“Success is the sum of small efforts, repeated day in and day out.” — Robert Collier
Menjelang siang, Pendopo Balai Desa Krebet Senggrong yang terletak di Jalan Raya Krebet Senggrong No. 1, Dusun Krapyak Jaya, RT 17 RW 04, Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang, kembali menjadi ruang belajar sekaligus ruang bertumbuh. Bukan hanya tentang pelatihan teknis, tetapi tentang menyiapkan langkah lanjutan dari sebuah kerja lapangan yang belum sepenuhnya selesai.
Sepuluh kader kesehatan desa berkumpul, membawa pengalaman mereka dari interaksi sehari-hari dengan warga, untuk kemudian dipertajam melalui pelatihan yang akan mengantar mereka pada satu tugas penting: kembali menjangkau yang belum terjangkau.
Sekitar pukul 10.10 WIB, setelah menuntaskan pembagian Makanan Bergizi Gratis (MBG), sepuluh kader kesehatan desa berkumpul. Mereka adalah wajah-wajah yang akrab dengan denyut kehidupan warga: Anik Sukisti, Cahya Maharani, Desi Purwai, Dewi Yekti Sariningtyas, Lutfiati, Nur Hidayati, Rohana, Siti Zuhroh, Sunarsih, dan Uswatun Hasanah.

Di hadapan mereka, Tim Theme 1 Primary Health Care Strengthening NIHR UB – Fildzah Cindra Yunita, S.Kep., MPH; Dwi Sari Puspaningtyas, S.Gz., MSPH; Serius Miliyani Dwi Putri, SKM, M.Ked. Trop.; Meutia Fildzah Sharifira, SKM, MPH; Cornelia Feliciana Tedjomuljono (mahasiswa magang), dan Field Facilitator NIHR UB – hadir mendampingi dan membawa pengetahuan, sekaligus semangat kolaborasi.
Pelatihan dibuka oleh Meutia Fildzah Sharifira, lalu dilanjutkan dengan pengantar dari Field Facilitator NIHR UB yang selama ini menjadi jembatan antara program dan realitas lapangan. Ia menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar transfer keterampilan, melainkan “pemanasan” sebelum para kader kembali turun ke lapangan dalam misi yang lebih menantang, yaitu melakukan revisit.
Istilah revisit mungkin terdengar teknis, tetapi maknanya sangat sederhana, yakni kembali menyapa warga yang sebelumnya belum sempat dijangkau. Di Desa Krebet Senggrong, ada 99 warga yang belum terdata dalam aplikasi SMARThealth secara utuh. Angka itu bukan sekadar statistik, melainkan potret pekerjaan rumah yang harus diselesaikan bersama.

Di sinilah peran kader menjadi krusial. Mereka mengenal jalan-jalan kecil, memahami ritme kehidupan warga, bahkan hafal kebiasaan sehari-hari masyarakatnya. Sesuatu yang tak selalu dimiliki oleh enumerator dari luar daerah. Dengan bekal kedekatan itu, proses revisit diharapkan berjalan lebih efektif.
Secara metodologis, langkah ini berkaitan dengan peningkatan completion rate, sebuah ukuran penting dalam penelitian lapangan yang menunjukkan seberapa banyak data berhasil dikumpulkan secara tuntas.
Tingkat penyelesaian atau completion rate yang tinggi bukan hanya soal angka, tetapi tentang kualitas dan keandalan temuan. Sebaliknya, data yang tidak lengkap berisiko menghadirkan gambaran yang bias, bahkan menyesatkan dalam pengambilan keputusan.

Pelatihan yang dipandu oleh Dwi Sari Puspaningtyas pun dirancang praktis dan aplikatif. Para kader diajak memahami cara pengisian formulir persetujuan partisipan, termasuk untuk kondisi ketika warga tidak dapat menandatangani. Mereka juga dilatih menggunakan aplikasi SMARThealth, sebuah alat utama dalam pencatatan data digital yang akan digunakan saat revisit nanti.
Siangnya, suasana semakin dinamis. Para kader mempraktikkan pengukuran tekanan darah menggunakan perangkat digital OMRON, mulai dari pemasangan baterai hingga teknik penggunaan yang tepat. Tidak berhenti di situ, mereka juga belajar mengukur laju pernapasan dan kadar oksigen dalam darah menggunakan oksimeter, serta mencatat hasilnya secara sistematis.
Peralatan medis sederhana seperti lancet, alkohol swab, dan sarung tangan pun dibagikan sebagai bekal. Satu per satu kader mencoba login ke sistem dengan akun baru mereka yang memperlihatkan sebuah langkah kecil menuju sistem kerja yang lebih terintegrasi.

Pukul 13.06 WIB, pelatihan ditutup dengan foto bersama. Namun sesungguhnya, yang berakhir hanyalah sesi hari itu. Upaya sesungguhnya baru akan dimulai ketika para kader kembali menyusuri rumah-rumah warga, mengetuk pintu yang sempat terlewat, dan melengkapi potongan data yang belum tersusun utuh.
Dalam konteks ini, revisit bukan sekadar strategi teknis, melainkan bentuk ketekunan. Sebagaimana pernah dikatakan oleh Robert Collier (1885-1950), seorang penulis Amerika yang menulis buku-buku pengembangan diri dan metafisika New Thought pada abad ke-20:
“Kesuksesan adalah hasil dari usaha-usaha kecil yang diulang setiap hari.”
Usaha-usaha kecil itu kini berada di tangan para kader, yang dengan langkah sederhana, sedang merajut fondasi kesehatan masyarakat yang lebih kuat untuk dijalankan di Desa Krebet Senggrong. *** [170426]
Oleh: Budiarto Eko Kusumo | Editor: Budiarto Eko Kusumo