Saat Posyandu Dahlia 2 Desa Purwodadi Tak Lagi Hanya untuk Ibu dan Anak

Di tengah-tengah penutupan sejumlah jalan untuk cek sound, warga tetap terlihat antusias berdatangan ke rumah Bapak Roby di Dusun Tempurejo RT 05 RW 02, Desa Purwodadi, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi. Senin (9/8) itu terasa berbeda. Tempat yang biasanya menjadi tempat layanan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), pagi itu berubah menjadi ruang pelayanan kesehatan.

Seorang ibu datang menggendong balitanya. Warga lainnya mengambil tempat sambil menunggu giliran pemeriksaan. Ada pula lansia yang hadir untuk memastikan kondisi tubuhnya tetap terpantau. Di antara percakapan ringan warga, aktivitas para kader tampak sibuk melayani mereka yang datang.

Hari itu ada kegiatan Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP) Dahlia 2. Posyandu ILP membawa konsep yang sedikit berbeda dari posyandu yang selama ini dikenal masyarakat. Jika pelayanan posyandu sebelumnya lebih banyak berpusat pada ibu hamil, bayi, dan balita, Posyandu ILP memperluas jangkauan pelayanan berdasarkan siklus hidup.

Artinya, tidak hanya ibu dan anak yang menjadi perhatian. Remaja, orang dewasa, hingga lanjut usia juga memiliki ruang untuk mendapatkan pelayanan kesehatan di tempat yang sama.

Saat Posyandu Dahlia 2 Desa Purwodadi Tak Lagi Hanya untuk Ibu dan Anak
Suasana giat posyandu ILP Dahlia 2 di Dusun Tempurejo RT 05 RW 02 Desa Purwodadi, Kecamatan Gambiran, Kabupaten Banyuwangi

Konsep itu terasa sederhana, tetapi memiliki arti penting bagi warga. Layanan kesehatan yang hadir di lingkungan tempat tinggal membuat masyarakat tidak perlu selalu pergi jauh untuk memperoleh pemeriksaan dasar maupun informasi kesehatan.

Sejak pukul 08.30 hingga 11.00 WIB, bangunan mirip joglo milik  Bapak Roby menjadi titik temu antara kebutuhan kesehatan warga dan layanan yang tersedia di tengah masyarakat.

Enam kader Posyandu Dahlia 2 – Yesi Sasmika, Rika Rahmatul, Niswatun Nafisah, Ike Iswanti, Dian Anggraini, dan Irmawati – berada di garis depan kegiatan. Mereka membantu warga sejak proses pendaftaran, pencatatan, pengukuran, hingga mengarahkan warga kepada petugas kesehatan.

Di sisi lain, Bidan Oktavia Ayu, A.Md.Keb. dan Perawat Angga Mardika, A.Md.Kep. memberikan pemeriksaan, pelayanan, serta penyuluhan kesehatan sesuai dengan kebutuhan masing-masing kelompok usia.

Usai melakukan pengukuran antropometri, warga menanti kedatangan tenaga kesehatan dari Pustu Purwodadi untuk pemeriksaan

Bagi ibu hamil dan keluarga yang membawa balita, kehadiran posyandu menjadi kesempatan untuk memantau kesehatan sekaligus tumbuh kembang anak. Pemeriksaan menjadi bagian dari upaya mendeteksi kondisi kesehatan sejak dini.

Warga usia produktif pun tidak luput dari perhatian. Mereka dapat memanfaatkan pemeriksaan sekaligus memperoleh edukasi mengenai pentingnya menjaga kesehatan. Sementara bagi para lansia, pemantauan kondisi tubuh dan informasi kesehatan menjadi bagian penting agar mereka dapat menjalani masa tua dengan lebih sehat.

Di situlah wajah baru posyandu mulai terlihat. Posyandu tidak lagi sekadar tempat datang, menimbang, lalu pulang. Ia berkembang menjadi ruang interaksi kesehatan di tengah masyarakat.

Warga dapat bertanya mengenai kondisi kesehatan mereka, berbagi pengalaman, atau sekadar mendapatkan pengingat bahwa menjaga kesehatan tidak harus menunggu tubuh terasa sakit.

Pemberian vitamin A oleh bidan dari Pustu Purwodadi

Di balik pelaksanaan kegiatan tersebut terdapat kolaborasi antara kader Posyandu Dahlia 2 dan Pustu Purwodadi. Keduanya saling melengkapi. Para kader memiliki kedekatan dengan warga dan memahami lingkungan setempat, sedangkan tenaga kesehatan memberikan dukungan pelayanan serta pengetahuan medis yang dibutuhkan masyarakat.

Kolaborasi semacam ini menjadi modal penting agar Posyandu ILP tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Keberlanjutan pelayanan justru menjadi bagian penting dari cita-cita menghadirkan layanan kesehatan primer yang mudah dijangkau masyarakat.

Hingga layanan berakhir, sebanyak 45 warga tercatat mendapatkan pemeriksaan. Mereka terdiri atas satu ibu hamil, 33 balita, tiga warga usia produktif, dan delapan lansia.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Field Facilitator NIHR UB bersama tiga enumerator baseline survey Desa Purwodadi, yakni Naylil Nur Amalya Putri, S.Sos., Mega Wrida Silvia, SKM., dan Sinta Ningrum Widianingsih, SKM.

Perawat Pustu Purwodadi berikan obat bagi warga yang memiliki faktor risiko PTM tinggi (highrisk)

Bagi Posyandu Dahlia 2, angka 45 mungkin baru menjadi catatan awal. Namun, di balik angka itu ada 45 warga yang memilih meluangkan waktu untuk memeriksa kesehatan. Ada ibu yang membawa anaknya, ada lansia yang datang untuk memantau kondisi tubuhnya, dan ada keluarga yang mulai membangun kebiasaan untuk lebih peduli pada kesehatan.

Ke depan, Posyandu ILP Dahlia 2 diharapkan mampu menjadi garda terdepan pelayanan kesehatan masyarakat di RW 02 yang mencakup enam RT. Bukan hanya sebagai tempat pemeriksaan, tetapi juga sebagai ruang belajar dan berbagi tentang kesehatan.

Sebab, pelayanan kesehatan yang baik bukan hanya tentang tersedianya tenaga medis dan fasilitas. Ia juga tentang jarak yang dekat, pintu yang terbuka, serta warga yang merasa dilayani di lingkungan mereka sendiri.

Dari sebuah rumah di Dusun Tempurejo, langkah itu telah dimulai. Posyandu ILP Dahlia 2 hadir membawa pesan sederhana, yaitu semakin dekat layanan kesehatan dengan warga, semakin terbuka pula kesempatan bagi masyarakat untuk menjaga kesehatan sejak dini secara bersama-sama, dari lingkungan sendiri. *** [110826]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo     |     Editor: Budiarto Eko Kusumo

Leave a Comment