa bertahan. Tetapi di banyak tempat, kualitas udara yang seharusnya menjadi penopang kehidupan justru berubah menjadi sumber masalah kesehatan.

Polusi udara kini telah menjadi isu global, memicu kekhawatiran dari akademisi, pemerintah, hingga masyarakat luas. Akumulasi emisi dari berbagai aktivitas manusia, mulai dari pembakaran sampah plastik, pembakaran jerami dan daun tebu saat musim panen, hingga konsumsi energi berlebihan yang perlahan menurunkan kualitas hidup.
Dampaknya tidak main-main. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa paparan polutan udara berkaitan erat dengan penyakit pernapasan, kardiovaskular, bahkan kanker. Secara global, kondisi ini berkontribusi pada jutaan kematian setiap tahunnya (Xinyue Mo et. al., 2019). Ancaman yang tak terlihat ini, diam-diam bekerja dalam jangka panjang.

Di tengah situasi tersebut, kebutuhan akan sistem peringatan dini atau early warning system (EWS) menjadi semakin mendesak. Sebab, seperti diungkapkan oleh G. Scott Graham, seorang penulis, pelatih karier, pelatih bisnis, dan pelatih pendukung penggunaan zat psikedelik di Boston, Massachusetts, dalam Early Warning Signals (2025):
“Risiko selalu bersifat kontekstual. Apa yang menjadi masalah besar bagi Anda mungkin bukan apa-apa bagi orang lain.
Bahaya sebenarnya adalah berasumsi bahwa karena Anda belum mengalami masalah, Anda tidak akan mengalaminya dalam waktu dekat.”

Kesadaran itulah yang mendorong tim peneliti Universitas Brawijaya melalui program NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) untuk bergerak.
Mereka tidak hanya memasang alat pendeteksi kualitas udara di Kabupaten Malang dan Banyuwangi, tetapi juga mengembangkan aplikasi EWS yang mampu memberikan informasi kualitas udara secara real time kepada masyarakat.

Di Kelurahan Kepanjen, upaya itu diuji secara langsung. Sebanyak 17 personel tim NIHR UB, dikoordinir oleh Gita Kusnadi, S.Gz., MPH, turun langsung ke lapangan. Mereka menyusuri gang-gang sempit, mengetuk pintu rumah warga satu per satu, membawa misi sederhana namun penting: mengenalkan teknologi yang bisa menyelamatkan kesehatan.
Mereka tidak sendiri. Lima kader SMARThealth setempat – Agustin Shintowati, Kristin Mariana, Sumarmi Warto Dewo, Rusmini, dan Harti – turut mendampingi. Dengan pembagian wilayah yang rapi di lima RW, kolaborasi ini menjadi jembatan antara teknologi dan masyarakat.

Dari RW 01 hingga RW 05, aktivitas berlangsung dinamis. Ada percakapan hangat di teras rumah, ada pula penjelasan serius tentang bagaimana aplikasi EWS bekerja. Ketika kualitas udara memburuk dan indikator berubah menjadi merah, aplikasi akan memberikan peringatan langsung melalui ponsel pengguna untuk memberi waktu bagi warga untuk mengambil langkah pencegahan.
Namun, proses ini tidak selalu mudah. Dari pengamatan di lapangan, tim lebih mudah berinteraksi dengan responden berusia di bawah 50 tahun. Sementara itu, pada kelompok usia yang lebih tua, diperlukan pendekatan ekstra untuk menjelaskan cara kerja aplikasi digital tersebut. Di sinilah peran kader menjadi krusial. Mereka tidak hanya mendampingi, tetapi juga menerjemahkan teknologi ke dalam bahasa yang lebih membumi nantinya.

Di sela-sela itu, seorang Field Facilitator NIHR UB terlihat hilir mudik dengan sepeda motor Honda Revo, mendokumentasikan kegiatan sekaligus memastikan semua berjalan lancar di setiap RW. Ia menjadi saksi bagaimana inovasi bertemu dengan realitas lapangan.
Uji coba yang dimulai pukul 09.00 WIB itu berakhir menjelang siang, tepatnya pukul 13.51 WIB. Hasilnya melampaui target. Dari rencana awal 35 responden, kegiatan ini berhasil menjangkau 38 warga ditambah dua kader. Total 40 responden.

Lebih dari sekadar angka, capaian ini menunjukkan satu hal penting: ada ruang bagi teknologi untuk hadir di tengah masyarakat, bahkan di tingkat paling dasar sekalipun.
Di Kelurahan Kepanjen, langkah kecil itu telah dimulai. Sebuah aplikasi mungkin tidak bisa langsung mengubah kualitas udara, tetapi ia bisa mengubah cara manusia meresponsnya. Dan dalam banyak kasus, respons yang tepat waktu adalah pembeda antara risiko dan keselamatan.
Karena pada akhirnya, ancaman terbesar bukanlah polusi yang terlihat, melainkan yang diabaikan. *** [110426]
Oleh: Budiarto Eko Kusumo | Editor: Budiarto Eko Kusumo