Rinai pagi jatuh perlahan ketika rumah Ketua Sugiarto di Dusun Gembolo RT 05 RW 01, Desa Purwodadi, Kecamatan Gambiran, Banyuwangi, mulai ramai. Beberapa perempuan datang bergantian. Ada yang menggendong balita, ada yang berjalan perlahan sebagai lansia, sementara kader-kader sibuk menyiapkan meja, alat ukur, dan lembar pencatatan.
Pagi itu, rumah Ketua RT 05 RW 01 bukan sekadar rumah. Di tempat itu, layanan kesehatan didekatkan ke pintu warga melalui Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP) Gembolo 2.
Sejak pukul 08.00 WIB, warga dari sejumlah wilayah sekitar mulai berdatangan. Mereka adalah masyarakat yang tinggal di RT 05 dan RT 06 lingkungan RW 01, serta RT 01, RT 02, dan RT 03 lingkungan RW 02. Satu per satu mereka mengikuti alur pelayanan yang telah disiapkan para kader bersama tenaga kesehatan.
Posyandu ILP membawa gagasan sederhana, tetapi penting, yaitu pelayanan kesehatan tidak semestinya hanya menunggu masyarakat datang ke fasilitas kesehatan. Sebaliknya, layanan perlu hadir sedekat mungkin dengan kehidupan sehari-hari warga.

Karena itu, posyandu kini tidak lagi semata-mata identik dengan balita, timbangan, dan imunisasi.
Konsep Integrasi Layanan Primer memperluas cakupan pelayanan berdasarkan siklus hidup. Ibu hamil, bayi dan balita, anak-anak, remaja, orang dewasa, hingga lansia dapat memperoleh pelayanan kesehatan dasar di satu tempat.
Di Gembolo 2, proses itu dimulai dari meja pendaftaran. Kader Ernisa Ludfi Nurul menyambut warga yang datang, mencatat identitas, memastikan kelengkapan data kunjungan, sekaligus mengelompokkan mereka berdasarkan siklus hidup. Dari sana, warga kemudian mengikuti rangkaian pemeriksaan sesuai kebutuhannya.
Berat badan dan tinggi badan menjadi pemeriksaan awal. Untuk balita, pengukuran dapat dilengkapi dengan lingkar kepala atau lingkar lengan. Sementara bagi warga dewasa dan lansia, lingkar pinggang turut diperiksa. Tekanan darah juga menjadi bagian penting dari pemeriksaan, terutama untuk mengetahui kondisi kesehatan kelompok usia dewasa dan lanjut usia.
Kader Winarsih bertugas melakukan pengukuran antropometri. Di sisi lain, bidan Pustu Purwodadi, Anis Novianti, A.Md.Keb., memeriksa tekanan darah warga.

Angka-angka hasil pengukuran itu kemudian tidak dibiarkan begitu saja. Kader Suyantik mencatat hasil pemeriksaan bagi balita, sedangkan kader Tasmiyah menangani pencatatan untuk kelompok lansia.
Setelah pengukuran, pelayanan berlanjut pada pemeriksaan medis oleh bidan Anis. Bagi balita, kader Ratminah memberikan vitamin A. Warga juga dapat berbicara lebih jauh mengenai kebutuhan gizi melalui konsultasi bersama kader Sunartik.
Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa kesehatan tidak berhenti pada angka di timbangan atau hasil pengukuran tekanan darah. Ada informasi yang perlu dipahami, ada kebiasaan yang perlu diperbaiki, dan ada kondisi kesehatan yang perlu dikenali lebih dini.
Di sela-sela kesibukan itu, enumerator baseline survey Mega Wrida Silvia, SKM, hadir di lokasi bersama Field Facilitator NIHR UB. Mega sempat menyaksikan jalannya kegiatan sebelum kembali melanjutkan proses pengumpulan data baseline survey.

Tidak lama kemudian, enumerator lainnya, Naylil Nur Amalya Putri, S.Sos., juga hadir untuk melihat secara langsung pelaksanaan Posyandu ILP Gembolo 2.
Kehadiran mereka memberikan perspektif lain terhadap aktivitas pagi itu. Di balik proses pencatatan dan pengukuran yang tampak sederhana, terdapat gambaran mengenai bagaimana layanan kesehatan primer dijalankan di tengah masyarakat.
Sekitar pukul 10.00 WIB, aktivitas pelayanan mulai berakhir. Hari itu, kegiatan ditutup sedikit lebih cepat dari biasanya. Di sebelah lokasi posyandu, sebuah hajatan pernikahan tengah berlangsung. Para kader yang sejak pagi melayani warga pun harus bersiap untuk menghadiri acara tersebut.
Namun, sebelum meninggalkan lokasi, angka-angka dari pagi itu telah memberikan satu gambaran.
Sebanyak 20 balita, 2 warga usia produktif, dan 9 lansia tercatat telah mendapatkan pelayanan. Seluruh sasaran lansia yang terlayani pada kegiatan tersebut adalah perempuan.

Jumlah itu mungkin terlihat sederhana jika hanya dibaca sebagai angka. Tetapi di balik setiap angka ada seseorang yang datang untuk diperiksa, seorang ibu yang membawa anaknya, seorang lansia yang meluangkan waktu untuk mengetahui tekanan darahnya, atau seorang warga yang mendapatkan informasi kesehatan yang mungkin sebelumnya belum ia ketahui.
Di Dusun Gembolo, layanan kesehatan pagi itu tidak hadir dalam gedung besar dengan fasilitas yang megah. Ia hadir di sebuah rumah warga yang kebetulan menjabat sebagai Ketua RT.
Di sanalah konsep layanan kesehatan primer menemukan bentuknya yang paling dekat dengan masyarakat, yaitu kader yang mengenal warganya, bidan yang datang melayani, warga yang tidak perlu menempuh perjalanan jauh, dan pemeriksaan kesehatan yang berlangsung di lingkungan mereka sendiri.
Sebuah rumah, pada pagi itu, menjadi lebih dari sekadar tempat tinggal. Ia menjadi pintu masuk bagi masyarakat untuk lebih dekat dengan layanan kesehatan.
Dan dari tempat sederhana seperti itulah, upaya menjaga kesehatan masyarakat terus dimulai – satu warga, satu pemeriksaan, dan satu kunjungan pada satu waktu. *** [100826]
Oleh: Budiarto Eko Kusumo | Editor: Budiarto Eko Kusumo