“Both commensality, the act of eating together, and the sharing of food are powerful means by which human beings create, express, and solidify feelings of mutual trust, intimacy, and kinship.” – Naomi Leite, anthropologist, in Unorthodox Kin
Senja merayap pelan di Dusun Krapyak Jaya dengan guyuran hujan lebat, ketika aroma gorengan dan merahnya warna irisan semangka menyambut siapa saja yang datang. Dua hari setelah Desa Tlogorejo menggelar agenda serupa, Senin (02/03) giliran Kader Lingkungan Desa Krebet Senggrong menautkan kebersamaan dalam balutan buka puasa bersama (bukber).
Rumah modin, Bapak Mis Muliadi, di RT 15 RW 03, Desa Krebet Senggrong, Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang, menjadi titik temu yang sederhana namun sarat makna bagi para undangan bukber, atau iftar tersebut.
Di ruang tamu yang disulap menjadi ruang silaturahmi, delapan dari sepuluh Kader Lingkungan hadir, yaitu Maslina, Musdziiyah, Mustatik, Nadzirotum, Nur Rohma, Sanik, Lidya Mas’udah, dan Yeni Mariana.

Mereka duduk berdampingan dengan tamu undangan dari Tim NIHR UB – Sekar Aqila Salsabilla, S.AP., M.AP.; Dea Aginta Karina Br Tarigan, S.AP.; bersama Field Facilitator – serta dua Enumerator Lingkungan, Reivaldi Adrian dan Yunifa Fatin Hanan Bilqis, S.AP. Praktisi Lingkungan Ahmad Yani, jajaran Bumdes, dan petugas TPS turut melengkapi lingkar kebersamaan sore itu.
Ramadan selalu memiliki denyut yang berbeda. Ia bukan sekadar bulan menahan lapar dan dahaga, melainkan ruang refleksi yang mempertemukan hati. Survei Maret 2025 yang dikutip dari Snapcart menunjukkan bahwa 75% masyarakat Indonesia berencana menghadiri atau telah berpartisipasi dalam acara buka puasa bersama. Angka itu seolah menemukan wujudnya di Krebet Senggrong, di rumah sederhana yang sore itu dipenuhi tawa ringan dan sapaan hangat.
Menu yang tersaji tak main-main. Puluhan jenis kudapan, buah-buahan segar, dan minuman pembuka tersusun rapi di meja depan. Sementara aneka hidangan utama berderet di meja panjang di belakang ruang tamu, menunggu waktu berbuka tiba. Namun lebih dari ragam sajian, yang terasa mengenyangkan adalah perasaan diterima dan dihargai dalam satu lingkar yang setara.
Ketika azan Maghrib berkumandang, percakapan terhenti sejenak. Doa-doa hening meninggi ke langit, tangan-tangan meraih takjil, dan senyum merekah di antara tegukan pertama.

Setelah menikmati hidangan, mereka bergiliran melaksanakan salat Maghrib. Setelah itu, percakapan kembali mengalir. Kali ini membahas isu-isu lingkungan dan pengelolaan sampah di desa.
Tak ada podium. Tak ada notulen resmi. Diskusi berlangsung santai hingga menjelang azan Isya’. Justru dalam suasana informal itulah ide-ide terasa lebih jernih. Percakapan spontan di luar struktur formal, sebagaimana dijelaskan oleh Swain dan King dalam Using Informal Conversations in Qualitative Research (2022), mampu menciptakan komunikasi yang lebih cair dan menghasilkan data yang lebih naturalistik. Obrolan yang mengalir tanpa tekanan protokol kerap membuka ruang kejujuran yang tak selalu muncul dalam forum resmi.
Buka puasa bersama di Krebet Senggrong juga menegaskan dimensi sosial dari praktik makan bersama. Dalam Commensal Attraction: Eating Together as a Social Tool (2024), Neuman menjelaskan bahwa kebiasaan makan bersama memiliki implikasi substansial terhadap bagaimana kehidupan sosial dikonfigurasi. Kerja sama dalam pengadaan makanan, pembagian peran, hingga berbagi hidangan mencerminkan timbal balik dan redistribusi yang menguatkan ikatan sosial.
Hal ini sejalan dengan pandangan Dosen Antropologi SOAS (School of Oriental and African Studies ) University of London, Naomi Leite, dalam Unorthodox Kin: Portuguese Marranos and the Global Search for Belonging (2017) yang menyatakan:

“Baik kebersamaan, yaitu tindakan makan bersama, maupun berbagi makanan adalah cara ampuh yang digunakan manusia untuk menciptakan, mengekspresikan, dan memperkuat perasaan saling percaya, keintiman, dan kekerabatan.”
Di ruang tamu rumah modin itu, kutipan tersebut menemukan relevansinya yang terwujud dalam sendok yang saling bersentuhan, piring yang berpindah tangan, dan tawa yang pecah bersahutan.
Bukber sore itu bukan semata fungsi biologis setelah seharian berpuasa. Ia adalah ruang temu antara kepedulian sosial dan tanggung jawab ekologis. Dari meja makan ke wacana pengelolaan sampah, dari takjil ke strategi lingkungan, yang semuanya berkelindan dalam satu tarikan napas Ramadan.
Seiring malam turun perlahan, satu per satu peserta berpamitan. Namun yang tertinggal bukan hanya kenyang di perut, melainkan tekad yang diperbarui. Di Krebet Senggrong, buka puasa bersama menjadi lebih dari tradisi tahunan. Ia menjelma menjadi jembatan yang menghubungkan iman dengan aksi, kebersamaan dengan keberlanjutan, dan percakapan santai dengan perubahan nyata. *** [030326]
Oleh: Budiarto Eko Kusumo | Editor: Budiarto Eko Kusumo