Mengetuk Pintu Kedua: Strategi Revisit untuk Mengangkat Completion Rate dalam NIHR-GHRC NCDs & EC

Completion rates, also called success rates, are the most fundamental of usability metrics.” — Jakob Nielsen

Di tengah teriknya sinar mentari di Desa Tlogorejo, Kecamatan Pagak, Kabupaten Malang, sebuah upaya sunyi namun krusial sedang disusun rapi, yaitu mengembalikan langkah-langkah yang sempat terhenti dalam perjalanan penelitian. Di sinilah “revisit” bukan sekadar kunjungan ulang, melainkan strategi untuk menjaga nyawa sebuah riset tetap utuh – lengkap, valid, dan dapat dipercaya.

Completion rate (CR), atau tingkat penyelesaian, selama ini menjadi tolok ukur sederhana namun menentukan dalam dunia penelitian. Ia merepresentasikan seberapa banyak responden yang benar-benar menyelesaikan seluruh rangkaian studi dari awal hingga akhir.

Mengetuk Pintu Kedua: Strategi Revisit untuk Mengangkat Completion Rate dalam NIHR-GHRC NCDs & EC
Kader kesehatan Desa Tlogorejo berpose dengan Kepala Puskesmas Pagak dan rombongan, tenaga kesehatan Pustu Tlogorejo, Ketua TP PKK Desa Tlogorejo, dan Tim NIHR UB di sela-sela pelatihan

Dalam praktiknya, angka ini bukan sekadar statistik dingin. Ia berbicara tentang partisipasi, kepercayaan, dan kualitas interaksi antara enumerator dan responden. Bahkan, Jakob Nielsen, seorang konsultan kegunaan web Denmark, peneliti interaksi manusia-komputer, dan salah satu pendiri Nielsen Norman Group, pernah menegaskan:

“Tingkat penyelesaian, yang juga disebut tingkat keberhasilan, adalah metrik kegunaan yang paling mendasar.”

Pernyataan ini meneguhkan bahwa keberhasilan sebuah sistem, termasuk penelitian lapangan, berakar pada sejauh mana proses itu dapat dituntaskan.

Namun, realitas di lapangan tidak selalu sejalan dengan harapan. Dalam pelaksanaan penelitian NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC), perjalanan dari tahap Household Listing menuju Pre-Screening menunjukkan penurunan capaian CR.

Pembagian tablet dan charger kepada kader kesehatan Desa Tlogorejo, Kecamatan Pagak, Kabupaten Malang

Data di Kabupaten Malang dari 6 desa mengungkapkan cerita yang tak sederhana: 903 responden tidak dapat ditemui, 1.903 menolak, 393 bermigrasi, 27 tidak diketahui, 4 meninggal dunia, dan sebagian kecil lainnya bekerja di luar kota atau negara. Angka-angka ini bukan sekadar kategori, melainkan potret dinamika sosial yang memengaruhi jalannya penelitian.

Fenomena ini sejalan dengan temuan Rodriguez-Segura dan Schueler (2023) tentang “efek enumerator”. Bahwa variasi dalam pelatihan, konsistensi, dan keterampilan komunikasi petugas lapangan dapat berdampak besar pada tingkat respons dan kualitas data. Ketika interaksi awal tidak cukup kuat membangun kepercayaan, maka peluang responden untuk menyelesaikan studi pun ikut merosot.

Dari titik inilah gagasan revisit menemukan relevansinya. Kunjungan ulang bukan hanya upaya administratif untuk mengejar target, melainkan pendekatan yang lebih humanis, yakni memberi ruang kedua bagi responden untuk terlibat, memahami, dan akhirnya bersedia berpartisipasi. Ia menjadi jembatan antara data yang terputus dan harapan akan kelengkapan.

Penjelasan Lembar Persetujuan

Senin siang (30/03), di Pendopo Balai Desa Tlogorejo, langkah konkret itu dimulai. Tim NIHR Universitas Brawijaya (UB) melatih sembilan kader kesehatan desa – Fadilah Tri Putiasih, Fariq Faroni, Lailatus Rahmi, Mita Trisusanti, Moh. Halim, Nabela Narurita, Nia Ernawati, Parianta Hadi, dan Supinah – dalam sebuah misi yang mereka sebut sebagai “sapu bersih” – sebuah gerakan sistematis untuk meningkatkan capaian CR melalui revisit terhadap responden yang diinput oleh enumerator terdahulu sebagai declined (menolak). Pelatihan ini bukan sekadar transfer pengetahuan teknis, tetapi juga penanaman semangat untuk membangun ulang komunikasi dengan responden.

Kegiatan dimulai pukul 12.47 WIB, diawali dengan pembagian lembar persetujuan dan perangkat tablet lengkap dengan perlengkapannya oleholeh Meutia Fildzah Sharfira, SKM, MPH. Satu per satu, kader diperkenalkan pada detail operasional: dari cara mengisi lembar persetujuan dan penggunaan aplikasi SMARThealth oleh Dwi Sari Puspaningtyas, S.Gz., MSPH, hingga pengelolaan bahan medis habis pakai seperti sarung tangan, alcohol swab, hingga alat pemeriksaan sederhana. Di balik prosedur itu, tersimpan tujuan yang lebih besar, yaitu menciptakan pengalaman interaksi yang lebih profesional dan meyakinkan bagi responden.

Pelatihan ini juga dihadiri oleh berbagai unsur, seperti dr. Cynthia Aristi P.R. (Kepala Puskesmas Pagak), Sulih Mintarum, S.T. (Kepala TU Puskesmas Pagak); Totok (driver Puskesmas Pagak); Sulianik, A.Md.Keb. (Bidan Pustu Tlogorejo), Wahono, S.Kep.Ners. (Perawat Pustu Tlogorejo), dan Sulis Nurhayati (Ketua TP PKK Desa Tlogorejo). Kehadiran mereka memperlihatkan bahwa upaya meningkatkan completion rate bukanlah kerja individu, melainkan kolaborasi lintas peran.

Kader kesehatan berlatih penggunaan aplikasi SMARThealth dengan Tablet

Menjelang penutupan, para kader tidak hanya dibekali keterampilan, tetapi juga motivasi oleh Field Facilitator NIHR UB. Mereka diingatkan bahwa setiap pintu yang diketuk kembali adalah kesempatan kedua, bukan hanya bagi responden, tetapi juga bagi kader kesehatan untuk menjadi lebih utuh.

Dalam konteks lembaga donor global, standar completion rate seringkali dipatok tinggi, bahkan mencapai 94 persen. Meski demikian banyak peneliti yang menempatkan angka 90 persen sebagai batas yang dapat diterima, upaya menuju angka tersebut tetap membutuhkan strategi yang adaptif. Revisit menjadi salah satu jawaban untuk mengubah kegagalan awal menjadi peluang lanjutan.

Pada akhirnya, cerita tentang revisit di Tlogorejo bukan hanya tentang angka yang ingin dinaikkan. Ia adalah kisah tentang ketekunan, tentang pentingnya membangun ulang kepercayaan, dan tentang bagaimana penelitian yang baik tidak hanya bergantung pada metode, tetapi juga pada kesediaan untuk kembali dengan mengetuk pintu yang sama, dengan pendekatan yang lebih baik. *** [300326]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo     |     Editor: Budiarto Eko Kusumo

Leave a Comment