Menyatukan Peta Jalan Inovasi: Sinergi NIHR UB dan Dinkes Kabupaten Malang untuk Masa Depan Kesehatan Masyarakat

All you need is the plan, the road map, and the courage to press on to your destination.” — Earl Nightingale

Pagi itu, Kamis (26/02), langkah mantap Prof. Sujarwoto, S.IP., M.Si., MPA, Ph.D memasuki kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Malang menandai babak baru penguatan kolaborasi antara kampus dan pemerintah daerah.

Research Manager NIHR Global Health Research Centre for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) atau yang lebih dikenal sebagai NIHR UB itu datang bukan sekadar untuk bersilaturahmi, melainkan untuk merajut sinergi yang lebih kokoh dalam upaya pencegahan dan pengendalian penyakit tidak menular di Kabupaten Malang.

Sebelum pergantian tahun, Prof. Sujarwoto sebenarnya telah bertemu dengan Kepala Dinkes, drg. Wiyanto Wijoyo, M.M.Kes. Namun dinamika organisasi menghadirkan kebutuhan baru.

Menyatukan Peta Jalan Inovasi: Sinergi NIHR UB dan Dinkes Kabupaten Malang untuk Masa Depan Kesehatan Masyarakat
Tim NIHR UB beraudiensi dan menyampaikan agendanya dihadapan Kadinkes Kabupaen Malang di ruang kerjanya

Pergantian personel di Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P, seiring dengan purnatugasnya kepala bidang sebelumnya, membuka ruang koordinasi yang lebih intens. Kepala P2P yang baru ingin memahami secara menyeluruh program NIHR UB agar inovasi yang dirancang dapat berjalan beriringan dengan agenda strategis Dinkes.

Dalam kunjungan tersebut, Prof. Sujarwoto didampingi Koordinator Research Capacity Strengthening (RCS) dr. Holipah, Ph.D serta Field Facilitator NIHR UB. Meski agenda awal dirancang bertemu langsung dengan Kadinkes dan Kepala P2P, situasi dinamis mengubah arah pertemuan.

Kadinkes harus memenuhi panggilan Bupati, sementara Kepala P2P menghadiri undangan Komisi IV DPRD Kabupaten Malang. Pertemuan pun dipandu oleh Sub Koordinator PTM dan Keswa, Paulus Gatot Kusharyanto, SKM, bersama jajaran Substansi PTM dan Keswa yang selama ini terlibat aktif dalam program NIHR UB, seperti Bastamil Anwar Azis, S.Kep. Ners.; Imam Ghozali, S.Kep. Ners.; Wildan Adi Yatma, S.Psi.; dan Ulinai, S.IP.

Hadir pula Kepala Puskesmas Pagak, dr. Cynthia Aristi P.R., yang kebetulan berada di Dinkes saat itu. Di ruang pertemuan P2P, Prof. Sujarwoto memaparkan agenda besar NIHR UB, mulai dari program yang telah berjalan hingga rencana pengembangan ke depan.

Road map kegiatan dijelaskan secara runtut, memperlihatkan bagaimana riset, penguatan kapasitas, hingga implementasi di lapangan saling terhubung dalam satu kerangka perubahan.

Tim NIHR UB beraudiensi dengan jajaran Subtansi PTM dan Keswa Dinkes serta Kapus Pagak di Ruang Pertemuan P2P

Bagi jajaran Dinkes dan para kepala puskesmas, pemahaman atas peta jalan ini bukan sekadar informasi, melainkan fondasi kolaborasi. Program NIHR UB bahkan diproyeksikan menjadi salah satu inovasi unggulan Dinkes Kabupaten Malang. Karena itulah, komunikasi agenda menjadi kunci.

Sebagaimana dikatakan oleh Earl Nightingale (1921-1989), seorang pembicara dan penulis radio Amerika, yang sebagian besar membahas topik pengembangan karakter manusia, motivasi, dan keberadaan yang bermakna:

“Yang Anda butuhkan hanyalah rencana, peta jalan, dan keberanian untuk terus maju menuju tujuan Anda.”

Kutipan tersebut seakan menjadi benang merah pertemuan hari itu, bahwa perubahan tak cukup dengan niat baik, melainkan harus ditopang rencana yang jelas dan dipahami bersama.

Usai pertemuan pertama, Tim NIHR UB berencana melanjutkan diskusi dengan Kepala Puskesmas Bululawang, drg. Lely Kumalasari. Namun sebelum agenda dimulai, undangan audiensi dari Kadinkes datang. Di ruang kerja kepala dinas, paparan mengenai agenda dan road map NIHR UB kembali disampaikan, lengkap dengan proyeksi hingga beberapa tahun ke depan.

Respons positif pun mengemuka. Kadinkes menyambut baik gambaran program yang dinilai sistematis dan berorientasi dampak tersebut. Dukungan penuh dinyatakan, bahkan direncanakan agenda launching Program NIHR UB agar seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD), para camat, hingga kepala desa yang menjadi enumeration area dalam program tersebut dapat memahami dan terlibat aktif.

Tim NIHR UB beraudiensi dengan jajaran Substandi PTM dan Keswa Dinkes serta Kapus Bululawang di Ruang Pertemuan P2P

Selepas audiensi, penjelasan kembali diberikan kepada Kapus Bululawang, memastikan tidak ada simpul informasi yang terlewat. Tim NIHR UB juga berkomitmen melakukan kunjungan lanjutan ke masing-masing puskesmas untuk memperkuat implementasi di tingkat layanan primer. Pertemuan itu turut dihadiri staf Evapor Dinkes, Achwan Sarwono, S.Kom, yang mencerminkan keterlibatan lintas fungsi dalam mendukung keberhasilan program.

Menjelang siang, kunjungan pun usai. Di halaman parkir Dinkes, tim berpisah dengan langkah yang telah terpetakan. Prof. Sujarwoto dan dr. Holipah kembali ke Kampus UB, sementara Field Facilitator NIHR UB melanjutkan supervisi ke Tim Enumerator COM-B di Desa Pagak menjadi sebuah pengingat bahwa kerja kolaborasi tak berhenti di ruang rapat, tetapi berlanjut hingga ke masyarakat.

Koordinasi hari itu bukan sekadar agenda formal. Ia adalah upaya menyamakan visi, memperjelas arah, dan meneguhkan komitmen bersama. Sebab dalam kerja-kerja kesehatan masyarakat, peta jalan yang dikomunikasikan dengan baik kepada para pemangku kepentingan adalah langkah awal menuju perubahan yang berkelanjutan. *** [260226]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo     |     Editor: Budiarto Eko Kusumo

Leave a Comment