Selamat Tinggal Sekretariat SMARThealth Dilem

Announcements SMARThealth

Every man’s memory is his private literature” — Aldous Huxley

Ada rumah-rumah yang sekadar menjadi bangunan. Ada pula rumah-rumah yang perlahan menjelma menjadi arsip kehidupan, tempat waktu menumpuk dalam bentuk cerita, perjumpaan, kerja keras, tawa, dan harapan. Sekretariat SMARThealth Dilem adalah salah satunya.

Ketika pertama kali ditempati pada 15 Juli 2016 [1], rumah itu hadir dalam kesederhanaannya. Belum ada mebelair yang lengkap. Ruangan-ruangan masih terasa lapang dan kosong, seolah menunggu kisah-kisah yang kelak akan mengisinya.

Meja dan kursi datang satu per satu dipesankan oleh Research Manager Sujarwoto, S.IP, M.Si, Ph.D (sekarang telah menyandang Profesor). Lemari mulai berdiri di sudut ruangan. Dokumen penelitian menumpuk perlahan. Kabel-kabel komputer menjalar di lantai. Dari ruang yang nyaris tanpa identitas, tumbuh sebuah site office yang hidup, tempat ide-ide tentang kesehatan masyarakat dirancang, diuji, diperdebatkan, dan diwujudkan. Di sanalah berbagai perjalanan penelitian bermula.

Hari-hari di Sekretariat SMARThealth Dilem tidak pernah benar-benar sepi. Pagi sering dibuka dengan diskusi tentang implementasi data collecting dan koordinasi lapangan, sementara sore menjadi waktu menyusun laporan daily progress guna memonitor capaian perolehan agar sesuai dengan apa yang diharapkan atau ditargetkan oleh para peneliti utama [2].

Penampakan Sekretariat SMARThealth Dilem usai penyerahan kunci kepada pemilik rumah pada Rabu (01/06)

Di sela-sela itu, selalu ada secangkir teh, canda ringan, atau percakapan yang melampaui urusan pekerjaan. Rumah kontrakan berhalaman luas milik miliarder Desa Dilem itu menjadi titik temu bagi begitu banyak orang.

Peneliti dari berbagai penjuru dunia pernah duduk di ruang tamunya. Nama-nama seperti Prof. Anushka Patel, Dr. Anna Palagyi, Dr. Devarsetty Praveen [3], dan Dr. Mohan P S Kohli [4] dari The George Institute for Global Health pernah hadir, membawa perspektif global yang memperkaya diskusi-diskusi lokal.

Demikian pula Prof. Delvac Oceandy, Prof. Gindo Tampubolon [5], dr. Asri Maharani, MMRS, Ph.D dari University of Manchester, serta Elizabeth Pisani [6], epidemiolog Inggris yang dikenal luas atas pemikiran-pemikirannya yang tajam.

Dari berbagai belahan dunia dan institusi, mereka datang bukan sekadar sebagai tamu, melainkan sebagai bagian dari percakapan panjang tentang upaya memahami dan memperbaiki kesehatan masyarakat.

Arsip dan perlengkapan SMARThealth dari Storage Dilem disiapkan di teras sisi barat

Jejak langkah juga datang dari berbagai lembaga penelitian dan pengembangan, seperti REDI dan Percik Institute. Ada pula Dr. Amalia Hasnida dari Erasmus Universiteit Rotterdam, Dosen Universitas Jember [7], serta seorang peneliti kopi dari Lebanon yang membawa cerita tentang biji-biji kopi dan masyarakat yang menghidupinya. Setiap kunjungan meninggalkan kesan tersendiri, seakan menambahkan satu paragraf baru dalam “sastra pribadi” yang ditulis oleh Sekretariat SMARThealth Dilem.

Namun kisah sekretariat ini tidak hanya ditulis oleh para akademisi dan peneliti ternama. Sebagian besar memorinya justru dibentuk oleh orang-orang yang datang dari berbagai daerah di Indonesia.

Tim Enumerator SOFIA [8, 9, 10], tim Mendengarkan Indonesia [11], enumerator SurveyMETER, LD-FEUI, Akademika, World Bank, dan berbagai tim lapangan lainnya pernah menjadikan tempat ini sebagai titik singgah. Mereka datang membawa cerita dari desa-desa, kota-kota kecil, dan komunitas-komunitas yang menjadi denyut nadi penelitian.

Di ruang yang sama, staf Dinas Kesehatan Kabupaten Malang berdiskusi tentang program kesehatan. Kader kesehatan dari Desa Sidorahayu, Karangduren, Kepanjen, Gondanglegi, dan Cepokomulyo berbagi pengalaman lapangan. Dari pertemuan-pertemuan itulah data berubah menjadi pengetahuan, dan pengetahuan perlahan menjadi kebijakan serta aksi nyata.

Mebelair juga keluar di hari pertama pengangkutan dengan truk berukuran kecil

Setiap orang meninggalkan jejaknya sendiri. Ada yang hanya singgah beberapa jam. Ada yang menetap beberapa hari. Ada yang datang sebagai kolega dan pulang sebagai sahabat.

Lalu datang masa yang mengubah banyak hal: pandemi COVID-19. Seperti banyak ruang kerja lainnya, Sekretariat SMARThealth Dilem ikut mengalami kesunyian yang belum pernah dikenal sebelumnya. Meja-meja yang dahulu ramai menjadi lengang. Kursi-kursi lebih sering kosong daripada terisi.

Aktivitas berpindah ke ruang virtual. Pada masa itu, penghuni sekretariat kembali menjadi satu orang. Namun bahkan dalam kesunyian, rumah itu tetap bekerja. Ia menjadi saksi dari berbagai diskusi daring, penyusunan laporan lapangan, koordinasi penelitian, dan upaya mempertahankan kerja-kerja kesehatan masyarakat di tengah situasi yang penuh ketidakpastian, bahkan kerap dilibatkan dalam pendampingan kader dalam mengunjungi pasien komorbit saat pandemi dengan menggunakan baju hazmat.

Waktu terus berjalan. Dinding-dinding yang dahulu kosong kini menyimpan lapisan kenangan yang tak terlihat. Setiap sudut memiliki cerita. Ada sudut tempat perencanaan lapangan pertama kali diselesaikan. Ada meja tempat laporan yang tampaknya mustahil akhirnya berhasil dituntaskan. Ada ruang tamu yang menjadi tempat lahirnya gagasan-gagasan baru dalam menangani dinamika lapangan. Ada pula halaman yang menyaksikan obrolan santai selepas diskusi panjang.

Pindahan kloter 1 pada Sabtu (16/05) untuk barang-barang yang ada di SMARThealth Storage dan Meeting Room serta Kamar besar

Karena itu, ketika kabar datang bahwa kontrakan tidak dapat diperpanjang lagi karena akan ditempati oleh putra pemilik rumah, perasaan yang muncul bukan sekadar urusan mencari kontrakan baru. Yang terasa adalah kesadaran bahwa sebuah babak sedang berakhir.

Tentu, penelitian akan terus berjalan. Program akan terus berlanjut. Pertemuan-pertemuan akan kembali berlangsung di tempat yang baru. Namun ada sesuatu yang tidak ikut berpindah bersama meja, kursi, komputer, atau berkas-berkas kerja. Yang tertinggal adalah lapisan memori yang selama sepuluh tahun menempel pada ruang-ruang itu.

Mungkin itulah yang dimaksud Aldous Huxley (1894–1963), sang penulis Brave New World (1932), ketika menulis, “Every man’s memory is his private literature.” Kenangan setiap orang adalah sastra pribadinya.

Sekretariat SMARThealth Dilem belum pernah menulis buku, kecuali panduan menggunakan aplikasi SMARThealth untuk kader. Ia tidak menerbitkan novel atau kumpulan puisi. Namun selama sepuluh tahun, ia telah menjadi tempat lahirnya ribuan halaman sastra yang tersimpan dalam ingatan orang-orang yang pernah datang dan bekerja di dalamnya.

Pindahan kloter kedua fokus pada barang-barang dapur, kamar mandi, dan sebagian barang di Kamar kedua pada Senin (18/05), sedangkan pindahan kloter ketiga, Selasa (19/05), fokus pada barang-barang yang ada di halaman

Sastra tentang persahabatan, pengabdian, pembelajaran, perjuangan lapangan, kegembiraan atas hasil penelitian, dan kecemasan menghadapi tenggat waktu. Sastra tentang secangkir teh di pagi hari, tentang diskusi yang berlangsung hingga petang, tentang tamu yang datang dari jauh, dan tentang keyakinan bahwa pekerjaan kecil yang dilakukan setiap hari dapat memberi manfaat bagi banyak orang.

Kini saatnya mengucapkan selamat tinggal. Bukan kepada kenangan, sebab kenangan tidak pernah benar-benar pergi. Ia akan tetap hidup dalam kisah yang terus diceritakan, dalam persahabatan yang tetap terjalin, dan dalam dampak yang telah ditinggalkan oleh kerja-kerja selama satu dekade.

Selamat tinggal, Sekretariat SMARThealth Dilem.

Terima kasih telah menjadi rumah bagi begitu banyak gagasan, pertemuan, dan harapan.

Dan seperti semua rumah yang baik, engkau mungkin akan ditinggalkan secara fisik, tetapi akan selalu dihuni oleh kenangan. Sebab pada akhirnya, bangunan hanyalah tempat. Yang menjadikannya berarti adalah cerita-cerita yang pernah hidup di dalamnya. *** [030626]

Oleh: Budiarto Eko Kusumo     |     Editor: Budiarto Eko Kusumo

Leave a Comment