“Training is everything. The peach was once a bitter almond; cauliflower is nothing but cabbage with a college education.” — Mark Twain
Suasana Ruang Kelas S2 Biomedik di Lantai 6 Gedung A (GPP) Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FKUB), Rabu pagi (10/06), berbeda seperti hari-hari sebelumnya. Empat belas orang duduk berjejer dengan tatapan penuh perhatian. Sebagian membawa gawai, sebagian lainnya mencatat setiap penjelasan yang disampaikan. Mereka bukan mahasiswa yang sedang mengikuti perkuliahan, melainkan para calon enumerator yang tengah dipersiapkan untuk menjalankan misi penting di tengah masyarakat.
Hari itu, National Institute for Health and Care Research (NIHR) Universitas Brawijaya menggelar Training Enumerator Baseline Survey, sebuah pelatihan yang menjadi gerbang awal sebelum para enumerator terjun langsung melakukan skrining kesehatan warga berusia 40 tahun ke atas di desa-desa intervensi riset NIHR di Kabupaten Malang melalui aplikasi SMARThealth.

Di balik meja-meja kelas tersebut, sesungguhnya sedang berlangsung proses yang lebih besar daripada sekadar transfer pengetahuan. Pelatihan ini adalah ruang pembelajaran, latihan, sekaligus pembentukan kesiapan mental bagi mereka yang kelak akan menjadi ujung tombak pengumpulan data penelitian.
Sebanyak 14 enumerator yang akan ditempatkan di enam desa NIHR UB mengikuti pelatihan ini. Mereka terdiri atas tiga enumerator untuk Sumberejo, tiga untuk Pagak, dua untuk Tlogorejo, dua untuk Bakalan, dua untuk Krebet Senggrong, dan dua untuk Krebet. Turut hadir pula 16 peneliti NIHR UB yang akan mendampingi proses pelaksanaan pelatihan enumerator tersebut.
Kegiatan dimulai pukul 08.34 WIB dengan sapaan hangat dari Bernadeth Lolita, mahasiswa Magang Berdampak (MBKM) Riset NIHR UB yang bertugas sebagai pembawa acara. Suasana cair ketika para peserta memperkenalkan diri satu per satu dipandu oleh Research Fellow NIHR UB, Raissa Manika Purwaningtyas, S.Keb.Bd., M.Sc.

Namun suasana menjadi lebih serius saat Koordinator Research Capacity Strengthening (RCS) NIHR UB, dr. Holipah, Ph.D., memberikan sambutan. Ia mengingatkan bahwa keberhasilan sebuah penelitian sangat bergantung pada kualitas data yang diperoleh di lapangan.
“Baik buruknya data penelitian tergantung dari enumerator dalam bertugas nantinya,” tegas dr. Holipah.
Pernyataan itu menjadi penanda bahwa peran enumerator bukanlah pekerjaan administratif semata. Mereka adalah wajah pertama penelitian ketika berhadapan dengan masyarakat, sekaligus penjaga kualitas data yang akan menjadi dasar berbagai keputusan dan rekomendasi kesehatan.

Usai doa bersama yang dipimpin dr. Hikmawan Wahyu, Ph.D., acara dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng oleh dr. Holipah. Tradisi tersebut bukan sekadar seremoni pembukaan. Potongan puncak tumpeng melambangkan harapan agar seluruh rangkaian kegiatan penelitian berjalan lancar, selamat, dan menghasilkan capaian terbaik bagi masyarakat yang menjadi sasaran riset.
Setelah foto bersama dan pelaksanaan pre-test, peserta mulai memasuki inti pelatihan. Research Fellow Dwi Sari Puspaningtyas, S.Gz., MSPH, membuka sesi dengan memberikan gambaran menyeluruh mengenai penelitian NIHR UB. Mulai dari latar belakang penelitian, lokasi riset, hasil household listing, hasil pre-screening penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), hasil skrining penyakit kardiovaskular, hingga target sasaran yang akan dijangkau di Kabupaten Malang.
Dari paparan tersebut, para enumerator memahami bahwa tugas mereka tidak hanya mengumpulkan data. Mereka akan melakukan pengambilan data riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik, serta kualitas hidup warga. Selain itu, mereka juga berperan dalam mendampingi warga berisiko tinggi PPOK untuk pemeriksaan spirometri sesuai skema puskesmas setempat, sekaligus membantu pemasangan aplikasi JAGAPARU bagi warga berisiko tinggi penyakit kardiovaskular maupun yang telah terdiagnosis PPOK.

Memasuki sesi berikutnya, peserta diperkenalkan dengan logbook yang dijelaskan oleh Research Fellow Gita Kusnadi, S.Gz., MPH. Buku catatan tersebut akan menjadi “teman perjalanan” enumerator selama berada di lapangan. Melalui logbook, setiap perkembangan kunjungan, status pemasangan aplikasi JAGAPARU, hingga pelaksanaan pemeriksaan spirometri akan terdokumentasi secara sistematis.
Tidak kalah penting, Raissa Manika Purwaningtyas kemudian membekali peserta dengan pemahaman mengenai informed consent. Para enumerator diajak memahami bagaimana menjelaskan penelitian kepada warga secara etis, transparan, dan menghormati hak setiap calon responden sebelum berpartisipasi dalam penelitian.
Setelah pembagian enumerator kit dan istirahat siang, pelatihan berlanjut pada sesi yang paling dinantikan, yaitu praktik penggunaan aplikasi SMARThealth.

Dipandu oleh Research Fellow Fildzah Cindra Yunita, S.Kep., MPH, peserta belajar langkah demi langkah melakukan skrining dan memasukkan data ke dalam aplikasi. Tidak hanya mendengarkan penjelasan, mereka juga langsung mempraktikkan penggunaan aplikasi tersebut. Beberapa peserta terlihat sesekali bertanya, mencoba kembali, lalu mengulang hingga memahami setiap tahapan.
Di momen inilah esensi pelatihan benar-benar terlihat. Mereka yang sebelumnya belum familiar dengan sistem digital skrining kesehatan perlahan mulai memahami alur kerja aplikasi yang nantinya menjadi alat utama dalam pengumpulan data penelitian.
Pesan tersebut seolah selaras dengan ungkapan terkenal dari novelis dan penulis Amerika Mark Twain (1835-1910):
“Pelatihan adalah segalanya. Buah persik dulunya adalah almond pahit; kembang kol hanyalah kubis yang mendapat pendidikan tinggi.”

Kutipan itu menggambarkan bahwa kemampuan bukanlah sesuatu yang hadir begitu saja. Ia dibentuk melalui proses belajar, latihan, dan pengalaman. Demikian pula para enumerator yang mengikuti pelatihan ini. Mereka datang dengan latar belakang dan tingkat pengalaman yang berbeda, namun melalui proses pembelajaran yang terstruktur, mereka dipersiapkan menjadi tenaga lapangan yang kompeten dan siap menjalankan tugas.
Menjelang sore, pelatihan memasuki sesi pengenalan alat kesehatan yang kembali dipandu oleh Raissa. Fokus hari pertama bukan pada praktik pengukuran, melainkan pengecekan kelengkapan alat sekaligus penyerahan perangkat kesehatan yang nantinya akan digunakan saat skrining warga.
Pukul 15.26 WIB, hari pertama pelatihan resmi ditutup. Namun proses pembelajaran belum berakhir. Keesokan harinya, para peserta masih akan melanjutkan pelatihan dengan pengenalan aplikasi Early Warning Message System (EWS), simulasi penggunaan SMARThealth dan EWS melalui role play, serta pembagian kontrak kerja.

Dari luar, pelatihan ini mungkin tampak seperti kegiatan kelas biasa. Namun sesungguhnya, di ruangan itu sedang dipersiapkan para garda depan penelitian kesehatan masyarakat. Mereka ditempa untuk memastikan setiap data yang dikumpulkan akurat, setiap warga yang ditemui mendapatkan pendampingan yang tepat, dan setiap langkah penelitian berjalan sesuai tujuan.
Karena pada akhirnya, keberhasilan sebuah riset tidak hanya ditentukan oleh rancangan penelitian yang baik, tetapi juga oleh orang-orang yang bekerja langsung di lapangan. Dan proses menempa kemampuan mereka dimulai dari ruang kelas ber-AC itu, sebelum kemudian berlanjut ke desa-desa di Kabupaten Malang. *** [110626]
Oleh: Budiarto Eko Kusumo | Editor: Budiarto Eko Kusumo