“Forgiving and being forgiven frees our souls and lightens our load.” — Sara Dormon
Suasana hangat dan penuh keakraban menyelimuti Ruang Auditorium Lantai 6 Gedung A Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya pada Rabu (15/04). Sejak pukul 10.30 WIB, para peneliti, rekan peneliti, tenaga administrasi, hingga mahasiswa yang tergabung dalam program NIHR Global Health Research Center for Non-Communicable Diseases and Environmental Change (NIHR-GHRC NCDs & EC) mulai memenuhi ruangan. Mereka datang bukan sekadar menghadiri agenda formal, melainkan merayakan satu momen yang sarat makna: Halalbihalal UB–Climate and Health Center (UB-CHC).
Dipandu oleh Pembawa Acara Putrianti Adinda Salsabila, acara dibuka dengan ucapan “mohon maaf lahir dan batin”, sebuah kalimat sederhana yang menjadi inti dari tradisi halalbihalal. Dari sanalah, suasana mencair. Sekat-sekat formalitas perlahan luruh, digantikan oleh kehangatan silaturahmi yang tulus.

Dalam sambutannya, Centre Head NIHR UB, Prof. Dr. dr. Sri Andarini, M.Kes., Sp.KKLP, menyoroti peran strategis NIHR-GHRC NCDs & EC dalam mendorong kemajuan riset di lingkungan Universitas Brawijaya. Ia menyinggung capaian universitas yang kini semakin diperhitungkan di kancah global, naik dari peringkat 1000-an menjadi 600-an dunia. Sebuah lompatan yang kemudian dirangkum dalam jargon optimistis, berbunyi “UB Melesat.”
Semangat yang sama sebelumnya juga disampaikan oleh Research Manager NIHR UB, Prof. Sujarwoto, S.IP, M.Si, MPA, Ph.D. Ia menegaskan bahwa UB-CHC tidak hanya menjadi ruang kerja penelitian, tetapi juga wadah pembelajaran bagi mahasiswa dan peneliti muda. “Siapa pun yang ingin memulai karier dalam penelitian, UB-CHC bisa menjadi pilihan,” ujarnya.

Selepas sambutan, acara bertransformasi menjadi lebih cair. Satu per satu peserta memperkenalkan diri, dipandu oleh Koordinator CEI, Dr. Rizka Amalia, S.K.Pm., M.Si. Tawa mulai pecah saat sesi permainan dimulai dengan menciptakan interaksi yang lebih santai dan mempererat kebersamaan. Kemeriahan berlanjut hingga pembagian doorprize yang disambut antusias oleh para peserta.
Di penghujung acara, aroma hidangan makan siang menggoda dari lobby depan auditorium. Di meja panjang sisi timur, tersaji aneka menu sederhana namun menggugah selera, seperti nasi putih hangat, pecel, dadar jagung, tahu tempe, sate empal, hingga Bakso Sehat Watu Gong UB. Momen makan bersama ini menjadi penutup yang sempurna. Bukan hanya mengenyangkan, tetapi juga mengikat kebersamaan dalam suasana yang lebih intim.

Lebih dari sekadar tradisi tahunan, halalbihalal memiliki dimensi psikologis yang mendalam. Ia menjadi ruang “pembersihan emosional”, tempat di mana beban perasaan dilepaskan, kesalahpahaman diluruskan, dan hubungan yang sempat renggang kembali dipererat. Dalam konteks ini, halalbihalal bukan hanya seremoni, melainkan mekanisme sosial yang berkontribusi pada kesehatan mental dan kohesi komunitas.
Istilah halalbihalal memang unik. Meski terdengar seperti bahasa Arab, ia merupakan konstruksi khas Indonesia. Berasal dari kata “halal” yang disisipi “bi” (dengan), istilah ini memuat makna menyelesaikan persoalan, mencairkan yang beku, dan mengembalikan hubungan ke titik harmoni.

Penelitian juga menguatkan makna tersebut. Long et al. (2020) menyebutkan bahwa memaafkan adalah bentuk pengelolaan emosi yang penting yang menjadi sebuah “aset kesehatan” yang mampu menurunkan stres, kecemasan, dan depresi, sekaligus meningkatkan kesejahteraan psikososial. Dalam konteks inilah, Halalbihalal menemukan relevansinya, tidak hanya sebagai budaya, tetapi juga sebagai praktik kesehatan mental.
Sebagaimana diungkapkan Sara Dormon, seorang penulis asal Philadelphia, Amerika Serikat:
“Memaafkan dan dimaafkan membebaskan jiwa kita dan meringankan beban kita.”
Kalimat ini terasa hidup dalam setiap jabat tangan, senyum, dan tawa yang terjalin sepanjang acara.
Di ruang auditorium itu, Halalbihalal UB-CHC menjelma lebih dari sekadar pertemuan pasca-Idulfitri. Ia menjadi ruang pemulihan, bagi relasi, bagi emosi, dan bagi semangat untuk melangkah bersama ke depan. *** [150426]
Oleh: Budiarto Eko Kusumo | Editor: Budiarto Eko Kusumo