“It is life, I think, to watch the water. A man can learn so many things.” — Nicholas Sparks, The Notebook
Suara gemericik air terdengar lirih di antara rimbun pepohonan ketika langkah kaki menyusuri jalan setapak menuju Sumber Kluwih, sebuah mata air yang berada di Dusun Banyuurip RT 07 RW 10, Desa Pagak, Kecamatan Pagak, Kabupaten Malang.
Siang itu, Kamis (11/06), di sela-sela kegiatan Posyandu ILP Melati 5 yang berlangsung di rumah kader balita Yulistyawati, kesempatan berharga datang untuk mengenal lebih dekat salah satu sumber kehidupan yang selama ratusan tahun menghidupi masyarakat setempat.

Bersama dua enumerator etnografi, Muhammad Kanda Setia Putra, S.IP. dan Fitri Adilla Ningrum, S.E., perjalanan singkat mengelilingi Dusun Banyuurip menghadirkan kisah yang jauh lebih panjang daripada usia para pengunjungnya. Kisah tentang air, sejarah, dan ketangguhan masyarakat yang hidup berdampingan dengan bentang alam karst.
Bagi banyak orang, kawasan karst identik dengan kekeringan. Karakteristik batuan kapur yang mudah larut membuat air permukaan sulit bertahan. Hujan yang turun biasanya segera meresap ke dalam tanah melalui retakan-retakan batuan, lalu mengalir jauh di bawah permukaan. Karena itulah, sungai-sungai besar jarang ditemukan di wilayah semacam ini.
Namun Banyuurip seolah menghadirkan pengecualian yang menarik. Di tengah lanskap perbukitan karst yang mendominasi sebagian wilayah Desa Pagak, Dusun Banyuurip justru dianugerahi kelimpahan air.

Dusun yang terdiri atas sembilan RT dan tiga RW ini memiliki tidak kurang dari dua belas sumber mata air yang tersebar di berbagai titik. Salah satunya adalah Sumber Kluwih, yang hingga kini terus mengalir dan menjadi penopang kehidupan masyarakat.
Secara ilmiah, keberadaan sumber-sumber (mata air) tersebut merupakan hasil proses alam yang berlangsung selama ribuan tahun. Air hujan yang meresap ke dalam tanah membawa karbon dioksida dan membentuk larutan asam karbonat lemah.
Larutan ini secara perlahan melarutkan batuan karbonat, memperbesar rekahan dan lorong bawah tanah. Proses yang dikenal sebagai pembentukan karst itu kemudian menciptakan jalur-jalur air yang pada titik tertentu muncul kembali ke permukaan sebagai mata air.

Di Banyuurip, proses alam tersebut bekerja dengan sangat baik. Bukannya kekurangan air, masyarakat justru hidup berdampingan dengan sumber-sumber air yang melimpah. Tidak mengherankan jika nama Banyuurip sendiri menyimpan makna yang begitu dalam.
Dalam bahasa Jawa, banyu berarti air, sedangkan urip berarti hidup. Banyuurip dapat dimaknai sebagai “air kehidupan” atau “sumber kehidupan yang berasal dari air”. Nama itu bukan sekadar penanda wilayah, melainkan cerminan hubungan erat antara masyarakat dengan mata air yang menghidupi mereka.
Menurut Babad Sejarah Dusun Banyuurip Desa Pagak yang disusun Eko Sugeng Cahyono (2013), kisah penamaan tersebut berakar pada perjalanan para pembuka wilayah pada abad ke-17. Diceritakan bahwa Eyang Soekerto, Roro Indeng, dan Singo Barong melakukan perjalanan panjang dari wilayah Mataram (Yogyakarta dan Surakarta) ke kawasan yang berada di sebelah selatan Sungai Brantas.

Perjalanan itu sempat mengalami kesulitan pada musim kemarau panjang. Air menjadi barang yang sangat sulit ditemukan. Berhari-hari mereka menyusuri lembah dan mendaki perbukitan karst tanpa menemukan sumber kehidupan yang dicari. Hingga akhirnya, pencarian itu berujung pada sebuah penemuan yang mengubah segalanya.
Mereka menemukan dua mata air besar. Yang pertama adalah Sumber Trubus di Dusun Banyuurip RT 04 RW 09. Nama “Trubus” diberikan karena banyaknya tanaman yang sedang bertunas atau bersemi di sekitar sumber tersebut. Yang kedua adalah Sumber Kluwih, yang dinamai berdasarkan keberadaan pohon kluwih (Artocarpus camansi) berukuran sangat besar yang tumbuh di dekat mata air saat pertama kali ditemukan.
Dua sumber itulah yang kemudian menjadi alasan para perintis atau bedah krawang tersebut menetap. Di tengah kerasnya kawasan karst, mereka menemukan sesuatu yang paling berharga, yaitu mata air.

Sejak saat itu, wilayah tersebut berkembang menjadi permukiman yang kini dikenal sebagai Dusun Banyuurip. Jika dihitung dari masa awal penamaannya, usia Banyuurip telah melampaui tiga setengah abad. Sebuah perjalanan panjang yang terus dikenang melalui tradisi bersih dusun yang masih dilaksanakan setiap tahun di kedua mata air tersebut.
Di Sumber Kluwih hari ini, suasananya tidak lagi seramai masa lalu. Dahulu, bak penampungan di sekitar sumber menjadi tempat warga mengambil air secara langsung. Orang-orang datang membawa jeriken, ember, atau wadah lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga mereka, serta mencuci maupun mandi di situ.
Kini pemandangan itu telah berubah. Air dari mata air disalurkan melalui jaringan pipa dan selang menuju rumah-rumah penduduk. Sistem yang lebih praktis ini membuat aktivitas pengambilan air tidak lagi terpusat di sumber. Akibatnya, kawasan Sumber Kluwih menjadi lebih tenang dan lengang. Meski demikian, hubungan masyarakat dengan sumber mata air tidak pernah benar-benar putus.

Di balik perubahan sistem distribusi air, berbagai kearifan lokal tetap dipertahankan. Tradisi membersihkan area mata air, menjaga kebersihan lingkungan sekitar, hingga pelaksanaan ritual dan sesaji dalam momentum tertentu masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Nilai-nilai tersebut menunjukkan bahwa bagi warga Banyuurip, mata air bukan sekadar sumber air baku, melainkan warisan leluhur yang harus dihormati dan dijaga keberlangsungannya.
Barangkali di situlah makna terdalam dari Sumber Kluwih. Air yang mengalir dari perut bumi karst bukan hanya memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga membawa ingatan kolektif tentang perjuangan para pendahulu yang menemukan kehidupan di tengah kekeringan. Air menjadi penghubung antara masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Ketika berdiri di tepi Sumber Kluwih dan memperhatikan aliran air yang tak pernah berhenti, kutipan Nicholas Sparks dalam novel The Notenook (1996) terasa menemukan relevansinya:
“Menurutku, mengamati air adalah hidup. Manusia bisa belajar banyak hal darinya.”
Di Banyuurip, air mengajarkan tentang ketekunan alam yang bekerja selama ribuan tahun. Air mengajarkan tentang perjuangan manusia yang terus mencari harapan di tengah keterbatasan. Dan yang terpenting, air mengajarkan bahwa kehidupan akan selalu menemukan jalannya, bahkan di tengah bentang karst yang tampak gersang sekalipun di kala masuk musim kemarau. *** [210626]
Oleh: Budiarto Eko Kusumo | Editor: Budiarto Eko Kusumo