“Verify what’s on paper against what exists in reality.” — Njeri Kamau
Dalam sebuah riset lapangan, kualitas data tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak responden yang berhasil diwawancarai, tetapi juga oleh seberapa akurat dan patuh proses pengumpulannya terhadap protokol penelitian. Di sinilah peran audit spot check, atau yang dalam tradisi sejumlah lembaga penelitian dikenal sebagai verifikasi, menjadi krusial.
Audit spot check (pengecekan mendadak) merupakan metode supervisi lapangan untuk memastikan kepatuhan teknis para enumerator. Verifikasi ini dilakukan dengan mengunjungi lokasi penelitian secara tiba-tiba atau memeriksa data secara acak tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Dalam praktik pengumpulan data, mekanisme ini berfungsi sebagai penjaminan mutu guna memastikan integritas, akurasi, serta kepatuhan terhadap prosedur penelitian yang telah ditetapkan.
Berbagai studi dalam literatur metodologi riset menyebutkan bahwa tinjauan mendadak atau acak terhadap pekerjaan lapangan efektif untuk mendeteksi sekaligus mencegah kesalahan, kecurangan, dan penyimpangan prosedural, terutama dalam studi berskala besar yang melibatkan banyak enumerator dan wilayah kerja yang luas. Verifikasi bukanlah bentuk ketidakpercayaan, melainkan instrumen profesional untuk menjaga standar kualitas riset.
Sebagaimana ditegaskan oleh Njeri Kamau, Finance and Grants Management Specialist asal Kenya, “Verifikasi apa yang tertulis di atas kertas dengan apa yang ada di kenyataan.” Kutipan ini menegaskan esensi audit spot check untuk memastikan bahwa data yang tercatat benar-benar merepresentasikan kondisi di lapangan.

Verifikasi dalam Data Collecting COM-B
Dalam konteks data collecting COM-B, Field Facilitator NIHR Universitas Brawijaya (UB) menerima mandat dari Koordinator Lapangan (Korlap) COM-B, Yuf Tarosur Rohmah, S.Sos., M.A., untuk membantu melakukan verifikasi atau audit spot check terhadap hasil kerja enumerator. Tugas ini dijalankan selama dua hari yang terpisah, dengan menyusuri dua enumeration area: Bakalan dan Krebet.
Pada Senin (16/02), Field Facilitator mulai mencicil verifikasi di Bakalan. Selepas pukul 14.00 WIB, ia berhasil menjumpai tiga responden, satu di Kebonjati dan dua lainnya di lingkungan Dusun Banjarsari 1. Di Banjarsari 1, proses verifikasi didampingi oleh Kamituwo Abdul Hamid, S.Pd., yang turut membantu memastikan akses dan komunikasi dengan warga setempat.

Proses verifikasi sedianya akan dirampungkan hari itu. Namun, hujan lebat yang turun hingga malam hari menjadi kendala. Aktivitas akhirnya disudahi ketika suara adzan Maghrib terdengar, menandai penutupan hari pertama audit lapangan tersebut terhadap kiprah satu orang enumerator.
Verifikasi dilanjutkan pada Senin (23/02), sepulang dari supervisi Tim Enumerator COM-B di Kecamatan Bululawang. Kali ini, Field Facilitator menuju Desa Krebet. Didampingi kader Lilik Ati, verifikasi berhasil menjangkau empat responden di Dusun Bulupayung.

Apa yang Diverifikasi?
Dalam audit spot check tersebut, Field Facilitator tidak sekadar memastikan keberadaan responden. Sejumlah aspek teknis turut diperiksa secara detail, antara lain: keberadaan stiker NIHR di rumah responden sebagai penanda partisipasi; pemberian souvenir sesuai prosedur; pembacaan peraturan sebelum wawancara; kesesuaian durasi waktu wawancara dengan standar operasional; hingga pengulangan sejumlah pertanyaan kuesioner secara acak untuk menguji konsistensi jawaban.
Langkah ini penting untuk memastikan bahwa wawancara benar-benar dilakukan, berlangsung sesuai durasi yang wajar, serta mengikuti instrumen penelitian sebagaimana mestinya. Pengulangan pertanyaan secara acak juga menjadi cara efektif untuk mengonfirmasi validitas respons.

Menegakkan Standar, Menjaga Kepercayaan
Verifikasi lapangan adalah bentuk tanggung jawab ilmiah. Ia memastikan bahwa data yang nantinya dianalisis dan dijadikan dasar rekomendasi kebijakan benar-benar bersumber dari proses yang sahih dan dapat dipertanggungjawabkan.
Dalam riset, kepercayaan adalah fondasi. Dan audit spot check adalah salah satu cara paling konkret untuk menjaganya. Sebab pada akhirnya, seperti yang diingatkan oleh Njeri Kamau, verifikasi adalah tentang menyandingkan apa yang tertulis dengan apa yang sungguh terjadi di lapangan. *** [240226]
Oleh: Budiarto Eko Kusumo | Editor: Budiarto Eko Kusumo