Rintik gerimis sempat turun di pagi hari. Udara dingin menyelimuti Dusun Sumberwaru, Desa Tamanagung, Rabu (8/7). Langit tampak muram sebentar, tetapi suasana di sebuah rumah di Jalan Pahlawan, Dusun Sumberwaru RT 02 RW 06 Desa Tamanagung, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi, justru sebaliknya. Tawa anak-anak, sapaan hangat para kader, serta langkah warga yang datang silih berganti menghadirkan kehangatan yang mengalahkan dinginnya cuaca.
Rumah milik Ibu Sri Wahyuni, tepat di sebelah barat Musholla Darunnajah, pagi itu kembali menjelma menjadi pusat pelayanan kesehatan masyarakat. Garasi dan teras rumah disulap menjadi ruang pemeriksaan, sementara halaman depan menjadi tempat warga mengawali perjalanan mereka menjaga kesehatan melalui Posyandu Teratai 4.

Sejak pukul delapan pagi, warga sudah memenuhi lokasi. Sebagian menggendong balita, sebagian lagi datang sambil menggandeng cucu atau berjalan perlahan menuju meja pendaftaran. Mereka seolah mafhum bahwa datang lebih awal berarti memperoleh pelayanan lebih nyaman sebelum aktivitas lain menanti.
Tak jauh dari sana, hanya sekitar 140 meter, Tim Enumerator Baseline Survey menjalankan agenda lapangan. Kedekatan lokasi itu dimanfaatkan oleh Field Facilitator NIHR Universitas Brawijaya (UB) yang sekaligus juga Peneliti dalam Bidang Pengawas Data Lapangan/Supervisor SMARThealth untuk menyempatkan diri melihat langsung denyut pelayanan kesehatan di Posyandu Teratai 4 sebelum melanjutkan tugas berikutnya.
Hari itu, pelayanan kesehatan di Desa Tamanagung berlangsung bersamaan. Selain Posyandu Teratai 4, Pendopo Balai Desa juga menjadi lokasi penyelenggaraan Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP) Wijaya Kusuma dan Posyandu Kesehatan Jiwa. Meski demikian, Posyandu Teratai 4 tetap dipadati warga.

Bagi masyarakat Sumberwaru, posyandu bukan sekadar agenda bulanan, melainkan ruang bertemu, berbagi kabar, sekaligus memastikan kondisi kesehatan keluarga tetap terpantau.
Transformasi layanan melalui Integrasi Layanan Primer (ILP) membuat pelayanan kesehatan kini semakin menyeluruh. Dalam satu kunjungan, masyarakat dari berbagai kelompok usia, mulai ibu hamil, balita, remaja, dewasa hingga lansia, dapat memperoleh pemeriksaan sesuai kebutuhannya. Pelayanan menjadi lebih sederhana, lebih dekat, dan lebih mudah dijangkau.
Di meja paling depan, dua kader, Bifitrotil Khoiriyah dan Sulaiha, menyambut setiap warga yang datang. Senyum mereka menjadi sapaan pertama sebelum masyarakat memasuki tahapan pemeriksaan berikutnya.

Garasi rumah kemudian menjadi titik paling sibuk. Ratna Mujayanah dengan cekatan menimbang berat badan setiap peserta. Khusus balita, proses pencatatan kini jauh lebih praktis berkat penggunaan aplikasi SAGA yang terhubung langsung dengan timbangan digital berbasis bluetooth.
Begitu penimbangan selesai, data otomatis tersimpan di aplikasi tanpa perlu dicatat ulang. Inovasi sederhana ini mempercepat pelayanan sekaligus meminimalkan kesalahan pencatatan. Seluruh desa di wilayah kerja Puskesmas Benculuk kini telah memanfaatkan teknologi tersebut.
Tak jauh dari meja timbangan, Binti Zulaikah melanjutkan pemeriksaan tinggi badan. Untuk peserta dewasa dan lansia, pengukuran dilengkapi dengan pemeriksaan lingkar perut sebagai bagian dari deteksi dini risiko penyakit tidak menular.

Setelah itu, alur pelayanan bercabang mengikuti kelompok sasaran. Balita bersama orang tuanya menuju meja Bidan Ika Setiya Dhiyan Puspitha, S.Keb. Di sana, setiap pertumbuhan anak dipantau dengan saksama.
Orang tua mendapat penjelasan mengenai perkembangan buah hati mereka, sekaligus menerima Pemberian Makanan Tambahan (PMT) sebagai upaya mendukung pemenuhan gizi anak.
Sementara itu, peserta dewasa dan lansia melanjutkan pemeriksaan tekanan darah dan kadar gula darah bersama kader ILP, Luckita Anjarsari. Di sampingnya, Kader Pembangunan Manusia (KPM), Faulina, satu per satu mewawancarai warga sambil mengisi formulir skrining Penyakit Tidak Menular (PTM). Obrolan yang berlangsung santai itu sesungguhnya menjadi langkah awal mendeteksi berbagai risiko kesehatan yang sering kali datang tanpa gejala.

Di teras rumah, pelayanan berlanjut bersama Koordinator PTM Puskesmas Benculuk, Dian Purnamasasi, A.Md.Kep. Selain melakukan skrining kesehatan mata, ia juga memberikan edukasi dan konseling mengenai pencegahan penyakit tidak menular. Bagi warga yang membutuhkan penanganan lebih lanjut, obat dapat langsung diberikan pada saat itu juga.
Posyandu Teratai 4 melayani warga dari dua wilayah, yakni RW 05 yang terdiri atas dua RT dan RW 06 dengan tiga RT. Hingga pelayanan usai, tercatat 75 warga memanfaatkan layanan kesehatan. Sebanyak 23 balita menjalani pemantauan tumbuh kembang, 27 warga mengikuti skrining mata, 19 orang menjalani skrining penyakit tidak menular, serta dua ibu hamil melakukan pemeriksaan kehamilan dari total empat sasaran ibu hamil yang tercatat.
Di tengah kesibukan pelayanan pagi itu, ada satu pemandangan yang mengundang perhatian. Seorang bule tampak ikut mengantre bersama warga lainnya. Tanpa perlakuan berbeda, ia mengikuti setiap tahapan pelayanan sebagaimana peserta lain.

Momen itu menjadi gambaran sederhana bahwa pelayanan kesehatan berbasis masyarakat tidak mengenal sekat. Siapa pun yang membutuhkan, diterima dengan keramahan yang sama.
Cuaca sudah mulai cerah ketika pelayanan selesai. Namun pagi itu, warga pulang bukan hanya membawa hasil pemeriksaan kesehatan. Mereka juga membawa rasa tenang karena kondisi diri dan keluarganya telah dipastikan tetap terpantau.
Di Posyandu Teratai 4, kesehatan tidak hanya diukur melalui angka pada timbangan, tekanan darah, atau kadar gula darah. Kesehatan tumbuh dari kepedulian, gotong royong, dan ketulusan para kader serta tenaga kesehatan yang terus hadir. *** [080726]
Oleh: Budiarto Eko Kusumo | Editor: Budiarto Eko Kusumo