“In meetings philosophy might work, on the field practicality works.” — Amit Kalantri
Mendung tebal mengelayuti Desa Krebet Senggrong ketika azan Maghrib tinggal hitungan menit. Di halaman rumah Modin Mis Muliadi, tempat buka puasa bersama Kader Lingkungan digelar, obrolan ringan bercampur aroma hidangan yang mulai tersaji. Namun, bagi sebagian orang sore itu, waktu menunggu bukan sekadar jeda melainkan juga sebuah peluang.
Lima puluh empat menit menjelang bukber, Kader Lingkungan Sanik mengajak Enumerator COM-B, Reivaldi Adrian, memanfaatkan waktu tunggu buka puasa untuk menyapa target responden di sekitar lokasi.
Ajakan itu terdengar oleh Field Facilitator NIHR Universitas Brawijaya (UB) yang berdiri tak jauh dari mereka. Tanpa banyak kata, ia ikut melangkah. Bukan sekadar berjalan, tetapi menjalankan satu peran penting dalam riset lapangan, yakni supervisi pengumpulan data.
Beberapa hari sebelumnya, pada Senin (23/02), Field Facilitator sebenarnya telah melakukan briefing dengan Tim Enumerator COM-B se-Bululawang di basecampnya. Pertemuan itu membahas protokol, etika, hingga teknis wawancara.

Namun, Senin (02/03) sore itu menjadi momen berbeda. Ia tak lagi berada di ruang diskusi, melainkan di lorong-lorong kampung, menyaksikan langsung praktik pengumpulan data dari rumah ke rumah.
Sebagaimana ditegaskan oleh Deshpande & Rao dalam Reflective Practice and Supervision in Qualitative Research: Enhancing Credibility and Care in Studies on Sensitive Topics (2024), supervisi dalam penelitian berperan krusial untuk menjaga akurasi, kepatuhan etika, dan integritas data. Tanpa pengawasan yang memadai, bias dan kesalahan bisa merusak validitas riset. Dalam konteks inilah Field Facilitator hadir guna memastikan setiap langkah enumerator tetap sejalan dengan protokol COM-B yang dijalankan di wilayah enumerasi NIHR.
Perjalanan dimulai dari rumah Modin menuju RT 14 RW 03. Pintu diketuk, nama dipanggil oleh Kader Sanik. Sunyi. Mungkin responden belum pulang. Mereka beralih ke rumah di seberang jalan, yang sebelumnya tampak kosong. Kali ini beruntung, responden ditemui.
Dalam proses wawancara, baik kader maupun Field Facilitator membantu menjelaskan tujuan penelitian agar responden memahami konteks dan manfaatnya. Peran supervisi bukan untuk mengambil alih, melainkan menguatkan maupun memberikan umpan balik, memastikan komunikasi berjalan etis, serta menjaga kualitas interaksi.
Seperti diungkapkan Phillips-Salimi et al. dalam Principles and strategies for monitoring data collection integrity in a multi-site randomized clinical trial of a behavioral intervention (2011), supervisor dan koordinator lapangan perlu aktif memantau, memberi masukan, serta meminimalkan potensi penolakan demi menjaga mutu wawancara.

Dari sana, rombongan kecil itu bergeser ke barat, sekitar lima rumah jaraknya. Namun kembali, responden belum pulang. “Memang perlu kesabaran,” ujar Kader Sanik singkat. Menurut pengamatannya, mayoritas warga lebih mudah ditemui pada malam hari.
Di sinilah dinamika lapangan berbicara. Karakter responden bukan sulit, hanya soal waktu. Karena itu, dalam praktik penelitian, enumerator kerap disarankan menetap di basecamp dalam area enumerasi.
Tujuannya sederhana namun strategis, yaitu fleksibilitas jadwal kunjungan. Jika enumerator pulang ke rumah masing-masing, responden yang baru tiba menjelang Maghrib atau malam hari berisiko dianggap “sulit ditemui” dan ujung-ujungnya “diinput menolak.”
Field Facilitator pun menyarankan solusi praktis, yakni membuat janji ulang selepas tarawih. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip supervisi modern yang tidak hanya menekankan pengawasan, tetapi juga pembimbingan metodologis dan penguatan keterampilan problem solving, sebagaimana diulas dalam Sociology.Institute. Supervisi yang efektif menyeimbangkan kontrol dan otonomi, sekaligus mendorong pertumbuhan profesional enumerator.
Sore itu menjadi pengingat bahwa teori dan praktik sering kali berjalan di jalur berbeda. Pertemuan dan briefing memang penting sebagai fondasi. Namun, kehadiran langsung di lapangan memberi perspektif yang tak tergantikan.

Seperti kata Amit Kalantri, penulis tiga buku kelahiran Akola, India, yaitu “I Love You Too“, “5 Feet 5 Inch Run Machine – Sachin Tendulkar“, dan “One Bucket of Tears“
“Dalam pertemuan, filsafat mungkin berhasil, tetapi di lapangan, kepraktisanlah yang lebih efektif.”
Kalimat itu terasa nyata di Desa Krebet Senggrong. Briefing di basecamp membangun kerangka berpikir, tetapi langkah kaki di jalan kampunglah yang menguji ketangguhan metode.
Menjelang azan Maghrib, setelah janji kunjungan ulang disepakati, mereka kembali ke rumah Modin Mis Muliadi. Di sana, hidangan telah siap dan warga mulai berkumpul. Bukber sore itu bukan sekadar perjamuan, melainkan ruang refleksi kecil tentang arti kerja lapangan: kesabaran, adaptasi, dan kolaborasi.
Di sela menu berbuka puasa bersama (iftar) dan doa yang dipanjatkan, kerja lapangan sore itu menemukan maknanya. Supervisi bukan sekadar memastikan kuesioner terisi lengkap, melainkan menjaga proses tetap manusiawi dengan menghargai waktu warga, membangun kepercayaan, dan merawat kualitas data. Dari Desa Krebet Senggrong, senja mengajarkan bahwa riset yang baik lahir dari ketelitian yang dibarengi empati. *** [030326]
Oleh: Budiarto Eko Kusumo | Editor: Budiarto Eko Kusumo