Teduh di Bawah Pepohonan, Posyandu ILP Flamboyan 3 Dekatkan Layanan Kesehatan Warga Sarimulyo

Pagi yang cerah ketika halaman rumah kader Nurma Hidayati mulai ramai. Rumah di Jalan Pahlawan, Dusun Cempokosari RT 02 RW 03, Desa Sarimulyo, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi itu tampak asri dan teduh.

Tiga pohon tabebuia kuning (Tabebuia aurea) berdiri berjajar di depan pagar. Di sebelah timurnya dekat pintu pagar, rumpun bambu kuning (Bambusa vulgaris ‘Striata’) tumbuh menghijau.

Teduh di Bawah Pepohonan, Posyandu ILP Flamboyan 3 Dekatkan Layanan Kesehatan Warga Sarimulyo
Lokasi giat Posyandu ILP Flamboyan 3 Desa Sarimulyo yang teduh dan asri

Memasuki halaman, pohon durian (Durio zibethinus) dan pule (Alstonia scholaris) menambah kesejukan. Enam pohon yang menghiasi halaman tersebut membuat teras rumah Nurma terasa nyaman sebagai tempat yang pagi di hari Rabu (12/08) itu berubah menjadi ruang pelayanan kesehatan masyarakat. Di sanalah Posyandu ILP Flamboyan 3 Desa Sarimulyo digelar.

Kegiatan dimulai pukul 08.00 WIB. Di sela libur aplikasi SMARThealth, Field Facilitator NIHR Universitas Brawijaya (UB) turut hadir menyaksikan pelayanan posyandu yang menyasar warga dari lima RT di dua RW. Wilayah RW 02 mencakup RT 02 dan RT 03, sedangkan RW 03 meliputi RT 01, RT 02, dan RT 03.

Begitu warga berdatangan, kader Susiami menyambut dan melakukan pendataan. Mereka dikelompokkan berdasarkan siklus hidup, mulai dari ibu hamil, balita, remaja, dewasa, hingga lansia.

Suasana giat Posyandu ILP Flamboyan 3 Desa Sarimulyo, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi

Setelah mendaftar, warga bergerak ke meja pengukuran antropometri. Di teras depan, kader Siti Batiyah dan Nurma Hidayati melakukan penimbangan berat badan serta pengukuran tinggi badan, lingkar kepala, lingkar lengan atas, dan lingkar perut. Data hasil pengukuran kemudian dicatat oleh kader Siti Utami melalui Buku KIA, KMS, maupun sistem pencatatan digital atau manual.

Rangkaian pelayanan berlanjut ke pemeriksaan kesehatan oleh tenaga kesehatan dari Pustu Sarimulyo. Bidan Lia Novita Sari melayani balita, termasuk pemberian vitamin dan konsultasi. Sementara itu, bidan Dian Vica menangani warga lanjut usia, antara lain melalui pemeriksaan tekanan darah serta pemberian obat bagi mereka yang terindikasi memiliki faktor risiko penyakit tidak menular (PTM), seperti hipertensi dan diabetes.

Di Posyandu ILP, pelayanan kesehatan tidak berhenti pada pemeriksaan dan pemberian obat. Setelah melewati sejumlah tahapan, warga juga memperoleh penyuluhan. Kader Narnik Endriati memberikan edukasi mengenai perilaku hidup sehat, terutama berdasarkan hasil skrining kesehatan yang telah dilakukan.

Pemberian vitamin A kepada balita oleh bidan Pustu Sarimulyo

Kegiatan tersebut turut dihadiri Kader Pemberdayaan Masyarakat (KPM) Lailatun Nafi’ah. Kehadiran para kader dan tenaga kesehatan menunjukkan bahwa posyandu bukan sekadar tempat menimbang balita atau mengukur tekanan darah. Ia menjadi ruang pertemuan warga dengan layanan kesehatan yang semakin menyeluruh.

Konsep tersebut sejalan dengan Integrasi Layanan Primer (ILP), salah satu bagian dari enam pilar transformasi kesehatan di Indonesia. Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 2015 Tahun 2023, ILP menata dan mengoordinasikan pelayanan kesehatan primer berdasarkan kebutuhan masyarakat dalam setiap siklus kehidupan, sejak janin, bayi, remaja, dewasa hingga lanjut usia.

Tujuannya adalah mendekatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat, dengan pendekatan promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif, dan/atau paliatif secara komprehensif dan berkualitas.

Salah seorang kader turut berkonsultasi dengan bidan Pustu Sarimulyo

Di Posyandu  Flamboyan 3, konsep itu hadir dalam suasana sederhana. Teras rumah kader, rindangnya pepohonan, meja pendaftaran, alat ukur antropometri, hingga ruang konsultasi menjadi bagian dari sebuah upaya mendekatkan kesehatan kepada warga.

Sekitar pukul 10.00 WIB, kegiatan pun berakhir. Sebanyak empat balita menerima vitamin A biru, 27 balita mendapatkan vitamin A merah, dan tujuh lansia memperoleh pelayanan kesehatan.

Pagi itu, rumah kader Nurma Hidayati kembali menjadi rumah biasa. Namun selama dua jam, halaman teduh di bawah tabebuia, bambu kuning, durian, dan pule telah menjadi ruang pelayanan kesehatan, yaitu tempat warga Sarimulyo datang, diperiksa, mendapat informasi, dan pulang membawa perhatian lebih terhadap kesehatan mereka. *** [120826]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo     |     Editor: Budiarto Eko Kusumo

Leave a Comment