Menjahit Jejaring di Hari Ketiga: Dari Keluh Enumerator hingga Terbukanya Pintu-Pintu Desa Banyuwangi

Air Pollution

Pagi di Banyuwangi selalu datang dengan cara yang tenang. Matahari naik perlahan, tapi panasnya cepat terasa. Hari ketiga penugasan Field Facilitator NIHR Universitas Brawijaya (UB) menjadi semacam titik balik kecil bagi tim lapangan. Bukan lagi sekadar beradaptasi, melainkan mulai membaca ritme desa, memahami celah, dan mencari solusi dari persoalan yang muncul di lapangan.

Sehari sebelumnya, ada kegelisahan yang sempat mengendap. Para enumerator yang bertugas di Desa Sarimulyo mengutarakan uneg-uneg mereka, bahwa pendampingan lokal yang belum berjalan optimal membuat proses pengumpulan data terasa tersendat. Bagi mereka, kehadiran pendamping bukan sekadar formalitas, melainkan jembatan sosial untuk membuka pintu-pintu rumah warga.

Silaturahmi ke rumah Kades Sarimulyo, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi

Sabtu (04/04) pagi, langkah pun diarahkan ke rumah Kepala Desa Sarimulyo, Budi Susilo, S.T. Waktu menunjukkan pukul 09.56 WIB saat rombongan – Field Facilitator NIHR UB, Andhika Krisnaloka, S.Sos. (Field Supervisor COM-B), Affan Uwais Al-Qorni, S.Sos. (enumerator Desa Sarimulyo), dan Amanda Dewanata Puteri, S.AP (enumerator Desa Sarimulyo), tiba di Dusun Sempu. Pendopo depan rumah menjadi ruang temu yang hangat di mana percakapan dimulai, sekaligus harapan dititipkan.

Field Facilitator yang sudah cukup akrab dengan sang kepala desa menyampaikan maksud kedatangan dengan lugas, yaitu meminta bantuan untuk mencarikan pendamping lokal bagi para enumerator. Respons datang tanpa jeda. Dengan sigap, Kepala Desa menghubungi para kepala dusun, – atau yang akrab disebut kamituwo – terutama di wilayah yang akan menjadi lokasi kerja kedua enumerator tersebut.

Arahan berikutnya sederhana, tapi penting, yakni bersilaturahmi langsung. Sekitar pukul 10.27 WIB, tim bergerak ke rumah kamituwo Sempu. Di sana, suasana terasa akrab. Dua alat pendeteksi kualitas udara terpasang di rumah tersebut sebagai penanda jejak kerja kolaboratif yang sebelumnya sudah hadir. Di tengah udara Banyuwangi yang mulai terik, segelas minuman dingin dari kamituwo Hudhori menjadi pelepas dahaga sekaligus pembuka percakapan.

Enumerator COM-B Desa Tamanagung sedang mewawancarai responden

Maksud kedatangan disampaikan, yakni memohon dukungan pendampingan bagi enumerator. Hasilnya konkret, sebuah nama, seorang kader Posyandu setempat yang siap menjadi contact person.

Langkah berlanjut ke kamituwo Rejomulyo, Atin. Polanya serupa, pendekatannya sama, yaitu silaturahmi, dialog, lalu solusi. Dan kembali, jalan terbuka. Contact person lain didapatkan, memperkuat jejaring yang sebelumnya terasa rapuh.

Hari itu, persoalan yang sehari sebelumnya terasa mengganjal, perlahan terurai. Kini tinggal satu hal, yaitu para enumerator menjalin relasi dengan kader Posyandu, lalu bergerak.

Enumerator COM-B Desa Wringinagung sedang mengunjungi responden

Namun tugas belum selesai. Sepulang dari Sarimulyo, Field Facilitator NIHR UB dan Field Supervisor COM-B melanjutkan perjalanan menuju ke Desa Tamanagung. Di Dusun Sumberjeruk RT 02 RW 03, sebuah wawancara sedang berlangsung. Enumerator Yunifa Fatin Hanan Bilqis, S.AP terlihat ditemani sosok yang tak asing bagi warga, yaitu istri kamituwo setempat, Citra Dewi, yang akrab disapa Bu Wo. Kehadiran pendamping seperti ini memperlihatkan bagaimana kepercayaan masyarakat bekerja, perlahan, tapi pasti.

Dari sana, roda kendaraan terus berputar menuju Kecamatan Gambiran. Di tengah perjalanan, sempat berhenti sejenak di sebuah kedai kopi Papa Luwa di Benculuk, sekadar memberi jeda bagi tubuh yang lelah dan tenggorokan yang kering.

Perjalanan dilanjutkan ke Desa Wringinagung. Di Dusun Sumberejo RT 01 RW 01, satu per satu proses wawancara diamati. Enumerator Rizqi Bagus Saputra, S.Sos. bekerja dengan pola yang sama, namun dalam konteks yang berbeda-beda. Ada yang didampingi Ketua RT, ada pula yang bersama kader Posyandu. Setiap pendamping membawa warna interaksi tersendiri.

Enumerator COM-B Desa Wringinagung sedang memperlihatkan showcard kepada responden sepuh

Sore mulai merambat ketika Field Facilitator NIHR dan Field Supervisor COM-B berpindah ke titik berikutnya. Enumerator Ocik Adinalita, S.Sos. di Dusun Sumberejo RT 01 RW 02, yang didampingi oleh kader Posyandu Citra Dewi, melakukan wawancara di Dusun Sumberejo RT 01 RW 02.

Lalu, bergeser di salah satu rumah responden yang sudah sepuh, percakapan berlangsung pelan, penuh jeda, namun sarat makna. Tak jauh dari sana, berdiri Sekretariat Kelompok Tani Ternak Domba Berkat Jaya Sumberjo, yang sebagai penanda kehidupan desa yang terus bergerak dalam kesederhanaannya.

Menjelang petang, langkah terakhir membawa Field Facilitator NIHR UB dan Field Supervisor COM-B ke Dusun Krajan RT 01 RW 01 Desa Wringinrejo. Enumerator Alfi Indah Kumala, S.Sos., M.A. sedang melakukan wawancara di rumah responden.

Enumerator COM-B Desa Wringinrejo berkunjung ke rumah responden

Di sana, sebuah cerita lain muncul, bukan sekadar data. Seorang responden bercerita tentang keluarganya yang baru saja terserang chikungunya. Ia mengaitkannya dengan persoalan sampah yang tak segera ditangani. Sebuah pengingat bahwa data di lapangan bukan hanya angka, tetapi potret nyata dari persoalan kesehatan lingkungan.

Langit mulai menguning saat hari beranjak menuju Maghrib. Setelah serangkaian kunjungan dan pengamatan, Field Facilitator NIHR UB dan Field Supervisor COM-B akhirnya berpamitan. Perjalanan kembali ke basecamp di Tamanagung menjadi penutup hari yang panjang.

Hari ketiga itu tidak hanya soal menyelesaikan kendala teknis. Ia menjadi pelajaran tentang pentingnya mendengar, membangun relasi, dan memahami bahwa kerja lapangan adalah tentang manusia, yang dengan segala cerita, tantangan, dan harapannya. *** [130426]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo     |     Editor: Budiarto Eko Kusumo

Leave a Comment