Workshop Cultural Mapping: Memetakan Ruang, Merawat Cerita, Membangun Desa

A map is the greatest of all epic poems. Its lines and colors show the realization of great dreams.” ~ Gilbert Grosvenor, Founding Editor of National Geographic

Udara pagi yang sejuk dari pendingin ruangan Ballroom Lantai 7 Hotel Grand Miami Kepanjen tak mampu mengalahkan hangatnya semangat yang memenuhi ruangan pada Senin (08/06). Sejak pagi, puluhan orang telah berkumpul dengan membawa satu harapan yang sama, yaitu mengenali desa mereka lebih dalam agar pembangunan yang dirancang benar-benar tumbuh dari akar kehidupan masyarakat.

Sebanyak 27 peserta dari enam desa yang menjadi enumeration area NIHR Universitas Brawijaya (UB) hadir dalam Workshop Cultural Mapping: Penyusunan Strategi Pemberdayaan Berbasis Pemetaan Budaya Lokal. Mereka merupakan perwakilan kader lingkungan dan kader SMARThealth dari Desa Sumberejo, Pagak, dan Tlogorejo di Kecamatan Pagak, serta Desa Bakalan, Krebet Senggrong, dan Krebet di Kecamatan Bululawang. Di tengah mereka, turut hadir 19 anggota Tim NIHR UB yang mendampingi jalannya kegiatan.

Peserta berpose dengan Tim NIHR UB dalam Workshop Cultural Mapping di Ballroom Lantai 7 Hotel Grand Miami Kepanjen

Bagi sebagian orang, peta mungkin hanya dipahami sebagai gambar yang menunjukkan jalan, batas wilayah, atau titik-titik lokasi tertentu. Namun pagi itu, para peserta diajak melihat peta dari sudut pandang yang berbeda. Mereka belajar bahwa desa tidak hanya terdiri atas hamparan lahan, bangunan, atau sungai, tetapi juga tersusun dari cerita, tradisi, relasi sosial, ingatan kolektif, hingga nilai-nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Tepat pukul 08.33 WIB, kegiatan dimulai dengan sambutan hangat dari Master of Ceremony (MC), Putrianti Adinda Salsabila. Setelah memperkenalkan para narasumber dan membacakan susunan acara, seluruh peserta berdiri bersama menyanyikan lagu Indonesia Raya. Suasana kemudian menjadi lebih khidmat saat doa dipanjatkan sebelum rangkaian kegiatan dimulai.

Sambutan pertama disampaikan oleh Research Manager NIHR UB, Prof. Sujarwoto, S.IP., M.Si., MPA., Ph.D. Dalam pesannya, ia menegaskan pentingnya pemetaan budaya sebagai landasan dalam merancang program pemberdayaan masyarakat. Menurutnya, sebuah program akan lebih tepat sasaran ketika dibangun berdasarkan pemahaman yang utuh terhadap kebutuhan dan karakter masyarakat setempat.

Sambutan dari Research Manager NIHR UB di acara Workshop Cultural Mapping

Pandangan serupa disampaikan oleh Koordinator Community Engagement and Involvement (CEI), Dr. Rizka Amalia, S.KPm., M.Si. Dengan pertanyaan sederhana, “Kenapa sih harus ada ini?”, ia mengajak peserta merenungkan pentingnya mengenali budaya lokal sebelum berbicara mengenai perubahan dan pembangunan. Desa bukanlah ruang kosong yang menunggu diisi gagasan dari luar. Desa telah memiliki identitas, pengetahuan, dan kekuatan yang hidup di tengah masyarakatnya.

Setelah sesi sambutan, Manager CEI, Serius Miliyani Dwi Putri, SKM., M.Ked.Trop., memberikan pengantar mengenai konsep cultural mapping. Ia menjelaskan tujuan kegiatan, proses yang akan dilakukan, serta hasil yang diharapkan dari workshop tersebut. Peserta diajak memahami bahwa pemetaan budaya bukan sekadar kegiatan dokumentasi, melainkan proses mengenali kembali berbagai aset yang selama ini telah dimiliki desa.

Menjelang pukul 09.03 WIB, suasana mencair melalui sesi perkenalan yang dipandu oleh Sekar Aqila Salsabilla, S.AP., M.AP. Sebelum peserta saling mengenal, terlebih dahulu dilakukan pengisian informed consent sebagai bagian dari kebutuhan dokumentasi penelitian. Setelah itu, satu per satu peserta memperkenalkan diri, dimulai dari kelompok Desa Krebet Senggrong yang duduk di bagian depan ballroom.

Pengantar tujuan Workshop Cultural Mapping dari Manager CEI NIHR UB

Memasuki sesi materi utama, peserta diajak menyelami makna pemetaan dari perspektif yang lebih luas. Kartografer Project Cultural Mapping NIHR UB, Arif Delviawan, S.Hut., M.Agr., Ph.D., menyampaikan materi bertajuk “Pengenalan Kartografi Komunitas dan Sistem Simbol Spasial: Memetakan Ruang, Merawat Cerita, Membangun Desa.”

Dalam paparannya, Dr. Arif menekankan bahwa kualitas sebuah peta sangat ditentukan oleh kualitas informasi yang digunakan untuk menyusunnya. Ia mengingatkan bahwa setiap sketsa yang dibuat hari ini dapat memengaruhi arah pembangunan desa di masa mendatang.

“Kalau informasi salah maka hasilnya juga akan kurang akurat. Sketsa kita hari ini nanti akan menentukan kemajuan desa besok. Jangan bilang pemberdayaan, jika kita belum mengenal kita sendiri,” ujarnya di hadapan peserta.

Perkenalan kader SMARThealth Desa Sumberejo dengan kader lingkungan Desa Pagak

Pernyataan tersebut seolah menegaskan bahwa proses memetakan desa pada dasarnya adalah proses mengenali diri. Sebab bagaimana mungkin sebuah komunitas merancang masa depan jika belum memahami kekayaan yang telah dimilikinya sendiri?

Gagasan itu sejalan dengan kutipan terkenal dari Gilbert Grosvenor (1875-1966), pendiri dan editor National Geografic, yang mengatakan:

“Peta adalah puisi epik terhebat dari semuanya. Garis dan warnanya menunjukkan perwujudan mimpi-mimpi besar.”

Dalam konteks workshop ini, peta tidak lagi sekadar kumpulan simbol dan koordinat, melainkan gambaran tentang harapan, identitas, serta potensi yang dimiliki masyarakat desa.

Pemaparan materi pertama dari Kartografer Project Cultural Mapping NIHR UB

Setelah jeda singkat untuk menikmati kopi dan kudapan dengan yel-yel penuh semangat, “Paham materi, siap beraksi!”, kegiatan berlanjut dengan materi kedua yang disampaikan oleh antropolog Project Cultural Mapping NIHR UB, Faridha Hanim, S.P., M.Si.

Melalui materi “Identitas Sosial-Kultural Desa dan Teknik Bertanya”, peserta diajak memahami cara mengidentifikasi aset dan modal sosial yang ada di desa. Faridha mengingatkan bahwa ruang tidak hanya berbentuk fisik. Ruang juga tercipta dari interaksi manusia, kelompok sosial, cara berpikir, perbedaan pandangan, dan berbagai aktivitas budaya yang berlangsung di dalamnya.

Sebuah lapangan, jalan desa, balai pertemuan, atau bahkan warung kecil di sudut kampung dapat memiliki makna yang berbeda bagi setiap orang yang menggunakannya. Karena itulah, menggali makna ruang menjadi bagian penting dalam memahami identitas sebuah desa secara lebih utuh.

Pemaparan materi kedua oleh Antropolog Project Cultural Mapping NIHR UB

Usai beristirahat, makan siang, dan melaksanakan ibadah, peserta kembali memenuhi ballroom pada siang hari. Sebuah sesi ice breaking dan kuis ringan membuat suasana kembali hidup sebelum mereka memasuki bagian paling penting dari workshop, yaitu praktik pemetaan.

Pada sesi ini, para kader dibekali peta tematik dan legenda yang telah disiapkan oleh tim. Mereka kemudian diminta menelaah, memeriksa, dan mendiskusikan berbagai informasi yang terdapat di dalamnya. Diskusi berlangsung aktif. Peserta saling bertukar cerita mengenai lokasi-lokasi penting, ruang sosial yang berpengaruh dalam kehidupan warga, hingga aset budaya yang selama ini mungkin dianggap biasa tetapi sesungguhnya memiliki nilai besar bagi desa.

Di sinilah esensi cultural mapping benar-benar terasa. Pemetaan tidak dilakukan oleh orang luar yang datang membawa asumsi, melainkan oleh masyarakat yang hidup dan tumbuh bersama ruang yang mereka petakan. Pengetahuan lokal yang selama ini tersimpan dalam ingatan warga perlahan dituangkan menjadi informasi yang dapat digunakan sebagai dasar perencanaan pembangunan.

Kartografer memandu praktik cultural mapping bagi kader

Menjelang sore, kegiatan ditutup dengan sesi Mentimeter, foto bersama, dan refleksi atas proses yang telah dilalui sepanjang hari. Tepat pukul 15.40 WIB, workshop berakhir. Namun yang selesai hanyalah acaranya. Proses mengenali, merawat, dan memaknai desa justru baru saja dimulai.

Sebab pada akhirnya, pembangunan bukan hanya tentang membangun jalan, gedung, atau fasilitas fisik lainnya. Pembangunan yang berkelanjutan lahir dari kemampuan masyarakat memahami siapa mereka, apa yang mereka miliki, dan ke mana mereka ingin melangkah bersama.

Apa arti pemberdayaan jika solusi datang tanpa memahami akar identitas? Workshop cultural mapping menjawab kegelisahan itu dengan metode partisipatif. Bukan pihak luar memutuskan, melainkan komunitas memetakan aset budaya mereka sendiri, lalu merumuskan strategi pemberdayaan yang menghormati tradisi sekaligus membuka peluang ekonomi. Hasilnya bukan sekadar proyek singkat yang diharapkan, melainkan rencana yang menjaga kearifan lokal sambil memberi ruang bagi generasi baru untuk berinovasi. *** [090626]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo     |     Editor: Budiarto Eko Kusumo

Leave a Comment