Dari Bank Sampah ke Dapur Produksi: Semangat Kader Lingkungan Desa Pagak Mengolah Peluang Lewat Kulit Pangsit

Pagi itu, di hari Sabtu (06/06), suasana di Dusun Tempur, Desa Pagak, Kecamatan Pagak, Kabupaten Malang, tampak lebih hidup dari biasanya. Saat dalam perjalanan menuju kegiatan Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP) Melati 8, Field Facilitator NIHR Universitas Brawijaya (UB) melihat pintu Bank Sampah Pagak Bersinar terbuka lebar. Jarum jam baru menunjukkan pukul 08.00 WIB. Rasa penasaran mendorongnya untuk singgah sejenak.

Di balik bangunan yang selama ini dikenal sebagai pusat pengelolaan sampah masyarakat itu, ternyata sedang dipersiapkan sebuah kegiatan yang berbeda. Bukan aktivitas memilah sampah atau menimbang hasil setoran warga, melainkan praktik pembuatan kulit pangsit dan stik terigu yang melibatkan sepuluh kader lingkungan Desa Pagak.

Fasad bangunan Bank Sampah Pagak Bersinar di Dusun Tempur RT 05 RW 01 Desa Pagak, Kecamatan Pagak, Kabupaten Malang

Karena lokasi Bank Sampah Pagak Bersinar hanya berjarak sekitar 100 meter dari Posyandu ILP Melati 8, kesempatan tersebut dimanfaatkan untuk mengikuti kegiatan terlebih dahulu sambil menunggu agenda posyandu dimulai. Di lokasi yang berada di RT 05 RW 12 itu, para kader sudah mulai berkumpul dengan penuh antusias.

Mereka adalah Wiwit Purwanti, Maisaroh, Oki Asukawati, Dwi Mayasari, Jujuk, Shintyana Wulandari, Istiwati Kastianingsih, Vista Pratiska, M. Rouf, dan Widayanto. Hari itu menjadi momen penting bagi mereka karena untuk pertama kalinya mempraktikkan pembuatan kulit pangsit dan stik terigu sebagai bagian dari pengembangan usaha produktif Bank Sampah Pagak Bersinar.

Kegiatan tersebut dipandu oleh Ahmad Yani, aktivis lingkungan yang tergabung dalam program NIHR UB. Dengan memanfaatkan mesin pengaduk adonan (dough mixer) bantuan NIHR UB, para kader belajar mengolah bahan baku menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.

Doa sebelum memulai proses produksi

Menurut Ahmad Yani, praktik tersebut bukan sekadar pelatihan biasa. Kegiatan itu menjadi penanda dimulainya proses produksi setelah Bank Sampah Pagak Bersinar resmi berdiri pada Desember 2025.

“Hari ini selamatan mau mulai produksi,” ujar Ahmad Yani.

Tradisi selametan yang mengawali kegiatan pagi itu memiliki makna yang mendalam bagi masyarakat Jawa. Berasal dari kata salamah dalam bahasa Arab yang berarti keselamatan, kesehatan, dan perlindungan, selametan tidak hanya dimaknai sebagai bentuk doa bersama, tetapi juga simbol kebersamaan yang mempererat hubungan sosial masyarakat. Melalui ritual sederhana tersebut, warga berharap setiap ikhtiar yang dilakukan mendapat ridho Tuhan dan membawa manfaat bagi banyak orang.

Selama mesin dinyalakan dan adonan mulai diolah, seluruh peserta mengikuti doa bersama yang dipimpin Ahmad Yani. Setelah itu, suasana berubah menjadi lebih hangat ketika para hadirin dipersilakan menikmati hidangan yang telah disiapkan kader lingkungan.

Kader lingkungan diajarkan cara pengoperasian mesin pengaduk adonan atau Fomac dough mixer

Turut hadir dalam kegiatan tersebut dua enumerator lingkungan yang tengah melakukan penelitian etnografi di Desa Pagak, yakni Fitri Adilla Ningsrum, S.E. dan Muhammad Kanda Setia Putra, S.IP, bersama Field Facilitator NIHR UB. Obrolan ringan dan canda tawa mengiringi momen kebersamaan sebelum kegiatan inti dimulai.

Tak lama kemudian, para kader mulai mengambil posisi di sekitar peralatan produksi. Adonan dicampur, diuleni, dan diproses secara bergantian. Wajah-wajah penuh semangat terlihat saat mereka mencoba teknik baru yang diharapkan dapat menjadi sumber penghasilan tambahan bagi kelompok.

Lebih dari sekadar belajar membuat kulit pangsit, kegiatan ini merupakan langkah nyata pemberdayaan masyarakat. Pemanfaatan mesin-mesin bantuan dari NIHR UB diharapkan mampu mendorong produksi secara rutin dan berkelanjutan. Hasil usaha nantinya akan dikelola oleh kader lingkungan untuk memperkuat pilar ekonomi Bank Sampah Pagak Bersinar serta mendukung pengembangan berbagai program lainnya.

Menggoreng adonan menjadi kulit pangsit dan sitk terigu

Di tengah berbagai tantangan pengelolaan kelembagaan masyarakat, inisiatif ini menunjukkan bahwa bank sampah tidak hanya dapat berfungsi sebagai pusat pengelolaan lingkungan, tetapi juga sebagai ruang tumbuhnya ekonomi warga. Semangat gotong royong yang terbangun melalui kegiatan tersebut menjadi modal penting untuk menciptakan kemandirian organisasi sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Praktik pembuatan kulit pangsit dan stik terigu yang berlangsung pagi itu mungkin tampak sederhana. Namun, di balik adonan yang diolah bersama, tersimpan harapan besar tentang lahirnya usaha produktif yang dikelola oleh masyarakat sendiri. Sebuah langkah kecil yang menandai dimulainya perjalanan panjang menuju kemandirian ekonomi berbasis pemberdayaan.

Bank Sampah Pagak Bersinar pun tidak lagi hanya menjadi tempat berkumpulnya sampah yang bernilai, tetapi juga menjadi ruang lahirnya gagasan, keterampilan, dan peluang baru. Sebuah gebrakan yang layak diapresiasi, karena dari tangan-tangan kader lingkungan inilah semangat keberlanjutan dan kemandirian terus dirajut untuk masa depan Desa Pagak. *** [060626]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo     |     Editor: Budiarto Eko Kusumo

Leave a Comment