“What is important is not what you hear said, it’s what you observe.” — Michael Connelly, Trunk Music
Langit masih menyisakan mendung tipis ketika langkah itu berlanjut dari ruang audiensi menuju jalanan desa. Usai mengikuti pertemuan antara Research Manager NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) Universitas Brawijaya (UB) dengan Kepala Dinas Kesehatan Malang beserta jajarannya pada Kamis (26/02), Field Facilitator NIHR UB – yang mendapat amanat dari Koordinator Theme 2: Air Pollution and Plastic Combustion serta Koordinator Lapangan COM-B – tak memilih kembali ke SMARThealth NIHR UB Site Office. Ia justru berbelok arah menuju Desa Pagak, Kecamatan Pagak, Kabupaten Malang. Di sanalah denyut penelitian benar-benar berdetak di lapangan.
Supervisi, dalam dunia penelitian, bukan sekadar daftar hadir di lapangan (enumeration area) atau bersua dengan para enumerator saja. Ia adalah proses pemantauan, pembimbingan, dan pengawasan sistematis terhadap enumerator untuk memastikan data yang dikumpulkan valid, reliabel, dan berjalan sesuai protokol.

Field Facilitator yang juga bertugas sebagai Pengawas Bidang Data di Lapangan memahami bahwa kualitas data lahir dari kualitas proses. Maka, kunjungan lapangan menjadi bagian tak terpisahkan. Mengamati langsung bagaimana enumerator mengetuk pintu, memperkenalkan diri, meyakinkan responden, melakukan wawancara, hingga menempelkan stiker penanda rumah tangga sasaran, semuanya adalah detail yang tak tergantikan oleh laporan tertulis.
“Yang penting bukanlah apa yang Anda dengar dikatakan, melainkan apa yang Anda amati,” kata Michael Connelly, seorang penulis novel detektif dan fiksi kriminal lainnya asal Amerika, dalam Trunk Music (1997).
Kutipan itu terasa hidup di Dusun Sumbernongko hari itu. Sebab dalam supervisi, laporan bisa saja rapi, tetapi realitas lapangan kerap menyimpan dinamika yang tak terduga.
Siang itu, dua enumerator COM-B Desa Pagak – Fitri Adilla Ningrum, S.E. dan Andhika Krisnaloka, S.Sos. – tengah menghadapi kendala lapangan, yaitu pendampingan kader yang mendadak tak tersedia. Satu kader sakit, satu lainnya berhalangan. Tanpa pendamping lokal, jadwal pengumpulan data terancam meleset atau dikawatirkan terjadi pelambatan dalam target capaian harian.

Supervisi yang efektif bukanlah tentang mengelola secara detail atau mencari kesalahan. Ia lebih menyerupai ruang aman, tempat pekerja lapangan dapat merefleksikan praktik mereka, mendiskusikan hambatan, dan mengembangkan keterampilan. Field Facilitator pun tak berhenti pada identifikasi masalah. Ia bergerak mencari solusi.
Ia teringat pada seorang kader yang pernah mengikuti pelatihan storytelling dalam photovoice dalam rangka community health worker empowerment. Namanya Ibu Prihatin. Namanya ternyata tak mencerminkan kesedihan belaka. Dengan senyum hangat dan semangat yang menyala, Ibu Prihatin bersedia mendampingi. Dalam waktu singkat, ia dipertemukan dengan kedua enumerator.
Berempat, mereka menuju Dusun Sumbernongko, sebuah wilayah dengan hamparan ladang tebu dan jalan makadam yang licin, membentang di perbukitan. Medan yang menantang itu menjadi metafora kecil dari kerja lapangan itu sendiri: tak selalu mulus, namun harus tetap ditempuh.

Di sanalah harmonisasi langkah diuji. Bagaimana enumerator berkoordinasi dengan kader, bagaimana komunikasi dibangun dengan warga, bagaimana protokol dijalankan tanpa mengabaikan empati. Field Facilitator berdiri tak sebagai pengontrol yang menghakimi, melainkan sebagai pengamat yang sigap memberi umpan balik dan memastikan keselamatan tim.
Supervisi semacam ini menegaskan satu hal, bahwa kualitas penelitian tak hanya ditentukan oleh instrumen, tetapi oleh manusia yang menggerakkannya. Dan manusia membutuhkan dukungan, bukan sekadar instruksi.
Ketika mendung tebal mulai menggantung di atas ladang tebu, Field Facilitator berpamitan. Dua enumerator melanjutkan tugas bersama Ibu Prihatin. Sementara itu, satu pelajaran kembali diteguhkan, bahwa pengawasan tak cukup hanya mendengar cerita dari balik meja. Ia harus hadir, menyapa, mengamati, dan menjadi problem solver di tengah medan yang sesungguhnya.
Karena pada akhirnya, data yang baik lahir dari proses yang dijaga. Dan proses yang terjaga lahir dari supervisi yang hidup. *** [270226]
Oleh: Budiarto Eko Kusumo | Editor: Budiarto Eko Kusumo